View Full Version
Selasa, 21 Jul 2026

Bulan Safar Bukan Bulan Sial: Meluruskan Mitos Rabu Wekasan dan Warisan Jahiliah

Oleh: Badrul Tamam

Segala puji bagi Allah Ta'ala yang menciptakan waktu sebagai salah satu tanda kebesaran-Nya. Dialah yang menjadikan malam dan siang silih berganti sebagai kesempatan bagi hamba-Nya untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada-Nya.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, sahabat, dan seluruh pengikut beliau hingga akhir zaman.

Safar adalah bulan kedua dari kalender Hijriyah. salah satu bulan yang diciptakan Allah. Di dalamnya, Allah ciptakan kebaikan dan keburukan dengan hikmah-Nya.  

Bulan Safar, dinamakan Shofar karena pada masa jahiliah rumah-rumah menjadi kosong ditinggalkan penghuninya yang keluar untuk berperang. Hal itu karena Safar adalah bulan pertama setelah bulan Muharam, yaitu bulan yang pada masa jahiliah peperangan diharamkan. Kemudian Islam datang dan menegaskan prinsip agung tersebut.

Ada pula yang berpendapat bahwa bulan ini dinamakan Safar karena berasal dari ungkapan mereka,

صَفُرَ المَكَانُ إِذَا خَلَا، وَأَصْفَرَتِ الدَّارُ إِذَا خَلَتْ

“Safura al-makānu' yang berarti 'suatu tempat menjadi kosong', dan 'aṣfarati ad-dāru' yang berarti 'sebuah rumah menjadi kosong'.”

 

Mitos Sial Bulan Safar: Warisan Jahiliah

Di tengah masyarakat Muslim masih ditemukan keyakinan bahwa bulan Safar adalah bulan yang membawa kesialan. Sebagian orang menganggap bulan ini penuh musibah, sehingga mereka enggan bepergian, menunda pernikahan, membatalkan hajatan, bahkan menghindari memulai usaha atau aktivitas penting selama bulan Safar.

Keyakinan seperti ini bukanlah ajaran Islam, melainkan sisa-sisa tradisi masyarakat Jahiliah.

Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata:

إِنَّ أَهْلَ الجَاهِلِيَّةِ كَانُوا يَسْتَشْئِمُونَ بِصَفَرٍ، وَكَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ يَتَشَاءَمُ بِصَفَرٍ، ورُبَّمَا نُهِيَ بعضهم بعض عَنِ السَّفَرِ فِيهِ

"Sesungguhnya masyarakat Jahiliah dahulu menganggap bulan Safar sebagai bulan pembawa kesialan. Hingga kini pun masih banyak orang yang beranggapan demikian. Bahkan sebagian mereka melarang orang lain bepergian pada bulan Safar."

Menganggap bulan Safar sebagai pembawa sial termasuk tathayyur atau thiyarah, yaitu meyakini adanya pertanda buruk pada sesuatu tanpa dasar syariat. Keyakinan semacam ini telah dilarang oleh Rasulullah ﷺ karena mencederai kesempurnaan tauhid.

 

Tidak Ada Waktu yang Membawa Sial

Islam mengajarkan bahwa seluruh waktu adalah ciptaan Allah Ta'ala. Malam, siang, bulan, matahari, angin, maupun pergantian musim tidak memiliki kekuatan untuk mendatangkan manfaat atau mudarat dengan sendirinya.

Karena itu, seorang Muslim tidak boleh mencela waktu ataupun menganggap sebagian waktu sebagai pembawa sial. Semua itu berada di bawah kekuasaan Allah. Bisa jadi suatu waktu menjadi rahmat bagi sebagian manusia, namun menjadi ujian bagi yang lain, sesuai dengan hikmah dan ketetapan Allah.

Sikap yang benar adalah memohon kepada Allah agar diberikan kebaikan serta berlindung kepada-Nya dari segala keburukan.

 

Kesialan Sebenarnya Berasal dari Dosa

Hakikatnya, tidak ada bulan yang membawa kesialan. Yang mendatangkan keburukan adalah dosa dan kemaksiatan yang dilakukan manusia.

Apabila seseorang mengisi waktunya dengan ketaatan kepada Allah, maka waktu tersebut menjadi penuh keberkahan baginya. Sebaliknya, jika ia mengisinya dengan kemaksiatan, maka waktu itu menjadi buruk karena perbuatannya sendiri.

Bulan dan hari tidak akan mencelakakan seseorang hanya karena nama atau waktunya. Yang membinasakan manusia adalah dosa-dosa yang ia lakukan pada waktu tersebut atau pergaulannya dengan para pelaku maksiat.

Jadi, sumber kesialan bukanlah pada nama  bulan yang Allah ciptakan, melainkan pada kemaksiatan kepada Allah. Bahkan apa pun yang melalaikan seseorang dari mengingat Allah—baik harta, keluarga, jabatan, maupun kesibukan dunia—dapat menjadi sebab keburukan baginya.

