View Full Version
Ahad, 23 Sep 2012

Gereja Katolik Membayar $ 130.000 Dollar Setiap Korban Pelecehan

Den Haag (voa-islam.com) Ribuan anak-anak mengalami pelecehan seksual para imam di lembaga-lembaga Katolik Belanda, dan pejabat gereja gagal mengatasi kekerasan yang dilakukan para imam di gereja-gereja dan panti asuhan oleh para imam  Katolik. Penyelidikan yang dilakukan oleh lembaga Katolik, tak kunjung membuahkan hasil.

Laporan, yang dikeluarkan oleh sebuah komisi independen mengatakan para pejabat Katolik gagal mengatasi penyalahgunaan luas "untuk mencegah skandal sek", ungkapnya, Jum'at.

Jumlah anak-anak yang menjadi korban pelecehan, mereka yang menghabiskan masa remaja mereka di lembaga-lembaga gereja katolik, jumlahnya bisa mencapai antara 10.000 dan 20.000, menurut ringkasan laporan.

Komisi mengatakan menerima pengaduan  sekitar 1.800 kasus pelecehan di sekolah-sekolah Katolik, seminari dan panti asuhan dan bahwa lembaga itu mengalami kegagalan dalam melakukan pengawasan, tambahnya.

Diperkirakan bnakahwa satu dari 10 anak yang tinggal di asrama-asrama sekolah dan panti asuhan milik Katolik Belanda mengalami berbagai bentuk pelecehan sejak tahun 1945, termasuk pemerkosaan.

Angka ini mengalam kenaikan dua kali lipat, yaitu menjadi satu dari lima anak yang berada dalam perawatan lembaga Katolik seperti panti asuhan, pesantren dan seminari, yang mengalami nasib yang buruk, dan umumnya menjadi korban para imam.
,
Kebanyakan kasus yang ringan hingga pelecehan moderat, seperti menyentuh, tetapi diperkirakan "beberapa ribu" kasus pemerkosaan.
Temuan muncul untuk menunjukkan bahwa pelecehan itu lebih luas di Belanda bahkan dari di Irlandia.

Komisi ini didirikan tahun lalu di bawah kepemimpinan Wim Deetman, seorang menteri pemerintah mantan, untuk menyelidiki tuduhan pelecehan dari 1945.

Penyelidikan ditugaskan oleh dua badan Katolik, Konferensi Uskup dan Konferensi Agama Belanda, pada tahun 2010 setelah kasus muncul yang melibatkan seorang imam yang terbukti melakukan pedofil (kejahatan sek terhadap anak) di Belanda, Belgia, Irlandia, Jerman, Australia, Kanada dan Amerika Serikat.

Pelanggaran oleh para imam Katolik, secara sistematis ditutup-tutupi oleh gereja untuk melindungi reputasinya dan wibawanya. Komisi itu, menambahkan bahwa gereja itu bersalah karena "pengawasan tidak memadai" dan "tindakan tidak memadai". "Gereja Katolik memiliki budaya yang selalu menutup-nutupi kejahatan yang kotor," kata Deetman wartawan.

Pemimpin Gereja mengatakan temuan itu membuat rasa malu. Dalam pernyataan bersama, Konferensi Uskup dan Konferensi Agama Belanda (KNR) menawarkan "permintaan maaf tulus".

"Para uskup dan Pemimpin KNR yang terkejut oleh pelecehan seksual anak di bawah umur dan praktek yang dijelaskan dalam laporan akhir. Kami dengan rasa malu dan duka," kata mereka.

Sebuah komite yang baru dibentuk untuk menangani pelecehan seksual dalam Gereja Katolik akan memberikan prioritas kepada  105 pelaku yang masih hidup, kata komisi tersebut. Komisi telah menerbitkan beberapa rekomendasi. Ia mendesak Gereja untuk membayar kompensasi kepada para korban dan mendirikan pusat rehebalitasi dan membantu mereka.

Gereja Katolik di Belanda sepakat bulan lalu untuk memberikan kompensasi dan membersihkan nama korban pelecehan oleh para pastor dan pekerja gereja lainnya untuk menerima pembayaran. Sistem kompensasi yang baru memiliki skala mulai dari $ 6.500 dan meningkat menjadi maksimal $ 130,000 tergantung pada sifat dari penyalahgunaan.

Memang, sesungguhnya ajaran agama yang aneh, di mana di dalam gereja Katolik, seorang pastur atau romo, tidak kawin yang tujuannya menjaga kesuciannya.

Tetapi, tindakan itu sangat melanggar fitrah manusia, dan akhirnya di mana-mana para romo dan pastur, melakukan kejahatan pelecehan seksual terhadap anak-anak dibawah umur.

Bagiamana ingin menjadi orang suci, sedangkan perbuatan yang dilakukan mereka sangat terkutuk. af/aljz.


latestnews

View Full Version