View Full Version
Selasa, 04 Oct 2016

Husnudzon kepada Allah saat Meninggal

Oleh: Badrul Tamam

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulillah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.

Dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu 'Anhu, berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabdam 3 hari sebelum wafatnya,

لَا يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Janganlah salah seorang kalian meninggal kecuali dia berhusnudzon kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” (HR. Muslim)

Menjadi wasiat terakhir beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam menunjukkan pentingnya perkara ini. Bisa juga dikatakan, husnudzan kepada Allah menentukan balasan baik kepada hamba dari-Nya. Sebaliknya, su’udzon (berperasangka buruk) menentukan balasan buruk dari-Nya.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda: Allah Ta'ala berfirman,

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي

"Aku sesuai prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku akan bersamanya selama iamengingat-Ku." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Di redaksi Ahmad disebutkan firman Allah Ta’ala di hadits Qudsi,

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي ، إِنْ ظَنَّ بِي خَيْرًا فَلَهُ ، وَإِنْ ظَنَّ شَرًّا فَلَهُ

Aku sesuai prasangka hamba-Ku kepada-Ku, jika ia berprasangka baik kepadaku maka bagi-Nya kebaikan dan jika berprasangka buruk kepada-Ku maka baginya keburukan.

Berhusnudzan kepada Allah di akhir hayat berarti tidak berputus asa dari rahmat Allah, ampunan, maaf, dan pertolongan-Nya. Berarti hadits tersebut melarang berputus asa dari rahmat Allah. Sebaliknya, menyuruh agar menguatkan harapan kepada Allah di akhir hayat.

Imam Nawawi di Syarh Shahih Muslim menyebutkan perkataan Al-Qadhi ‘Iyadh, “dikatakan maknanya berhusnudzan dengan ampunan Allah untuknya apabila ia beristighfar, bila bertaubat diterima taubatnya, bila berdoa dikabulkan doanya, dan dicukupkan bila meminta. Pendapat lain, maksudnya harapan dan harapan maaf, inilah yang lebih benar.

Secara umum, husnudzan kepada Allah ‘Azza wa Jalla  berarti berprasangka baik dengan sesuatu yang layak bagi Allah berupa yakin pengabulan doa, diterima taubat, amunan atas dosa, maaf atas kesalahan, dan pemenuhan janji dari Allah. Pokoknya segala sesuatu yang menjadi tuntutan Nama-nam adan sifat Allah ‘Azza wa Jalla.

[Baca artikel husnudzan lainnya: Hakikat Husnudzan Kepada Allah]

Jika hamba mampu mempertahankan husnudzan kepada Allah di akhir hayatnya pasti Allah perkenankan keinginan dan harapannya.

Abdullah bin Mas’ud berkata, “Demi Allah yang tiada tuhan (hak) kecuali hanya Dia, tidaklah seeorang berhusnudzan kepada Allah kecuali Allah beri kepadanya apa yang diprasangkakannya itu, yang demikian itu karena kebaikan berada di tangan-Nya...”

Karena sebab itu, jika seseorang mengalami sakit di usia lanjutnya –diperkirakan menghantarkan kepada kematiannya- hendaknya ia melihat bahwa sakit tersebut sebagai anugerah Allah kepada dirinya untuk hapuskan kesalahan dan ampuni dosanya. Juga sakit tersebut sebagai sarana dirinya untuk bersabar sehingga meraih pahala besar tanpa batas, “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Al-Zumar: 10)

Sakit yang diderita bukan sebagai pesan buruk dari kepadanya, namun sebagai bentuk cinta Allah supaya dirinya kembali kepada Allah dan merendahkan diri kepada-Nya serta berpaling dari semua makhluk. Karena dia yang kuasa turunkan sakit, dan kuasa pula mengangkat sakit tersebut. Sehingga dengan sakit ia semakin dekat kepada Allah.

Dengan kondisi tersebut ia siapkan diri bertemu dengan Allah dengan harapan ampunan, maaf, dan rahmat dari-Nya. Perjumpaan dengan Allah bukan sesuatu yang ia takutkan. Berpisah dari dunia bukan perkara yang menyedihkan baginya. Sebaliknya, perjumpaan dengan Allah senantiasa ia rindukan. “siapa suka berjumpa dengan Allah, Allah suka berjumpa dengan-Nya.”

[Baca: Siapa Suka Berjumpa Dengan Allah, Allah Suka Berjumpa Dengannya]

Semoga Allah meneguhkan saya dan Anda sekalian saat datang kematian; senantiasa husnudzan kepada Allah dan tidak pernah berputus asa dari-Nya. Amiin. [PurWD/voa-islam.com]


latestnews

View Full Version