 

Mitos Rabu Wekasan

Salah satu keyakinan yang berkembang di sebagian masyarakat adalah anggapan bahwa musibah terbesar turun pada hari Rabu terakhir bulan Safar, yang dikenal dengan istilah Rabu Wekasan.

Berdasarkan keyakinan tersebut, muncul berbagai amalan yang tidak memiliki dasar dalam syariat (bid'ah). Di antaranya adalah mengerjakan shalat empat rakaat pada hari itu. Di setiap rakaat mereka membaca Al-Fatihah, kemudian Surah Al-Kautsar sebanyak tujuh belas kali, Surah Al-Ikhlas lima belas kali, serta Al-Falaq dan An-Nas masing-masing sekali. Setelah salam mereka membaca doa yang mereka karang sendiria serta berbagai ritual yang diklaim sebagai penolak bala.

Padahal seluruh amalan tersebut tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah ﷺ dan tidak memiliki landasan dari Al-Qur'an maupun As-Sunnah.

Ibadah hanya dapat dilakukan berdasarkan dalil. Menambah bentuk ibadah yang tidak pernah dicontohkan Nabi ﷺ termasuk perkara bid'ah yang harus dihindari.

 

Berbagai Praktik yang Menyimpang

Kepercayaan terhadap kesialan bulan Safar melahirkan berbagai praktik yang tidak dikenal dalam Islam. Sebagian orang berkumpul di masjid pada Rabu terakhir bulan Safar untuk mengikuti ruqyah massal sebagai penolak musibah.

Sebagian lainnya menuliskan ayat-ayat Al-Qur'an ke dalam wadah, kemudian airnya diminum atau dibawa pulang sebagai jimat penolak bala.

Ada pula yang enggan menjenguk orang sakit pada hari tersebut karena takut tertimpa kesialan.

Semua itu menunjukkan bagaimana rasa takut yang tidak berdasar dapat menguasai hati seseorang hingga membuatnya hidup dalam kecemasan dan kegelisahan.

 

Tathayyur adalah Syirik

Rasulullah ﷺ telah memperingatkan umatnya dengan sabda beliau:

الطِّيَرَةُ شِرْكٌ، الطِّيَرَةُ شِرْكٌ

"Tathayyur (menganggap sial) adalah syirik. Tathayyur adalah syirik." (HR. Ahmad dan lainnya dengan sanad sahih)

Mengapa disebut syirik?

Karena orang yang meyakini adanya kesialan pada waktu tertentu telah menggantungkan rasa takut dan harapnya kepada selain Allah. Ia meyakini bahwa suatu hari atau bulan mampu memberi pengaruh terhadap kehidupannya, padahal seluruh urusan berada di tangan Allah semata.

Keyakinan semacam ini juga menunjukkan lemahnya tawakal kepada Allah serta buruk sangka terhadap ketentuan-Nya.

 

Akibat Buruk Keyakinan Takhayul

Ironisnya, orang yang mempercayai pertanda sial terkadang benar-benar mengalami hal-hal yang ia khawatirkan.

Bukan karena bulan Safar memiliki kekuatan gaib, tetapi karena Allah menghukum buruk sangkanya kepada-Nya. Hatinya dipenuhi rasa takut, cemas, dan waswas sehingga ia kehilangan ketenangan yang semestinya dimiliki seorang mukmin.

Padahal seorang yang bertauhid akan menyerahkan seluruh urusannya kepada Allah. Ia meyakini bahwa tidak ada musibah yang menimpanya kecuali dengan izin Allah, dan tidak ada satu pun makhluk yang mampu memberi manfaat atau mudarat tanpa kehendak-Nya.

 ## Infak Dakwah Media www.voa-islam.com melalui Bank Muamalat, No.Rek: 34.7000.6141 a/n: Badrul Tamam, konfirmasi (087781227881)

Penutup

Bulan Safar adalah salah satu bulan dalam kalender Hijriah yang sama seperti bulan-bulan lainnya. Tidak ada dalil sahih yang menunjukkan bahwa bulan ini membawa kesialan ataupun menjadi waktu turunnya musibah secara khusus.

Karena itu, seorang Muslim hendaknya membersihkan akidahnya dari segala bentuk tathayyur, takhayul, dan bid'ah yang diwariskan dari tradisi Jahiliah. Kesempurnaan tauhid menuntut seorang hamba untuk hanya bergantung kepada Allah, bertawakal kepada-Nya, serta meyakini bahwa segala kebaikan dan keburukan terjadi semata-mata dengan izin-Nya.

Semoga Allah Ta'ala menjaga hati kita dari berbagai bentuk kesyirikan, mengokohkan tauhid kita, dan menjadikan setiap waktu yang kita lalui sebagai ladang amal saleh yang mendekatkan kita kepada-Nya. Aamiin. [PurWD/voa-islam.com]

 


latestnews

View Full Version