View Full Version
Sabtu, 03 Jul 2010

Muktamar Muhammadiyah Jangan Pilih Tokoh Pro Kristenisasi

Di usia satu abad, bertepatan dengan Muktamar ke-46 di Yogyakarta, 3-8 Juli 2010, Muhammadiyah tak boleh melupakan sejarah, bahwa misi didirikannya Muhammadiyah adalah dalam rangka membendung gerakan Kristenisasi.

Dalam desertasi di Temple University (1995) berjudul The Muhammadiyah Movement and Its Controversy with Christian Mission in Indonesia, Alwi Shihab mengungkapkan, misi awal pendirian Muhammadiyah oleh KH Ahmad Dahlan adalah dalam rangka membendung arus gencar Kristenisasi yang ditopang oleh kebijakan kolonial pemerintah Belanda. Tiga tahun kemudian desertasi ini diterbitkan oleh penerbit Mizan Bandung dengan judul buku Membendung Arus: Respons Muhammadiyah terhadap Penetrasi Misi Kristen di Indonesia.

Fakta-fakta kegigihan Muhammadiyah di era KH Ahmad Dahlan dalam berdakwah kepada para tokoh Kristen dan Katolik diabadikan dalam buku Muhammadiyah Setengah Abad: Makin Lama Makin Tjinta (1912-1962). Pada halaman 145-151 buku dokumenter ini diceritakan aktivitas KH Ahmad Dahlan kepada para pastor, antara lain: van Lith, van Driesse, Domine Bakker, dan Dr Laberton.

Pertemuan dengan van Lith hanya berlangsung sekali, karena tak lama setelah dialog, van Lith meninggal. Dialog dengan van Driesse dilakukan di rumah M Joyo Sumarto (mertua M.M. Joyodiguno). Pertemuan ini pun hanya berlangsung sekali, karena sikap Driesse sangat kasar sehingga tidak bisa diajak berdialog mengenai soal-soal agama maupun ketuhanan.

Pertemuan dengan Domine Bakker diadakan di Jetis beberapa kali. Karena pembicaraan Domine berbelit-belit dan tidak mau mengakui kekalahannya, akhirnya Dahlan mengajukan tantangan: “Marilah kita sama-sama keluar dari agama, kemudian mencari, menyelidiki, agama mana yang benar. Kalau ternyata kemudian agama Protestanlah yang benar, saya bersedia masuk agama Protestan. Akan tetapi sebaliknya, apabila Islam yang benar, Domine pun harus mau pula masuk agama Islam.”

...Dalam beberapa kali debat agama ini, Domine ditemani oleh dua orang pengikut dari Klaten. Atas hidayah Ilahi, dua orang pengikut Domine akhirnya masuk Islam setelah mendengar dakwah Ahmad Dahlan...

Tapi Domine tidak cukup nyali untuk menerima tantangan debat Dahlan. Dalam beberapa kali dialog ini, Domine ditemani oleh dua orang pengikut dari Klaten. Atas hidayah Ilahi, dua orang pengikut Domine akhirnya masuk Islam setelah mendengar dakwah Ahmad Dahlan.

Suatu ketika Dahlan mendengar berita bahwa Samuel Zwemmer berkunjung ke Indonesia dan berkhotbah di beberapa gereja, antara lain di Banjarmasin, Makassar, Surabaya dan Yogyakarta. Isi khotbahnya umumnya banyak sekali yang menghina agama Islam. Maka Dahlan mempersiapkan acara sambutan di Yogyakarta dengan mengadakan dialog openbaar (pengajian umum) di Ngampilan. Dalam rapat umum ini Zwemmer diundang untuk mendengarkan ceramah Dahlan, dan juga diberi kesempatan untuk berorasi menerangkan sekitar agamanya. Selanjutnya, ia diminta kesediaannya untuk menjawab pertanyaan dari para hadirin. Karena Zwemmer tak berani datang, maka Dahlan tampil sebagai pembicara tunggal. Berita ini ditangkap oleh Ki Hajar Dewantoro dalam surat kabar Darmo Kondo di Solo dengan komentar “Dr. Zwemmer tidak mampu menghadapi KH Ahmad Dahlan.”

...Pasca Ahmad Dahlan, Muhammadiyah masih mengamalkan prinsip asyidda`u ‘alal kuffar...

