View Full Version
Selasa, 30 Jul 2013

Perbedaan Maaf & Ampunan Allah

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam teruntuk Rasulullah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.

Meminta maaf adalah salah satu dari isi doa di malam Lailatul Qadar. Diawali dengan memanggil Allah dan menyebut nama-Nya al-‘Afuww (mahapemaaf) yang menunjukkan Allah memiliki sifat pemaaf. Lantas apa berbedaan maaf-nya Allah dengan maghfirah (ampunan)-Nya? Di mana Allah juga namakan Diri-Nya dengan Al-Ghaffar yang menunjukkan sifat pemberi ampunan.

Pada dasarnya, semua nama Allah adalah sangat baik. Tapi al-'Afuww (maaf) itu memiliki makna lebih dalam daripada maghfirah. Karena maghfirah adalah ampunan dosa namun dosa itu masih ada. Dosa tersebut ditutupi oleh Allah di dunia, sementara di akhirat nanti ditutupi dari pandangan makhluk. Sehingga Allah tidak menyiksa seseorang dengan dosa tersebut, tapi dosa itu masih ada.

Adapun maaf, maka dosa yang dilakukan hamba sudah tidak ada. Kayak-kayaknya ia tidak pernah melakukan kesalahan. Karena dosa itu telah dihilangkan dan dihapuskan sehingga bekasnya tidak lagi terlihat. Dari sisi ini, pemberian maaf lebih istimewa.

Maka jika dikaitkan dengan isi doa Malam Lailatul Qadar, seseorang yang melakkan dosa-dosa kecil dan ia tidak banyak ibadah di Lailatul Qadar atau tidak mendapatkannya, maka ia datang di hari kiamat akan mendapati Allah sebagai Mahapengampun. Namun nanti dosa-dosa itu akan ditampakkan dan disuruh ia mengakuinya. Berbeda dengan yang -boleh jadi- melakukan dosa besar, lalu ia bertaubat, giat ibadah di Lailatul Qadar sehingga mendapatkannya, maka di hari kiamat ia memperoleh maaf. Allah Mahapemaaf tidak lagi menyebutkan kesalahan-kesalahannya, karena sudah dihapuskan. Adapun al-Ghafur (Mahapengampun), terkadang dosanya masih disebut dan dinampakkan, namun Dia tidak menyiksa/menghukum karenanya.

Perbedaan keduanya, terlihat jelas dalam dua hadits berikut ini: hadits tentang datangnya seorang hamba pada hari kiamat, lalu Allah Tabarakan wa Ta'ala berfirman kepadanya: “Wahai hamba-Ku, mendekatlah!” Maka hamba tadi mendekat. Lalu Allah menurunkan tabir penutup atasnya, dan bertanya padanya: “Apakah kamu ingat dosa ini? Apakah kamu ingat dosa itu?” -Dan ini menunjukkan bahwa bekas dosa itu masih ada dalam catatan amal-. Lalu hamba tadi menjawab, “Ya, masih ingat wahai Rabb.” Hamba tadi mengira akan binasa. Lalu Allah berfirman padanya: “Aku telah tutupi dosa itu atasmu di dunia, dan hari ini Aku beri ampunan atas dosa itu untukmu.” Ini adalah maghfirah.

Sedangkan al-'afuww (pemaafan atas dosa), maka Allah akan berfirman pada hari kiamat kepada seseorang yang telah dimaafkan-Nya, “Wahai fulan, Sesungguhnya Aku telah ridha kepadamu karena perbuatanmu di dunia, Aku telah ridha kepadamu dan memaafkanmu, maka pergilah dan masuklah ke dalam surga.”

Al-‘Afuww adalah apa yang didapatkan hamba pada hari kiamat, saat Allah berfirman kepadanya: “Wahai hambaku, berangan-anganlah dan berkeinginanlah, maka sungguh Aku telah mengampunimu. Maka tidaklah engkau berangan-angan terhadap sesuatu kecuali aku berikan kepadamu itu.”

Maka jelaskan keistimewaan maaf dari Allah sehingga Allah tidak akan menimpakan keburukan atas kesalahan dan dosa hambanya. Bahkan bisa dikatakan, kebutuhan mereka kepada maaf Allah lebih daripada kebutuhan mereka kepada makan dan minum. Kenapa? Karena kalau tidak memberikan maaf kepada penduduk bumi, niscaya hancur dan binasalah mereka semua dengan dosa-dosa mereka.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman,

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

Dan apa musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Al-Syuura: 30)

Imam Ibnu Katsir berkata tentang ayat ini, maksudnya: Apa saja yang menimpamu wahai manusia dari berbagai musibah sesungguh itu disebabkan kesalahan-kesalahan yang telah engkau lakukan. (dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu), maksudnya: dari kesalahan-kesalahan sehingga Allah tidak membalas (menghukum) kalian atas kesalahan-kesalahan tersebut, tetapi Dia memaafkanya.”

Kemudian beliau menyebutkan firman Allah,

وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِمَا كَسَبُوا مَا تَرَكَ عَلَى ظَهْرِهَا مِنْ دَابَّةٍ

Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia karena sebab perbutan mereka, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu makhluk yang melata pun.” (QS. Faathir: 45)

Sifat maaf Allah adalah maaf yang lengkap, lebih luas dari dosa-dosa yang dilakukan hamba-Nya. Apalagi kalau mereka datang dengan istighfar, taubat, iman, dan amal-amal shalih yang menjadi sarana untuk mendapatkan maaf Allah. Sesungguhnya tidak ada yang bisa menerima taubat para hamba dan memaafkan kesalahan mereka dengan sempurna kecuali Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Tiga tingkatan makna yang terkandung dalam maaf-Nya Allah yang kita minta: pertama, menghilangkan dan menghapuskan. Kedua, lalu ridha. Ketiga, diikuti memberi. Maka Allah Subhanahu wa Ta'ala menghilangkan, menghapuskan dosa-dosa hamba-Nya dan bekas dosa tersebut. Lalu Allah meridhai mereka. Kemudian sesudah meridhai, Dia memberi yang terbaik (maaf) tanpa mereka memintanya.

Mewujudkan maaf ini seorang hamba diperintahkan untuk memiliki sifat pemaaf. Tidak membalas keburukan orang lain terhadap dirinya dengan keburukan serupa, apalagi dengan keburukan yang lebih besar. Tapi ia sabar-sabarkan diri dari marah atas sikap buruk orang lain terhadap dirinya, lalu ia maafkan kesalahan-kesalahan mereka, dan ia balas keburukan mereka dengan kebaikan. Karena balasan sesuai dengan jenis amal. Siapa yang banyak memaafkan maka Allah akan banyak memberi maaf kepadanya. Wallahu A’lam. [PurWD.voa-

Tulisan Terkait:

1. Tanda-tanda Malam Lailatul Qadar

2. Ramadhan Mendidik Menjadi Pemaaf

3. Macam-macam Sikap Muslim Saat Dizalimi

4. Apakah Harus Melampiaskan Amarah Kepada Orang yang Menyakiti?

5. Perbanyaklah Membaca Doa Ini di Malam Lailatul Qadar


latestnews

View Full Version