View Full Version
Selasa, 09 Mar 2010

Perbedaan Ahli Tauhid Dengan Musyrik (5) Tamat

Kufur Terhadap Thaghut Termasuk Syarat La Ilaha Illallaah

Allah, Dzat yang Mahabenar dan Mahatinggi berfirman,

فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطّاغُوتِ وَيْؤْمِن بِاللّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىَ لاَ انفِصَامَ لَهَا وَاللّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

"Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. Al Baqaah: 256)

Imam al Baghawi dalam tafsrinya berkata, "(barangsiapa yang kufur terhadap thaghut) yakni Syetan, dan pendapat lain, setiap yang diibadahi selain Allah."

Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya berkata, "dan firman Allah (Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah) maksudnya adalah siapa yang berlepas diri dari tuhan-tuhan yang dijadikan tandingan bagi Allah dan berhala-berhala serta dari setiap seruan syetan untuk beribadah kepada sesuatu yang disembah selain Allah, (di saat itu juga) dia mentauhidkan Allah, beribadah hanya kepada-Nya, dan bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Dia, (maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat), maknanya sungguh dia telah teguh (benar) dalam urusannya dan istiqamah di atas jalan yang terbaik dan jalan yang lurus (shirath mustaqim)."

Thaghut: :

- Syetan

- Setiap yang diibadahi selain Allah.

- Setiap yang melampaui batas terhadap Allah, bentuknya diibadahi selain Allah, . .

 

Imam al Thabari rahimahullah dalam tafsirnya berkata, "menurutku pendapat yang benar tentang thaghut adalah setiap yang melampaui batas terhadap Allah, bentuknya diibadahi selain Allah, baik itu dengan memaksa orang yang beribadah padanya atau dengan ketaatan (ketundukan) orang yang beribadah kepadanya. Baik yang diibadahi itu adalah manusia, syetan, berhala, patung, atau apa saja."

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Malik, dari bapaknya yang berkata: aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَكَفَرَ بِمَا يُعْبَدُ مِنْ دُونِ اللَّهِ حَرُمَ مَالُهُ وَدَمُهُ وَحِسَابُهُ عَلَى اللَّهِ

"Siapa yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallaah (tiada yang berhak diibadahi kecuali hanya Allah) dan kufur terhadap apa saja yang diibadahi selain Allah, maka Allah haramkan harta dan darahnya sedangkan hisabnya ada pada Allah." dalam riwayat Imam Ahmad, "siapa yang mentauhidkan Allah dan kufur (ingkar) terhadap apa saja yang diibadahi selain Allah . . "

Pengarang Fath al Majid berkata, "sabdanya (Siapa yang berkata Laa Ilaaha Illallaah dan kufur terhadap apa saja yang diibadahi selain Allah) ketahuilah, dalam hadits ini, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengaitkan adanya 'ishmah (terjaganya) harta dan darah dengan dua hal:

Pertama, ucapannya Laa Ilaaha Illallaah berdasarkan ilmu dan keyakinan, sebagaimana yang disyaratkan ketika mengucapkannya dalam hadits yang telah lalu.

Kedua, kufur terhadap apa saja yang diibadahi selain Allah. Tidak cukup hanya dengan ucapan semata yang kosong dari makna, tapi harus diucapkan dan diamalkan.

Dalam ayat (Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus), adalah penjelasan yang indah tentang makna Laa Ilaaha Illallaah. Hanya mengucapkannya tidak menjadikan adanya ishmah (terjaganya) harta dan darah. Belum cukup juga walau dengan mengatahui maknanya, mengikrarkannya, tidak beribadah kecuali hanya kepada Allah semata yang tidak sekutu bagi-Nya. Bahkan, tidaklah terlindungi darah dan hartanya sehingga dia kufur terhadap apa saja yang diibadahi selain Allah. Jika dia ragu maka harta dan darahnya tidaklah dilindungi. Ini merupakan jawaban dan penjelasan yang sangat jelas dalam persoalan ini.

. . . Bahkan, tidaklah terlindungi darah dan hartanya sehingga dia kufur terhadap apa saja yang diibadahi selain Allah. . .