Pasca Ahmad Dahlan, Muhammadiyah masih mengamalkan prinsip asyidda`u ‘alal kuffar. KH AR Fachruddin, Ketua Muhammadiyah terlama  (1968-1990) menegaskan prinsip kemandirian beramal usaha dan ikhlasnya berjuang. Semasa hidupnya, tokoh karismatik yang akrab dipanggil Pak AR ini memberikan wasiat kepada kader persyarikatan agar berpantang terhadap dana-dana yang tidak berkah. Di antara dana yang dilarang adalah dana judi, dana dari negara asing, Kristen dan komunis. Pak AR berpesan:

“Janganlah Cabang Muhammadiyah mendirikan bangunan-bangunan hanya mengharapkan bantuan Pemerintah. Lebih-lebih lagi mengharapkan bantuan uang keuntungan lotre dari Yayasan Dana Bantuan. Dan lebih tidak pantas lagi kalau mengharapkan bantuan dari negeri asing, dari negara-negara Kristen, dari negara-negara komunis. Uang-uang yang demikian tidak akan memberi berkah, malah akan membawa tidak baik.

Dari itu gembirakanlah anggota-anggota Muhammadiyah agar suka beramal, suka berderma, suka beramal jariyah suka berwakaf. Insya Allah Cabang di tempat Saudara akan diberi berkah langsung oleh Allah SWT” (Mengenal dan Menjadi Muhammadiyah, UMM Press, Malang, hlm. 141).

Seharusnya, para warga persyarikatan belajar militansi kepada para pendahulunya. Tapi sayangnya, prinsip istiqamah, kemandirian dan kewibawaan agar tidak meminta-minta dana kepada pihak asing dan non Muslim itu dilanggar beberapa oknum di tubuh persyarikatan. Beberapa ortom Muhammadiyah pernah menjadi saudara sepersusuan dengan kelompok Jaringan Islam Liberal (JIL), mendapat dana kepada The Asia  Foundation, antara lain: Pusat Studi Agama dan Peradaban (PSAP) Muhammadiyah, Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM), Lembaga Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (LP3-UMY), Lembaga Penelitian Universitas Muham­madiyah Surakarta (UMS), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Aceh, Pemuda Muhammadiyah (PM) Aceh, dll.

...KH AR Fachruddin berwasiat, “bantuan dari negeri asing, dari negara-negara Kristen, dari negara-negara komunis itu tidak akan memberi berkah, malah akan membawa tidak baik...

Padahal KH AR Fachruddin berwasiat, “bantuan dari negeri asing, dari negara-negara Kristen, dari negara-negara komunis itu tidak akan memberi berkah, malah akan membawa tidak baik."

OKNUM PENGURUS MUHAMMADIYAH DALAM KRISTENISASI

Berbeda dengan keteladanan KH Ahmad Dahlan dalam menyampaikan kebenaran Islam kepada umat Kristen, sepeninggal beliau, tak sedikit tokoh Muhammdiyah yang justru meragukan fakta dan data adanya gerakan Kristenisasi. Mereka terpeleset langkah, akhirnya mensupport kaum walan tardho, inilah beberapa contohnya:

Prof Dr HM Din Syamsuddin, Ketua Umum PP Muhammadiyah

Din Syamsuddin, Ketua Umum PP Muhammadiyah saat ini demikian mesra dengan umat Kristen. Setiap tahun Din Syamsuddin selalu mengucapkan Selamat Natal kepada umat kristiani. “Saya tiap tahun memberi ucapan selamat Natal kepada teman-teman Kristiani,” katanya di hadapan ratusan umat Kristiani dalam seminar Wawasan Kebangsaan X BAMAG Jatim di Surabaya, Senin (10/10/2005).

...Din bahkan bersedia memberikan semua fasilitas Muhammadiyah kecuali masjid, untuk kebaktian Natal...

Din bahkan bersedia memberikan semua fasilitas Muhammadiyah untuk kebaktian Natal. "Kecuali Masjid, semua fasilitas milik PP Muhammadiyah bisa dipinjam dan digunakan untuk keperluan hari Natal oleh kaum Nasrani. Ini perintah dan instruksi ketua umum PP Muhammadiyah kepada seluruh pengurus Muhammadiyah di daerah," kata Din Syamsudin di dalam pertemuan dengan tokoh lintas agama di gedung PP Muhammadiyah Jakarta, Rabu (21/12/2005).

