View Full Version
Senin, 02 May 2011

Intelijen Hitam Di Balik Isu Terorisme

Oleh: Hanif Abdullah

Di luar aneka hipotesis yang sedang berkembang di masyarakat, penulis ingin mengajak anda sekalian untuk sedikit berpikir out of the box. Perjalanan kasus terorisme di Indonesia bila dirunut  dan ditelusuri dengan kepala dingin selalu menimbulkan teka-teki. Seperti sebuah permainan yang telah di-setting kapan harus dimulai dan diakhiri. Aneh bin Ajaib!  Tapi inilah yang terjadi. Banyak kalangan telah ikut ambil bagian dalam mengomentari rangkaian peristiwa tersebut. Salah satu pendapat menyatakan seolah memang ada permainan intelijen di dalamnya. Walaupun pada faktanya para pelaku merasa tidak pernah ditunganggi oleh pihak-pihak yang ingin memancing di air keruh.

Dalam kasus amal jihad tersebut, penulis bukan ulama yang bisa menghukumi boleh atau tidaknya, syar’i atau tidaknya, jihad yang dilakukan oleh para pelakunya. Hal ini sudah dibahas oleh ‘ulama-‘ulama yang jujur dan kompeten di bidangnya. Penulis hanya  ingin mengungkap tentang makar orang-orang yang tidak suka bila agama Allah menjadi mulia dan berkuasa di seluruh penjuru alam semesta.

Jihad adalah amalan puncak dalam Islam, pembuktian benar atau tidaknya iman, cinta dan loyalitas seorang muslim kepada diennya.

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar” (Qs Ali Imran 142).

Jihad juga sebagai pembeda antar muslim, munafik dan kafir dalam waktu bersamaan.

"Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak turut berperang) yang tidak mempunyai udzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar" (Qs An-Nisa' 95).

Jihad juga adalah perisai dakwah, pelindung eksistensi kaum muslimin dan pengawal dalam menyebarkan Islam sebagai rahmat untuk alam semesta.

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan"  (Qs Al-Ma'idah 35).

Karena ketinggian dan kemuliaan amal jihad, musuh-musuh Islam mencoba dengan berbagai cara dan makar untuk menjauhkan kaum muslimin dari mengenalnya, mempelajarinya, dan mengamalkannya. Musuh-musuh Islam bekerja siang dan malam, mengeluarkan dana dan mengerahkan semua yang dimiliki agar umat tidak bangkit dan berjuang untuk membela agamanya dan menolong saudar-saudara mereka yang tertindas di belahan bumi manapun.

Salah satu cara mereka menjauhkan umat dari jihad adalah dengan menimbulkan konflik horisontal (baca: adu domba). Cara yang sudah usang sebenarnya, namun ternyata masih layak dan efektif untuk digunakan. Fenomena ini, terjadi hampir di seluruh belahan dunia tempat kaum muslimin berada, tak terkecuali di Indonesia. Pemandangan ini seringkali menghiasi berita-berita  di aneka media nasional, baik di televisi, media cetak maupun elektronik. Para ulama pro jihad diadu dengan ulama yang alergi dengan jihad. Begitu juga seterusnya, dari media, pemikir dan intelektual semuanya diadu oleh orang yang mempunyai kapasitas yang sama.

Kegiatan tersebut dilakukan agar terjadi kerancuan berpikir  secara meluas dan massal. Mereka ingin membuat label dan image yang saling bertabrakan agar masyarakat menjadi tidak percaya dengan semua pendapat dan analisis dari masing-masing kubu. Hal ini untuk menciptakan sikap apatis dan malas berfikir yang menurut masyarakat muslim awam terlalu berat dan sulit untuk dicerna.

Bagi mayoritas masyarakat Indonesia yang senang berpikir instan, dan berjiwa “legowo”, maka memaafkan dan melupakan sebuah kesalahan, permasalahan, dan hal-hal yang di luar jangakauan fikir mereka adaah hal yang mudah. Propaganda dengan menggunakan adu domba pakar bahwa Islam identik dengan teroris ini ternyata tidak cukup berhasil dan hanya bersifat musiman. Label dan image yang dihasilkan diingat kembali apabila ada berita terror dan dilupakan dengan cepat setelah semuanya mereda kembali dalam waktu yang singkat.

Karena cara pertama tidak begitu berhasil maka musuh-musuh Islam pun melakukan cara kedua. Cara kedua ini adalah menciptakan aksi jihad yang efeknya terasa di masyarakat bahwa hal ini bukan sekedar wacana tapi betul-betul ada. Cara kedua ini dilakukan untuk mendukung cara pertama agar cuci otak untuk menyesatkan masyarakat dari pemahaman jihad yang sesungguhnya tidak terhenti dan mudah dilupakan.

Pola ini bisa dibaca dari rangkaian kasus bom akhir-akhir ini. Saat bom buku mengguncang Jakarta dan pada akhirnya membuat suatu phobia yang meluas secara massif di seantero nusantara, membuat hampir semua mata rakyat Indonesia tertuju ke sana. Terror bom buku menjadi komoditi perbincangan yang paling  laris diangkat, dari kalangan artis hingga obrolan ringan rakyat jelata di kedai kopi. Pembicaraan akan hal ini, seolah menutup seluruh isu dan permasalahan lain yang lebih krusial yang sedang ataupun telah menimpa negeri ini. Orang-orang heboh membahas simbol-simbol Islam dan membuat stigma buruk terhadap simbol-simbol Islam tersebut.

Selang beberapa minggu kemudian, tanpa angin dan hujan, meledaklah bom di masjid Mapolres Cirebon. Hal ini semakin meneguhkan bahwa apa yang selama ini dituduhkan kepada para aktivis Islam itu benar adanya: mereka adalah para teroris.

....Salah satu pemainnya adalah intelijen hitam yang dibiayai negara asing untuk membunuh kebangkitan Islam di Indonesia....

Intelijen Hitam Bermain

Keterkaitan antara pembentukan opini dan serangkaian kasus yang terjadi makin membuka pikiran banyak orang bahwa banyak kepentingan yang bermain dalam setiap kasus yang menyudutkan umat Islam di Indonesia ini. Salah satu pemainnya adalah intelijen hitam yang dibiayai oleh negara-negara asing untuk membungkam dan membunuh kebangkitan Islam di Indonesia.

Ada kisah menarik tentang intelijen hitam yang pernah penulis dengar dari sumber terpercaya, yaitu tentang kasus Talangsari di Lampung. Sebelum penyerbuan dilakukan terhadap perkampungan yang dituduh hendak membuat makar terhadap negara Indonesia sebelumnya telah berkeliaran orang-orang yang tak dikenal berpura-pura menjajakan dagangan. Sambil berdagang mereka menyebarkan isu bahwa perkampungan yang dituduh hendak membuat makar adalah aliran sesat, dan berbagai tuduhan yang tak mendasar lainnya.

Setelah opini masyarakat sekitar terbentuk bahwa perkampungan di desa Talangsari itu adalah aliran sesat maka penyerbuan aparat sudah mendapat legitimasi dan bisa dibenarkan tanpa disadari oleh umat Islam sendiri bahwa mereka telah mendukung pembunuhan terhadap saudaranya. Hal ini lah yang harus diwaspadai oleh umat Islam bahwa tidak semua opini yang dilakukan oleh media adalah kebenaran. Ada kepentingan yang menungganginya dan hampir semua media tidak pro terhadap umat Islam.

"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami ya Tuhan kami. Sesungguhnya, Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana" (Al-Mumtahanah 5). Wallahu a'lam! [voa-islam.com]


latestnews

View Full Version