View Full Version
Senin, 21 Sep 2026

Memahami Perbedaan ''Ni‘mah'' dan ''Na‘im'' dalam Al-Qur’an

Oleh: Badrul Tamam

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulullah -Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.

Al-Qur’an tidak menggunakan kata secara sembarangan. Setiap pilihan kata memiliki makna dan konteks tersendiri. Bahkan dua kata yang dalam bahasa Indonesia sama-sama dapat diterjemahkan sebagai “kenikmatan” bisa memiliki penggunaan yang berbeda dalam Al-Qur’an.

Di antara kata yang menarik untuk diperhatikan adalah نِعْمَة (ni‘mah) dan النَّعِيم (an-na‘īm).

Apa perbedaannya?

Qasim ‘Ashur dalam Jawāhir Qur’āniyyah: 1000 Su’āl wa Jawāb fī al-Qur’ān al-Karīm menjelaskan adanya perbedaan penggunaan kedua kata tersebut dalam Al-Qur’an. Pembahasan itu juga dicantumkan dalam tulisan Qabasāt min Tafsīr al-Qur’ān dan dirujukkan kepada kitab al-I‘jāz al-Bayānī lil-Qur’ān, halaman 235.

Ni‘mah: Kenikmatan yang Allah Berikan di Dunia

Kata نِعْمَة (ni‘mah) dalam ayat-ayat Al-Qur’an, menurut penjelasan tersebut, digunakan untuk menunjukkan berbagai nikmat Allah di dunia.

Allah Ta'ala berfirman:

وَمَنْ يُبَدِّلْ نِعْمَةَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُ فَإِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Dan barang siapa menukar nikmat Allah setelah nikmat itu datang kepadanya, maka sungguh, Allah sangat keras hukuman-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 211)

Allah juga berfirman:

وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ

Dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika dahulu kamu bermusuhan, lalu Dia mempersatukan hatimu.” (QS. Ali ‘Imran: 103)

Demikian pula firman-Nya:

وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ

Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, ‘Ingatlah nikmat Allah kepada kalian.’” (QS. Ibrahim: 6)

Dari ayat-ayat tersebut tampak bahwa ni‘mah berkaitan dengan berbagai bentuk pemberian dan karunia Allah yang diterima manusia dalam kehidupan dunia. Nikmat tersebut bisa berupa keselamatan, kesehatan, keamanan, persatuan, harta, keluarga, maupun berbagai karunia lainnya.

Na‘im: Kenikmatan Akhirat

Berbeda dengan kata an-na‘īm (النَّعِيم), dalam penggunaan Al-Qur’an sebagaimana dijelaskan Qasim ‘Ashur secara khusus menunjukkan kenikmatan akhirat. Pembahasan tersebut menyebut penggunaan kata an-na‘īm dalam 16 ayat Al-Qur’an.

Allah Ta'ala berfirman:

أَيَطْمَعُ كُلُّ امْرِئٍ مِنْهُمْ أَنْ يُدْخَلَ جَنَّةَ نَعِيمٍ

“Apakah setiap orang dari mereka ingin dimasukkan ke dalam surga yang penuh kenikmatan?” (QS. Al-Ma‘arij: 38)

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam juga berdoa:

وَاجْعَلْنِي مِنْ وَرَثَةِ جَنَّةِ النَّعِيمِ

“Dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mewarisi surga yang penuh kenikmatan.” (QS. Asy-Syu‘ara: 85)

Allah Ta'ala berfirman tentang orang-orang beriman:

تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمُ الْأَنْهَارُ فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ

“Mengalir di bawah mereka sungai-sungai di dalam surga-surga yang penuh kenikmatan.” (QS. Yunus: 9)

Jangan Lupa Bersyukur atas “Ni‘mah”

Perbedaan penggunaan dua istilah tersebut memberikan pelajaran penting bagi seorang Muslim. Nikmat dunia bukanlah tujuan akhir.

Kesehatan, harta, keluarga, keamanan, ilmu, kedudukan, dan berbagai karunia Allah lainnya adalah ni‘mah yang semestinya disyukuri. Namun semua itu akan berakhir ketika kehidupan dunia berakhir.

Adapun na‘īm yang sempurna adalah kenikmatan yang Allah siapkan bagi hamba-hamba-Nya di akhirat.

Karena itu, seorang Muslim tidak seharusnya hanya sibuk mengejar kenikmatan dunia, tetapi melupakan kehidupan setelah kematian.

Allah Ta'ala berfirman:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia.” (QS. Al-Qashash: 77)

Nikmat dunia hendaknya menjadi jalan menuju keselamatan akhirat, bukan sesuatu yang membuat manusia lalai dari Allah.

Penutup

Al-Qur’an mengajarkan kepada kita untuk mengenali nikmat sekaligus mengenali tujuan akhir dari kehidupan.

Ni‘mah mengingatkan kita kepada berbagai karunia Allah dalam kehidupan dunia. Sementara Na‘īm, sebagaimana kajian tersebut menjelaskan penggunaan Qur’annya, mengingatkan kepada kenikmatan akhirat yang kekal.

Maka ketika mendapatkan nikmat dunia, jangan hanya berkata, “Saya beruntung.” Tetapi katakan dalam hati: “Ini adalah nikmat dari Allah yang harus saya syukuri dan gunakan untuk mendekat kepada-Nya.”

Sebab nikmat yang paling berharga bukan sekadar yang membuat hidup nyaman di dunia, tetapi yang menjadi sebab seseorang memperoleh na‘īm—kenikmatan yang kekal di akhirat. [PurWD/voa-islam.com]

Sumber: Qasim ‘Ashur, Jawāhir Qur’āniyyah: 1000 Su’āl wa Jawāb fī al-Qur’ān al-Karīm, bagian Qabasāt min Tafsīr al-Qur’ān, dengan rujukan al-I‘jāz al-Bayānī lil-Qur’ān, hlm. 235. Teks pembahasan juga dimuat oleh Alukah pada 22 April 2025.

 


latestnews

View Full Version