Moh Shofan, mantan Dosen Universitas Muhammadiyah Gresik

Kebiasaan Din mengakomodir Natalan Kristiani, langsung disambar Moh Shofan, sang muqallid penganut faham SEPILIS (Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme). Di koran lokal Surya, dosen FAI UMG ini menulis opini “Natal dan pluralisme” di harian Surya untuk menjajakan faham SEPILIS, yang salah satu amalannya adalah mengucapan “Selamat Natal bagi umat Kristiani” pada tanggal 25 Desember.

Artikel Shofan pun mencuat menjadi hal yang kontroversial dan debatable. Apalagi, pada saat yang bersamaan skandal Shofan terbongkar. Ia terbukti melakukan tindakan yang tidak selayaknya dilakukan oleh seorang dosen Perguruan Tinggi Muhammadiyah (pelecehan seksual terhadap beberapa mahasiswi).

Setelah dipecat dari UMG, Shofan pindah haluan menjadi Peneliti di Pusat Studi Islam dan Kenegaraan Universitas Paramadina, atas rekomendasi Dawam Rahardjo.

Prof Dr Dawam Rahardjo, mantan Anggota PP Muhammadiyah

Mantan anggota PP Muhammadiyah ini mendukung buku pendeta yang menghujat Al-Qur'an. Dalam buku Tempat dan Peran Yesus di Hari Kiamat Menurut Ajaran Islam, Pendeta Weinata Sairin MTh menuduh ayat-ayat Al-Qur‘an itu sangat kontradiktif: “Pernyataan-pernyataan Al-Qur‘an tentang kematian Yesus sangat kontradiktif sekali. Di satu pihak dinyatakan bahwa Yesus tidak mati di salib, tetapi diangkat ke hadirat Allah, sementara yang disalib adalah orang yang serupa dengan dia” (hlm. 45-46).

Tuduhan keji pendeta terhadap Al-Qur'an ini diaminkan oleh Dawam Rahardjo dengan selangit pujian dalam pada Kata Pengantar: “Buku kecil karya Weinata Sairin yang berjudul ‘Tempat dan Peran Yesus di Hari Kiamat Menurut Ajaran Islam’ ini sangat menarik untuk dibaca” (hal 9). “Buku ini cukup mewakili pandangan Islam” (hal. 13). “Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa apa yang ditulis oleh Wienata Sairin cukup fair bagi orang Islam. Memang begitulah persepsi tentang Yesus dalam eskatologi Islam, sebagaimana yang ditulis dalam buku ini” (hal. 15).

Prof. Dr. Ahmad Syafi’i Ma’arif, mantan Ketua PP Muhammadiyah

Di tengah maraknya gerakan pemur­tadan, masih ada tokoh yang menyata­kan bahwa kristenisasi adalah sebuah isu. Prof Dr Ahmad Syafii Maarif adalah salah satunya. Hal ini dinyatakannya dalam buku “Mencari Autentisitas dalam Kegalauan” yang diluncurkan dihotel Arya Duta, Jakarta, bekerjasama dengan The Asia Foundation (founding asing yang membiayai proyek Jaringan Islam Liberal dan Paramadina).

...Di tengah maraknya gerakan pemur­tadan, masih ada tokoh yang menyata­kan bahwa kristenisasi adalah sebuah isu. Prof Dr Ahmad Syafii Maarif adalah salah satunya...

Buya Syafii menyatakan bahwa Kristenisasi pada masa Orde Baru adalah sebuah isu yang telah menyuburkan rasa saling curiga antara Islam dan Kristen. “Isu Kristenisasi pada masa Orde Baru telah semakin menyuburkan rasa saling curiga, terutama antara pemeluk Islam dan Kristen” (halaman 9 baris ke-4 dari atas).

Benarkah kristenisasi itu isu? Penulis tidak ingin berdebat yang hanya akan menghabiskan energi. Biarlah pihak gereja sendiri yang menjawab keraguan Buya Syafii.

