View Full Version
Selasa, 22 Dec 2015

12 Rabi'ul Awal Hari Wafatnya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam

Oleh: Badrul Tamam

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulullah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.

Para ahli tarikh Islam berbeda pendapat tentang tanggal lahirnya Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Sebagian berpendapat di luar Rabi’ul Awal. Mayoritas mereka berpendapat di Rabi’ul Awal, awal tahun gajah, 571 M.

Para ulama muarrihin (ahli tarikh) berbeda pendapat tanggal pastinya; apakah 2, 8, 9, atau 12 Rabi’ul Awal.

Syaikh Shafiyyur Rahman Al-Mubarakfuri, mengatakan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam dilahirkan di perkampungan Bani Hasyim, di Makkah, hari Senin, 09 Rabi’ul Awal pada awal tahun gajah. (Rahiqul Makhtum: 61)

Dalam kitab yang sama, Al-Mubarakfuri mencatat pula bahwa Senin 12 Rabi’ul Awal 11 Hijriyah adalah hari wafatnya Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Tepatnya saat Matahri Dhuha sudah terasa menyengat.

Beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam telah menjalani akhir hayat terbaik, Husnul Khatimah. Bagi siapa yang ingin meraih husnul hatimah hendaklah meneladani Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam dalam menjalani hidup; khususnya di usia-usia senja. Karena nilai seseorang ditentukan di akhir hayatnya, sebagaimana dalam hadits yang shahih :

إنَّما الأَعْمَالُ بِالخَـوَاتِيْمُ

Sesungguhnya amalan itu (tergantung) dengan penutupnya.” (HR. Bukhari)

Yaitu meluruskan akidah, memperbanyak ibadah, dan memperbaiki hubungan baik dengan manusia (akhlak mulia). Dan telah dicatat di riwayat shahihah, beliau telah memperbanyak ibadah, zikir, dan tilawah di tahun terahir dari kehidupannya. Beliau wafat di pangkuan istrinya. Sebelum wafat beliau juga bersiwak dengan kaifiyah terbaik. Kalimat-kalimat terakhir beliau juga sangat indah. Beliau mengucapkan, “Laa Ilaaha Illallaah, sesugguhnya kematian memiliki sakarat.” Lalu beliau mengangkat jarinya ke atas. Pandangan beliau juga tertuju ke langit. Kedua bibir beliau bergerak sembari berucap,

مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَاللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي وَأَلْحِقْنِي بِالرَّفِيقِ الأَعْلَىاللهم الرفيق الأعلى

Bersama orang-orang yang telah Engkau beri nikmat dari kalangan para Nabi, shiddiqin, syuhada’, dan shalihin. Ya Allah ampuni dan rahmati aku. Gabungkan aku bersama teman tertinggi. Ya Allah, aku memilih bersama teman-teman tertinggi.” (HR. Al-Bukhari)

Beliau ulangi kalimat terakhir sebanyak tiga kali. Lalu jari telunjuk beliau jatuh. Beliau berjumpa teman-teman tertinggi di surga. Inaa Lillaahi wa Innaa Ilaihi Raji’uun. [Baca: Siapa Suka Berjumpa Dengan Allah, Allah Suka Berjumpa Dengannya]

Ummul Mukminin Aisyah Radhiyallahu 'Anha berkata tentang ucapan suaminya, "Ya Allah aku memilih teman tertinggi.", saat itu Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam sedang diberi pilihan antara tetap hidup di dunia atau meninggal dan berjumpa dengan Allah. Kemudian beliau memilih kematian karena mengutamakan akhirat daripada dunia. Lalu Al-Hafid Ibnul Hajar mengomentari, "Maka selayaknya meniru beliau dalam hal itu." Yakni menjadikan akhirat sebagai tujuan hidup dan lebih mengutamakannya atas dunia. Wallahu A’lam. [PurWD/voa-islam.com]


latestnews

View Full Version