Ini merupakan syarat sah bagi kalimat Laa Ilaaha Illallaah. Tidak sah sehingga kelimanya diwujudkan. Allah Ta'ala berfirman,

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ

"Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah." (QS. Al Anfal: 39)

فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِينَ حَيْثُ وَجَدْتُمُوهُمْ وَخُذُوهُمْ وَاحْصُرُوهُمْ وَاقْعُدُوا لَهُمْ كُلَّ مَرْصَدٍ فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآَتَوُا الزَّكَاةَ فَخَلُّوا سَبِيلَهُمْ

"Maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian. Jika mereka bertobat dan mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan." (QS. Al Taubah: 5)

Allah memerintahkan untuk membunuh orang-orang musyrikin sehingga mereka bertaubat dari kesyirikan, memurnikan amal ibadah mereka untuk Allah Ta'ala, menegakkan shalat, dan menunaikan zakat. Jika mereka menolak dari semua itu atau sebagiannya, maka mereka diperangi berdasarkan ijma'. (Fathul Majid: 35)

Allah memerintahkan untuk membunuh orang-orang musyrikin sehingga mereka bertaubat dari kesyirikan, memurnikan amal ibadah mereka untuk Allah Ta'ala, menegakkan shalat, dan menunaikan zakat.

Meninggalkan syirik harus dengan sadar dan didasari ilmu. Sedangkan berlepas diri dari syirik merupakan syarat merealisasikan tauhid.

Allah Ta'ala berfirman,

فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآَتَوُا الزَّكَاةَ فَخَلُّوا سَبِيلَهُمْ

"Jika mereka bertaubat dan mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan." (QS. Al Taubah: 5)

Imam al Qurthubi rahimahullah berkata, (jika mereka bertaubat), yaitu dari syirik (dan mendirikan shalat dan menunaikan zakat maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan). Ayat ini membutuhkan perhatian lebih, karena Allah mengkaitkan perang dengan syirik. Kemudian berfirman, (jika mereka bertaubat), pada dasarnya perang dilakukan kalau ada kesyirikan, jika syirik hilang maka hilang pula perang.

Imam al Thabari berkata, (jika mereka bertaubat); jika mereka meninggalkan kesyirikan mereka dan penentangan terhadap kenabian Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, lalu mentauhidkan Allah dan mengikhlaskan ibadah kepada-Nya, tanpa memberikan ibadah itu kepada tuhan-tuhan dan tandingan-tandingan selain Allah, serta mereka mengakui kenabian Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.

Sedangkan firman Allah:

فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآَتَوُا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ

"Jika mereka bertobat, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama." (QS. Al Taubah: 11)

Dan firman-Nya:

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ

"Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah." (QS. Al Anfal: 39)

Imam Ibnu Katsir berkata, "Adz Dzahak berkata dari Ibnu Abbas, (Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah) yakni tidak ada kesyirikan. Demikian juga pendapat Abul 'Aliyah, Mujahid, al Hasan, Qatadah, al Rabi' bin Anas, as Sudi, Muqatil bin Hayan, dan Zaid bin Aslam. Muhammad bin Ishaq berkata, disampaikan kepadaku dari al Zuhri, dari Urwah bin Zubair, dan dari ulama kami yang lain, (supaya jangan ada fitnah) yaitu sehingga seorang muslim tidak terfitnah dalam agamanya.

Dan firmannya (dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah), Imam adz Dzahak berkata, dari Ibnu Abbas, "mengikhlakan tauhid untuk Allah. Sedangkan menurut al Hasan, Qatadah, dan Ibnu Juraij; makna (dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah) adalah supaya mereka mengucapkan Laa Ilaaha Illallaah. Muhammad bin Ishaq berkata, sehingga tauhid hanya untuk Allah, tiada kesyirikan di dalamnya serta ditinggalkan segala tuhan selain Allah. Abdul Rahman bin Zaid bin Aslam berkata, (dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah) tidak ada kekufuran -yang hidup- bersama agama kalian.

Al Baghawi dalam tafsirnya berkata, "(Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah) maksudnya adalah syirik. Al Rabi' berkata, "sehingga seorang mukmin tidak terfitnah dalam agamanya. (Dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah) maksudnya sehingga dien hanya bagi Allah, tidak ada kesyirikan di dalamnya. (Jika mereka berhenti) dari kekufuran, (maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan)."

Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahihnya dari Ibnu Umar radliyallah 'anhuma, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ فَإِذَا فَعَلُوا عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلَّا بِحَقِّهَا وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ

"Saya telah diperintahkan untuk memerangi manusia sehingga mereka bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak diibadahi selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Apabila mereka telah melakukan itu, maka mereka telah melindungi dariku darah dan harta mereka kecuali dengan haknya dan hisab mereka ada pada Allah." (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah radliyallah 'anhu, berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "saya diperintahkan untuk memerangi manusia sehingga mereka mengucapkan Laa Ilaaha Illallaah. Siapa yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallaah maka darah dan jiwanya terlindungi dariku kecuali dengan haknya dan hisab mereka ada pada Allah." (Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa'i, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad)

Dari Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Saya diperintahkan untuk memerangi manusia sehingga mereka bersaksi tiada ilah yang berhak disembah kecuali hanya Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, mereka berkiblat dengan kiblat kami dan memakan sembelihan kami  serta shalat sebagaimana shalat kami. Jika mereka telah melaksanakan itu, maka darah dan harta mereka haram atas kami kecuali dengan haknya. Mereka memiliki hak dan kewajiban sebagaimana kaum muslimin." (HR. Bukhari, Tirmidzi, Nasai, Abu Dawud, dan Ahmad)

Dari Ibnu Umar radliyallah 'anhu berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "aku diutus mendekati hari kiamat dengan membawa pedang sehingga Allah semata yang diibadahi, tiada sekutu bagi-Nya. Rizkiku dijadikan berada di bawah kilatan tombakku. Dan dijadikan hina dan kecil orang yang menyelisihi perintahku. Dan barangsiapa menyerupai suatu kaum dia bagian dari mereka." (HR. Ahmad)

Dari perkataan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, dapat dipahami bahwa pedang tidak pernah ditarik dari kepala-kepala kaum musyrikin sehingga mereka bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, dan menunaikan hak-hak dan kewajibannya. Dan juga dengan sikap komitmen mereka terhadap kalimat itu dan mengambil hukum dari Allah semata, tiada sekutu dan tandingan bagi-Nya.

Abu Thiin berkata, "Maka maksud dari kalimat Laa Ilaaha Illallaah adalah berlepas diri syirik dan ibadah kepada selain Allah. Musyrikin Arab memahami maksud ini, karena mereka berbicara bahasa Arab. Jika salah seorang mereka berucap, "Laa Ilaaha Illallaah", maka berarti dia telah berlepas diri dari syirik dan ibadah kepada selain Allah. Jika dia mengucapkan Laa Ilaaha Illallaah, tapi masih saja beribadah kepada selain Allah, maka dia tidak terlindungi oleh kalimat ini berdasarkan firman Alllah, "(Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah.)" yaitu syirik.

Firman Allah, "(dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah)" dan firman-Nya, "(Dan perangilah mereka di mana saja engkau dapati mereak – sampai ayat - Jika mereka bertaubat dan mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan.)" Serta sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, "aku diutus mendekati hari kiamat dengan membawa pedang sehingga Allah semata yang diibadahi, tiada sekutu bagi-Nya." Semua itu adalah makna dari firman Allah,

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ

"Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu –ketaatan- semata-mata untuk Allah." (QS. Al Anfal: 39) dan ini adalah makna kalimat Laa Ilaaha Illallaah. (Majmu' al Rasail wa al Masail: 5/495)

. . . bahwa perang dalam Islam, tujuannya agar mentauhidkan Allah semata dalam ibadah. Dia saja yang diibadahi karena tiada sekutu bagi-Nya. . . .

Ketahuilah wahai saudari yang  bertauhid, semoga Allah merahmati Anda, bahwa perang dalam Islam, tujuannya agar mentauhidkan Allah semata dalam ibadah. Dia saja yang diibadahi karena tiada sekutu bagi-Nya. Berlepas diri (meninggalkan, membenci, dan memusuhi) segala tuhan-tuhan yang dijadikan tandingan bagi Allah, baik berupa manusia, jin, pohon, dan batu yang disembah selain-Nya. Untuk inilah, Allah mengutus para rasul, menurunkan kitab-kitab, serta mengadakan kenikmatan surga, namun kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.

Oleh : Abu Qutaibah al Syaami.

(PurWD/voa-islam.com)

Tulisan Terkait:

* Perbedaan Ahli Tauhid Dengan Musyrik (4)

* Perbedaan Ahli Tauhid Dengan Musyrik (3)

* Perbedaan Ahli Tauhid dengan Musyrik (2)

* Perbedaan Ahli Tauhid Dengan Musyrik (1)


latestnews

View Full Version