Dr Berkhof: “Indonesia adalah daerah pekabaran Injil yang diberkati Tuhan”

Boleh kita simpulkan bahwa Indonesia adalah suatu daerah pekabaran Injil yang diberkati Tuhan dengan hasil yang indah dan besar atas penaburan bibit firman Tuhan. Jumlah orang Kristen Protestan sudah 13 juta lebih... Jadi tugas sending gereja-gereja muda di benua ini masih amat luas dan berat. Bukan saja sisa kaum kafir yang tidak seberapa banyak itu, yang perlu mendengar kabar kesukaan, tetapi juga Kaum muslimin yang besar yang merupakan benteng agama yang sukar sekali dikalahkan oleh pahlawan-pahlawan Injil. Apalagi bukan saja rakyat jelata, lapisan bawah yang harus ditaklukkan untuk Kristus, tetapi juga dan terutama para pemimpin masyarakat, kaum cendekiawan, golongan atas dan tengah” (Dr H Berkhof, Sejarah Gereja, hal. 321).

Pendeta Yosias Leindert Leng­kong: “Al-Qur`an sangat berguna untuk misi pekabaran Injil”

“Tujuan utama menye­lidiki referensi-referensi Al-Qur’an yang menyaksikan tentang Alkitab ialah: agar kita dapat mengenal serta mengerti dan memanfaatkan potensi ayat-ayat Al-Qur’an yang ber­guna bagi kepentingan membagikan berkat Injil kepada kaum Muslim yang kita cintai... Kesaksian Al-Qur`an sangat berguna untuk dijadikan jembatan atau sarana misi pekabaran Injil Alkitabiah” (makalah Pendeta Josias Lendert Lengkong pada seminar “Studi Paralelisasi Kristen dan Islam” di hotel Mandarin Jakarta tanggal 15 Agustus 1997).

Sebenarnya konsep tentang perlunya Kriste­ni­sasi kepada umat Islam masih sangat banyak. Tapi statemen Berkof dan Lengkong cukuplah untuk mewakili konsep kristenisasi di Indonesia.

Dalam praktiknya, penulis punya banyak fakta dan data tentang realita gerakan pemurtadan yang dilakukan oleh umat Kristen, dari cara yang santun sampai cara yang arogan.

Apakah buku-buku berkedok Islam yang isinya seratus persen berusaha memurtadkan umat Islam masih dianggap isu? Bila Buya Syafii masih meragukan adanya kristenisasi, bacalah buku-buku pendeta yang berwajah Islam, berisi ayat-ayat Al-Qur‘an dan Hadits tapi isinya menggiring umat Islam ke Kristen, antara lain:

Buku tulisan penginjil Poernama Winangun: Upacara Ibadah Haji, Ayat-ayat Al-Qur’an Yang Menyelamat­kan, dan Isa Alaihis Salam Dalam Pandangan Islam. Buku-buku tulisan Pendeta Nurdin: Keselamatan di dalam Islam, Ayat-ayat Penting di dalam Islam, As-Shodiqul Masduq (Kebenaran Yang Benar), As-Sirrullahil-Akbar (Rahasia Allah Yang Paling Besar), Selamat Natal Menurut Al-Qur’an, Telah Kutemukan Rahasia Allah Yang Paling Besar, Ya Allah Ya Ruhul Qudus, Aku Selamat Dunia dan Akhirat, dan lain-lain

Brosur Dakwah Ukhuwah (judul: Rahasia Jalan Ke Surga dan Membina Kerukunan Umat Beragama, brosur Shiraathal Mustaqiim (judul: Keselamatan dan Siapakah Yang Bernama Allah), Brosur Al-Barokah (Judul: Allahu Akbar Maulid Isa Almasih dan Dajjal & Kiamat), dll.

Piet Haidir Hasbullah, mantan Ketua Umum DPP Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) periode 2001-2003

Piet Haidir Hasbullah adalah aktivis Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM) dan mantan Ketua Umum DPP Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) periode 2001-2003. Profil dan pengalaman rohaninya diberitakan Majalah Syir’ah edisi 27/IV/Februari 2004 dengan headline “Pindah Agama Karena Hidayah.” Pengalaman rohani Piet dibeberkan dalam judul “Sempat Menjadi Ateis setelah Memeluk Tiga Agama” (hlm. 34-35). Disebutkan pengalaman rohani Piet yang sarat dengan pengalaman pindah-pindah agama dari Islam, kemudian memeluk agama Katolik, Budha, lalu pindah lagi ke Islam.

