View Full Version
Jum'at, 23 Jan 2026

Bukan Harta, Bukan Tahta: Inilah Standar Cinta Allah Kepada Hamba

Oleh: Badrul Tamam

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulullah ﷺ dan keluarganya.

Setiap manusia di dunia ini merasakan berbagai bentuk nikmat dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Ada yang diberikan kelapangan harta, kedudukan yang tinggi, atau kesehatan yang prima. Semua itu adalah bagian dari kemurahan Allah yang melimpah kepada seluruh makhluk-Nya. Namun, ada satu nikmat yang kedudukannya jauh lebih istimewa dibandingkan semua kenikmatan duniawi, yaitu nikmat hidayah untuk memeluk agama Islam dan merasakan manisnya iman.

Berbeda dengan nikmat dunia yang bersifat umum, nikmat iman adalah anugerah yang sangat eksklusif. Allah memberikannya bukan kepada sembarang orang, melainkan hanya kepada hamba-hamba yang Dia pilih dan cintai. Hal ini ditegaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

وَإِنَّ اللَّهَ –عَزَّ وَجَلَّ– يُعْطِي الدُّنْيَا مَنْ يُحِبُّ وَمَنْ لَا يُحِبُّ، وَلَا يُعْطِي الدِّينَ إِلَّا لِمَنْ يُحِبُّ، فَمَنْ أَعْطَاهُ اللَّهُ الدِّينَ فَقَدْ أَحَبَّهُ

Sesungguhnya Allah –Azza wa Jalla– memberikan (kenikmatan) dunia kepada orang yang Dia cintai dan yang tidak Dia cintai. Dan Dia tidak memberikan agama (iman) kecuali kepada orang yang Dia cintai. Maka barang siapa yang Allah berikan kepadanya agama, sungguh Dia telah mencintainya.” (HR. Ahmad)

Dalam redaksi lainnya,

وإنَّ اللَّهَ يؤتي المالَ من يحبُّ ومن لا يحبُّ ولا يؤتي الإيمانَ إلَّا من أحبَّ فإذا أحبَّ اللَّهُ عبدًا أعطاهُ الإيمانَ

Sesungguhnya Allah –Azza wa Jalla- memberikan harta kepada orang yang Dia cintai yang tidak Dia cintai. Dan Dia tidak memberikan iman kecuali kepada orang yang Dia cintai. Apabila Allah mencintai seorang hamba maka Dia anugerahkan iman kepadanya.” (HR. Ahmad, Al-Hakim, dan Ibnu Abi Syaibah)

Hadits ini memberikan kita sebuah perspektif yang mendalam. Harta, tahta, dan segala kemewahan dunia bisa saja Allah berikan kepada seorang mukmin yang taat, namun bisa juga diberikan kepada seorang pendurhaka yang ingkar. Kenikmatan dunia bukanlah standar cinta Allah kepada seorang hamba.

Penegasan dalam Al-Qur'an

Konsep bahwa hidayah iman adalah pilihan mutlak Allah juga ditegaskan dalam Al-Qur'an. Allah memberikan petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki, bukan karena paksaan atau keinginan manusia semata. Allah berfirman:

وَلَٰكِنْ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ

 “Tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. Al-Nahl: 93)

Makna lahiriahnya: Allah Ta'ala yang memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Petunjuk itu berada di tangan-Nya — Maha Suci dan Maha Tinggi Dia — Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyesatkan siapa yang Dia kehendaki.

Hidayah ini bukan berada di tangan hamba. Seorang hamba tidak memiliki apa pun kecuali berdoa kepada Allah, merendahkan diri kepada-Nya, serta beramal dengan ketaatan, bersungguh-sungguh dalam ketaatan. Dan Allah-lah Yang Memberi taufik; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyesatkan siapa yang Dia kehendaki.

Pandangan Para Ulama

Para ulama salaf sangat memahami betapa agungnya nikmat iman ini. Sufyan Ats-Tsauri, seorang ulama besar, pernah berkata:

مَا أَنْعَمَ اللهُ عَلَى عَبْدٍ نِعْمَةً أَعْظَمَ مِنْ أَنْ عَرَّفَهُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ

"Tidaklah Allah memberi nikmat kepada seorang hamba yang lebih agung daripada nikmat Dia mengenalkan 'Laa ilaaha illallah' (Tiada Tuhan selain Allah) kepada mereka."

Perkataan ini menggarisbawahi bahwa inti dari agama, yaitu tauhid, adalah anugerah terbesar yang melampaui segala hal. Demikian pula, Ibnu Rajab al-Hanbali menjelaskan bahwa tanda terbesar kecintaan Allah kepada seorang hamba adalah ketika Dia memberinya iman, sebagaimana yang tersirat dalam hadis Ibnu Mas'ud di atas.

Syukuri dan Jagalah Anugerah Terindah Ini

Maka, jika hari ini kita masih diberikan kesempatan untuk bersujud, masih merasakan manisnya iman, dan masih berpegang teguh pada ajaran Islam, itu adalah bukti nyata bahwa Allah mencintai kita. Anugerah ini jauh lebih berharga dari seisi dunia, karena ia adalah kunci keselamatan dan kebahagiaan abadi di akhirat kelak.

Oleh karena itu, marilah kita senantiasa bersyukur atas nikmat tak ternilai ini. Jangan pernah merasa aman dari kemungkinan hilangnya iman, karena hati manusia senantiasa berada dalam genggaman Allah yang Maha Membolak-balikkan. Rasulullah ﷺ sendiri, orang yang paling mulia, mengajarkan kita untuk senantiasa berdoa memohon keteguhan hati. Doa yang paling sering beliau panjatkan adalah:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

"Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu." (HR. Al-Tirmidzi)

Semoga kita termasuk hamba-hamba yang dicintai-Nya, yang dianugerahi nikmat iman hingga akhir hayat, dan dikumpulkan bersama orang-orang saleh di surga-Nya kelak. Aamiin. [PurWD/voa-islam.com]


latestnews

View Full Version