View Full Version
Senin, 17 Feb 2014

Pastor Jamie Coots Tewas di Gereja Jadi Korban Kepalsuan Injil Markus

MIDDLESBORO (voa-islam.com) – Gara-gara meyakini mukjizat Injil Markus, Pastor Jamie Coots tewas didigigit ular berbisa di gerejanya

Pemimpin Gereja Full Gospel Tabernacle Middlesboro ini tewas pada Sabtu (16/2/2014) malam pukul 8.30 waktu setempat. Tangan Coots disengat ular berbisa sebelum melakukan kebaktian di gereja dipimpinnya. Nyawa bintang serial televisi National Geographic initak tertolong setelah menolak Layanan Darurat Medis yang datang.

Di serial televisi National Geographic, Coots memandu program “Snake Salvation,”sebuah program yang mengupas hubungan gereja dengan ular. Programreality show yangmulai mengudara pada September 2013 itu, Coots mendemonstrasikan keyakinannya kepada salah satu ayat Alkitab (Bibel)bahwa bisa ular tidak akan mencelakai orang yang percaya kepada Yesus Kristus, karena mereka telah diurapi Tuhan.

Dalam wawancara dengan ABC News, mendiang Coots mengklaim bahwa dirinya dan seluruh jemaat gerejanya percaya jika Tuhan memilih mereka untuk menangani ular berbisa dan minum racun lainnya. Jika digigit ular berbisa, Coots dan jemaatnya menolak perawatan medis karena mereka percaya bahwa nasib dijamin Tuhan.

Pastor Jamie Coots adalah generasi ketiga dalam keluarga yang mengajarkan penginjilan ular berbisa ini. Semasa hidupnya, Coots berkeinginan untuk mewariskan ilmu penginjilan ular berbisakepada putranya, Little Cody. Bahkan Coots akan mewariskan Gereja Full Gospel Tabernacle in Jesus Name yang dipimpinnya kepadaLittle Cody.

 

 

BUKAN PENDETA SATU-SATUNYA

Pastor Jamie Coots bukan satu-satunya pendeta yang tewas mengenaskan akibat meyakini mukjizat Injil Markus 16:17-18.

Sebelumnya, Pastor Mark Randall “Mack” Wolford tewas dalam kebaktian sore di Panther Wildlife Management Area, Minggu (27/5/2012).

Pendeta gereja House of the Lord Jesus di Matoaka, Virginia Barat, Amerika Serikat ini tewas karena pahanya digigit ular berbisa saat memimpin kebaktian.

Di hadapan ratusan jemaat, secara demonstratif pastor berusia 44 tahun inibermaksud memamerkan mukjizat iman di hadapan jemaatnya. Ia mengajarkan bahwa Kristen diperintahkan oleh Yesus dalam Bibel untuk memegang ular berbisa tanpa takut mati.

Ternyata mukjizat Bibel tak terbukti, sebuah sengatan ular di pahanya membuatnya terkapar dan tewas pukul 10 malam di Bluefield Regional Medical Center.

 

TEWAS SIA-SIA JADI KORBAN KEPALSUAN BIBEL

Ayat Alkitab (Bibel) yang diyakini Coots sebagai mukjizat iman adalah Injil Markus 16:17-18:

“And these signs shall follow them that believe… They shall take up serpents; and if they drink any deadly thing, it shall not hurt them” (King James Version)

“Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya, ....mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka” (Alkitab Terjemahan Baru).

“Sebagai bukti bahwa mereka percaya, ....kalau mereka memegang ular atau minum racun, mereka tidak akan mendapat celaka” (Alkitab Bahasa Indonesia Sehari-hari).

Menurut ayat tersebut, Yesus Kristus menggaransi bahwa orang Kristen yang beriman pasti memiliki beberapa bukti mukjizat, antara lain: tidak akan celaka bila memegang ular berbisa yang mematikan dan tidak akan celaka bila meminum racun yang mematikan.

Dengan kata lain, pembuktian kebenaran iman orang Kristen menurut ayat tersebut bisa dilakukan dengan testing memegang ular berbisa dan meminum racun. Bila orang Kristen tidak mengalami celaka sedikitpun, setelah memegang ular berbisa atau meminum racun, maka keimanan orang Kristen sudah benar sesuai standar ajaran Yesus. Dan sebaliknya, orang Kristen yang celaka setelah memegang ular berbisa atau meminum racun, maka keimanannya belum sesuai standar. Apalagi orang Kristen yang tidak berani menguji imannya dengan memegang ular berbisa atau meminum racun, mereka berarti meragukan mukjizat iman yang diajarkan Yesus dalam Injil Markus.

Para pendeta Kristen itu tak seharusnya mati sia-sia menjadi korban gigitan ular beracun demi membuktikan mukjizat iman, bila ia mau berpikir ilmiah dan alkitabiah. Karena Injil Markus 16:9-20 sudah diakui kepalsuannya secara konsensus oleh para ilmuwan Kristen sendiri.

Dalam The Five Gospels Injil Markus 16:9-20 sama sekali tidak dicantumkan. Kalau ayat ini asli, tentunya ayat ini tercantum dalam Bibel yang disusun oleh yang disusun oleh Robert W Funk, Roy W Hoover dan The Jesus Seminar itu.

New York International Bible Society dalam The Holy Bible New International Version, di bawah pasal 16 ayat 8 (hlm 780), meletakkan garis tegas yang memisahkan ayat 16:8 dengan ayat berikutnya (16:9-20). Di bawah garis tersebut terdapat peringatan yang berbunyi: “The two most reliable early manuscripts do not have Mark 16:9-20.” (Dua manuskrip yang paling tua (codex Sinaiticus dan codex Vaticanus) tidak memiliki Markus 16:9-20).

The Holy Bible New King James Version terbitan tahun 1994, pada halaman 993 menjelaskan: “Verses 9-20 are bracketed in NU-Text as not original. They are lacking in Codex Sinaiticus and Codex Vaticanus, although nearly all other manuscripts of Mark contain them.” (Ayat 9-20 di dalam tanda kurung pada teks NU adalah tidak asli. Ayat-ayat itu tidak terdapat dalam codex Sinaiticus dan codex Vaticanus, meskipun hampir semua manuskrip Markus yang lain memuatnya).

NU-Text adalah Alkitab gabungan dua versi Alkitab, yaitu: versi The Nestle Aland Greek New Testament dan The United Bible Societies edisi ke-3.

International Bible Society dalam The Holy Bible New International Version, halaman 1040 juga menegaskan kepalsuan penutup Injil Markus: “The earliest manuscript and some other ancient witnesses do not have Mark 16:9-20.” (Manuskrip yang paling tua dan beberapa naskah kuno tidak memiliki Injil Markus 16:9-20).

Injil Markus yang sudah terbukti kepalsuannya ini telah menewaskap banyak pendeta dan pastor. Pendeta mana lagi yang berani membuktikan mukjizat Injil palsu dengan memegang ular berbisa dan meminum racun? Siapa yang mau menyusul Pastor Jamie Coots dan Mark Randall Wolford? [A Ahmad Hizbullah MAG]


latestnews

View Full Version