Menjelaskan kenapa berulangkali murtad, Piet berdalih: “Saya mencari agama yang pro-kaum tertindas.” Ketika menjelaskan kenapa pindah ke Katolik, Piet berdalih, “Aku berpaling ke Katolik secara diam-diam tanpa mendeklarasikannya secara formal,” katanya. Ia mengaku keluar dari Islam karena muak melihat perilaku ulama yang munafik. “Di masjid-masjid, ulama berceramah tentang neraka, dan menunjuk pelacur sebagai penghuni neraka. Padahal, mereka sendiri hidup glamour,” tuturnya. Maka dengan rasa kecewa, Piet sering berkunjung ke Gereja Katedral Jakarta Pusat. Dalam hatinya ia menyatakan sebagai umat Nasrani.

...Piet, an Ketua Umum DPP IMM memilih pindah ke Katolik karena tertarik dengan penampakan umat kristiani yang peduli pada masyarakat tidak mampu...

Piet memilih pindah ke Katolik karena tertarik dengan penampakan umat kristiani yang peduli pada masyarakat tidak mampu. “Pada acara kebaktian umat Kristen memberikan sumbangan dengan jumlah yang luar biasa kepada fakir miskin, misal anak-anak jalanan atau orang-orang yang terkena musibah banjir,” ujarnya.

Sebelumnya, sewaktu kuliah semester tiga IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta (sekarang UIN), Piet sudah sering meninggalkan shalat. “Selain bosan shalat, artikulasi ibadah bisa lewat jalan lain, bukan hanya shalat, bisa lewat baca buku.”

Dengan pengalaman murtad seperti itu, Syir’ah memberikan support, “Pengalaman Piet Hasbullah Haidir, bisa menjadi cerminan seorang anak manusia yang selalu gelisah mencari kejujuran agama. Tidak hanya basa-basi normatif tanpa aksi konkret. Seandainya di Museum Rekor Indonesia ada kategori pemegang rekor terbanyak memeluk agama, mungkin Piet Hasbullah Haidir menjadi salah seorang nominatornya. Bayangkan, dalam hitungan pekan atau bulan bisa berubah haluan.”

Murtadin Saifuddin Abraham alumnus Universitas Muhammadiyah

Dulu, Saifuddin, pria kelahiran Bima-NTB 26 Oktober 1965 adalah kader Muhammadiyah. Setamat dari SMA Muhammadiyah Bima tahun 1983, mendapat beasiswa dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah untuk kuliah di Universitas Muhammadiyah di Jawa Tengah dan mengikuti pendidikan pondok pesantren Muhammadiyah. Kader lain dari Bima yang juga mendapat beasiswa adalah Ikhwan Syamsuddin (sekarang rektor Universitas Muhammadiyah Buma). Usai kuliah, Saifuddin mengajar di SMA Muhammadiyah daerah Jepara, lalu pada tahun 1993-1996 mengajar di pesantren Muhammadiyah di Depok, Jawa Barat.

Setelah mengalami pergulatan iman di Pesantren Az-Zaitun pada tahun 1999, akhirnya Saifuddin benar-benar pindah agama ke Kristen menjadi seorang penginjil bersama Pendeta Edie Sapto, seorang pendeta radikal asal Madura yang mewajibkan para siswanya untuk memurtadkan 5 orang sebagai syarat kelulusan di Sekolah Tinggi Teologinya.

Selamat Bermuktamar, Waspadai Tokoh Pro-Kristenisasi

Melalui Muktamar nanti, warga persyarikatan harus merevitalisasi diri agar memantapkan diri dalam -ruju’ ilal-qur`an was-sunnah,” konsisten beramal sesuai dengan Muqaddimah Anggaran Dasar, Kepribadian, Khittah Perjuangan, Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup (MKCH), Pedoman Hidup Islami (PHI) Warga Muhammadiyah, dan Himpunan Putusan Tarjih (HPT) Muhammadiyah.

Jangan lagi tergiur gelar profesor dan kemahiran retorika seseorang, lalu terbuai dan memasukkan orang yang tak jelas kemuhammadiyahannya. Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan cari hidup di Muhammadiyah dan jangan kecolongan tokoh yang pro Kristenisasi. (a ahmad hizbullah mag/suara islam)


latestnews

View Full Version