

Oleh: Badrul Tamam
Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulillah, keluarga dan para sahabatnya.
Pernahkah kita merasa bahwa hari-hari berlalu begitu cepat? Rasanya baru kemarin menunaikan shalat Jumat, tetapi tiba-tiba Jumat kembali datang. Pekan berganti pekan, bulan berlalu begitu saja, dan tahun-tahun terasa semakin singkat. Tanpa disadari, usia terus bertambah, sementara kesempatan beramal semakin berkurang.
Sebuah ungkapan berbahasa Arab menggambarkan keadaan ini:
سُرْعَةُ الْأَيَّامِ مُخِيفَةٌ جِدًّا، وَكَأَنَّ مِنَ الْجُمُعَةِ إِلَى الْجُمُعَةِ يَوْمٌ وَاحِدٌ
“Cepatnya hari-hari berlalu sungguh mengkhawatirkan. Seolah-olah jarak antara Jumat yang satu dan Jumat berikutnya hanya satu hari!”
Ungkapan tersebut dilanjutkan dengan kalimat:
وَاللَّهِ شَيْءٌ مُخِيفٌ، وَنَحْنُ فِي غَفْلَةٍ، وَالْعُمْرُ يَنْقَضِي
“Demi Allah, ini sesuatu yang mengkhawatirkan. Sementara kita berada dalam kelalaian, dan umur terus berlalu.”
Ungkapan ini bukan sekadar gambaran tentang cepatnya pergantian hari. Ia juga mengingatkan kita agar tidak terlena oleh kesibukan dunia, terlebih ketika Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam telah mengabarkan bahwa waktu yang terasa semakin cepat merupakan salah satu tanda dekatnya kiamat.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَتَقَارَبَ الزَّمَانُ
“Tidak akan terjadi kiamat hingga zaman saling berdekatan.” (HR. Al-Bukhari, no. 1036).
Dikuatkan dalam Musnad Ahmad (10560), Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
لا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَتَقَارَبَ الزَّمَانُ ، فَتَكُونَ السَّنَةُ كَالشَّهْرِ ، وَيَكُونَ الشَّهْرُ كَالْجُمُعَةِ، وَتَكُونَ الْجُمُعَةُ كَالْيَوْمِ ، وَيَكُونَ الْيَوْمُ كَالسَّاعَةِ ، وَتَكُونَ السَّاعَةُ كَاحْتِرَاقِ السَّعَفَةِ
“Tidak akan datang kiamat sehingga waktu semakin berdekatan, setahun seperti sebulan, sebulan seperti sejum’at, sejum’at seperti sehari, sehari seperti sejam, dan sejam terasa hanya sekejap.” (Imam Ibnu Katsir mengatakan: isnadnya sesuai syarat Muslim. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih al-Jaami’ no. 7422)
Mengenai makna semakin berdekatannya zaman ini, para ulama berbeda pendapat. Di antara makna yang paling kuat adalah bahwa berdekatannya zaman boleh jadi berdekatan secara Hissii (inderawi) dan boleh jadi berdekatannya adalah secara Ma’nawi (non inderawi).
Berdekatan waktu secara Ma'nawi adalah dengan hilangnya barakah pada waktu/zaman tersebut. Ini sudah terjadi sejak beberapa tahun yang lalu. Sehingga Ibnul Hajar rahimahullah mengatakan, "Hal ini telah kita jumpai pada masa sebelumnya.”
Pendapat ini adalah yang dipilih oleh Imam al-Qadhi ‘Iyaad, Imam Nawawi, dan al-Hafidz Ibnul Hajar rahimahumullah. (Periksa: Ma’alim al-Sunan oleh al-Mundziri: 6/141-142, Jami’ al-Ushul oleh Ibnul Atsir: 10/409, dan Fathul Baari: 13/16 –dinukil dari Asyraath al-Sa’ah, Yusuf al-Wabil: 142)
Imam al-Nawawi rahimahullah berkata, “Maksud dengan menjadi pendeknya adalah tidak adanya barakah di dalamnya. Sedangkan pekerjaan yang dihasilkan satu hari kadarnya seperti yang dihasilkan satu jam.”
Al-Hafidz Ibnul Hajar rahimahullah mengatakan, “Dan pendapat yang benar, maksudnya hilangnya barakah dari segala sesuatu sampai pada zaman (waktu), dan itu termasuk bagian dari tanda dekatnya kiamat.”
Dan di antara makna singkatnya waktu secara ma'nawi adalah mudahnya berkomunikasi dan berinteraksi antara sesama manusia yang berada di tempat yang berjauhan. Dengan canggihnya alat transportasi modern, jarak yang dahulu bisa ditempuh berbulan-bulan, namun sekarang bisa dituju hanya dengan beberapa jam saja. Dan pendapat inilah yang disampaikan oleh Syaikh Ibnu Bazz rahimahullah dalam ta’liqnya terhadap Fathul Baari (2/522).
Sedangkan berdekatannya zaman secara Hissi, maknanya secara hakiki atau yang sebenarnya. Hari semakin pendek secara inderawi. Waktu siang dan malam berjalan dengan cepat. Ini sudah terjadi pada zaman kita setelah terjadinya beberapa gempa bumi besar dan akan semakin terasa untuk waktu yang akan datang insya Allah.
Karena itu, fenomena cepatnya waktu berlalu patut menjadi bahan renungan. Namun, kita tidak boleh memastikan bahwa perasaan tersebut saja sudah cukup untuk menentukan kapan kiamat akan terjadi. Waktu terjadinya kiamat merupakan perkara gaib yang hanya diketahui oleh Allah Ta'ala.
Allah berfirman:
إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ
“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat.” (QS. Luqman: 34).
Terlepas dari bagaimana kita merasakan cepatnya waktu, ada satu kenyataan yang tidak dapat diingkari: setiap hari yang berlalu membawa kita semakin dekat kepadaakhir kehidupan di dunia. Karena itu, seorang Muslim semestinya tidak hanya bertanya mengapa waktu terasa cepat, tetapi juga bagaimana ia telah mengisi waktu yang Allah berikan.
Allah Ta'ala mengingatkan:
وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS. Al-'Ashr: 1–3).
Ayat ini menegaskan bahwa waktu yang berlalu tanpa diisi dengan iman dan amal saleh dapat menjadi sebab kerugian manusia. Pergantian Jumat semestinya mendorong kita memperbaiki shalat, memperbanyak amal saleh, meninggalkan kemaksiatan, dan segera bertobat sebelum kesempatan itu berakhir.
Jangan sampai kita sibuk menghitung bertambahnya usia, tetapi lupa mengevaluasi amal. Jangan sampai Jumat demi Jumat berlalu, sedangkan kita tetap dalam kelalaian yang sama.
Kiamat memang semakin dekat seiring berjalannya waktu, tetapi bagi setiap individu, kematian bisa datang lebih dahulu. Maka, kabar tentang tanda-tanda kiamat seharusnya tidak berhenti menjadi bahan pembicaraan. Ia mesti membangunkan kesadaran, memperkuat keimanan, dan mendorong kita mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat.
Semoga Allah menyadarkan kita sebelum terlambat, memberkahi sisa umur kita, dan menjadikan setiap hari yang berlalu sebagai kesempatan untuk semakin dekat kepada-Nya. Amin. [PurWD/voa-islam.com]