View Full Version
Ahad, 23 Nov 2014

Dehumanisasi dan Kerusakan Alam Merajalela, Kembali Kepada Islam Solusinya

Oleh: Muhammad Iqbal Almaududi

Di zaman yang gila seperti sekarang ini. Manusia diseluruh dunia bisa dibilang sudah tidak peduli dengan sekitarnya. Baik itu dengan alam, atau dengan sesama manusia itu sendiri. Hal ini bisa disebut dalam Indonesia slank “Emangnya gue pikirin”. Kenapa saya bisa berkata seperti itu? Karena memang semakin hari dunia ini semakin tidak stabil. Dari segi alam kita bisa lihat, alam sudah tidak ramah lagi dengan kita. Alam tidak ramah lagi dengan kita, bukan suatu hal kebetulan, tapi ini adalah ulah tangan manusia sendiri. Dan yang berikutnya adalah dengan manusia. Manusia sudah jarang yang peduli dengan sesama manusia, karena mereka lebih mementingkan dirinya sendiri, dan sangat melupakan kepentingan orang lain, bahkan hal yang berbahaya sekalipun.

Ketidakseimbangan Alam

Akan terjadinya keseimbangan alam ketika manusia merawatnya. Manusia sebagai makhluk cipataan Allah SWT yang sempurna seharusnya sadar, kalau menjaga alam adalah suatu hal yang wajib dilakukan. Contoh kecil adalah pohon, ketika kita membudidayakan pohon, itu akan mencegah kelongsoran dan banjir. Tapi apa nyatanya? Dengan alasan pembangunan kota, pohon-pohon besar yang menjadi jantung kota ditebang sampai habis. Sudah susah mendapatkan udara segar di kota-kota besar. Seharusnya kota besar membudidayakan pohon, agar tidak terjadinya bencana alam yang tidak di inginkan. Pohon berperan besar dalam menyerap air, ketika pohon dihilangkan dan hujan datang dengan derasnya, tidak ada lagi penyerap air yang alamiah.

Dengan kerusakan alam ini, aktivitas manusia akan tersendat. Inilah kenapa pentingnya menjaga alam dengan baik. Manusia tidak bisa beralasan untuk bisnis dengan mengabaikan lingkungan. Banyak hutan-hutan yang berguna untuk sumber oksigen, tak lama disulap oleh pembisnis kapitalis kolonialis menjadi perumahan mewah. Bagaimana mana bisa membuat keseimbangan alam, kalau manusia saja berulah tidak manusiawi layaknya sifat dasar manusia. Kita diajarkan oleh agama kita, agar menjaga alam dan sekitar. Menjaga alam, berarti menjaga tumbuhan, hewan dan menjaga sesama manusia. Para pembisnis, boleh saja melakukan bisnis, tapi harus ingat dengan 3P, yaitu People, Planet dan Profit. Sekarang pebisnis hanya berambisi untuk people dan profit saja, Planet ditinggalkan dan dibiarkan begitu saja seperti sampah. Padahal, tanpa disadari dia sudah mengeksploitasi dengan seenaknya. Dengan begini, harus dan wajibnya dilakukan kesadaran untukmenjagakelestarianalam oleh semua manusia di seluruh penjuru dunia.

Dehumanisasi

Saat ini, manusia sudah tidak memperlakukan manusia seperti manusia lagi. Di China, keluarga yang memiliki anak lebih dari 1, harus membayar pajak atau dibunuh. Dengan fenomena ini saja, kita bisa melihat, bahwa sudah sadisnya manusia terhadap manusia. Apakah tega seorang manusia membunuh bayi yang masih suci? Biarlah hati nurani anda yang menjawab. Sama halnya dengan sikap Israel yang dibantu oleh sekutunya Amerika membantai habis-habisan masyarakat Palestina serta membunuh para anak-anak dan ibu hamil. Kalau anda tidak Muslim, tidak perlu untuk masuk Islam untuk simpati pada hal ini, anda hanya perlu menjadi manusia biasa saja untuk bisa simpati terhadap hal ini.

Mereka (Israel dan Amerika) adalah negara yang selalu teriak Hak Asasi Manusia. Hak asasi manusia tidak berlaku ketika mereka melakukan kejahatan kepada warga Palestina. Kita sebagai orang yang berada diluar konflik tersebut seharusnya sadar dan membela warga Palestina untuk memberhentikan Israel dan Amerika menyerang. Kita harus membela karena kita sesama manusia yang mempunyai hak untuk hidup dan bahagia.

Tapi apa buktinya? Kita tidak terlalu simpatik dan empati kepada mereka, kita hanya mendengar dari radio atau televisi (Tell Lie Vision), dan hanya untuk sekedar tau saja. Ini tanda bahwa kita sudah peduli lagi dengan sesama manusia. Manusia dengan manusia harusnya saling membantu dalam kebaikan. Sekarang juga, manusia akan baik dengan manusia dengan cara transaksional. Baik kepada orang lain kalau ada uangnya. Ini tidak manusiawi, kita harusnya membantu sesama dengan hati dan semangat kita. Kalau kita sebagai manusia selalu mengukur apapun dengan uang, kita akan menjadi manusia yang materialistik dan tidak manusiawi. Maka dari itu, kita perlu perenungan yang mendalam akan hal ini, agar kembalinya sifat manusia kepada sifat manusia yang fitrahnya.

Upaya Menghadapi Situasi

Ketidakseimbangan alam dan dehumanisasi tidak bisa dibiarkan begitu saja. Karena ini akan merusak hakekat manusia itu sendiri. Kita harus memulai untuk melakukan perbaikan demi perbaikan untuk bisa menyelesaikan masalah ini. Ini bukan masalah kecil, namun ini sudah menjadi masalah klasik yang berbahaya namun dianggap seperti tidak ada. Ini bahaya, karena akan tidak baik untuk di masa depan. Karena kelalaian kita hari ini, akan menjadi beban berat untuk generasi di belakang kita.

Bersyukur akan Ciptaan Allah SWT

Allah telah memberikan segala nikmat kepada umat manusia dengan gratis. Manusia hanya perlu untuk bersyukur. Kenapa? Karena dengan bersykur kepada Allah, akan ditambahkan nikmat yang lainya. Maka dari itu, bersyukur itu perlu dilakukan agar Allah tidak murka dengan kita. Salah satu cara bersyukur adalah dengan menjaga dan merawat alam. Menjaga dan merawat berarti membudidayakan agar terus berkembang biak dan tidak merusak alam. Contohnya, tidak membakar hutan, tidak membuang sampah sembarangan dan tidak menggunakan alam sepuasnya tanpa batas. Dengan begini, kemungkinan Allah akan menjauhkan kita dari segala mala petaka yang akan disebabkan karena alam yang tidak stabil.

Kesadaran kolektif

Sadar harus dimulai dari diri sendiri. Tidak bisa hanya mengandalkan orang lain, tanpa kita mencontohkanya. Karena, ketika kita memulai untuk baik pada alam dan baik sesama manusia dengan dimulai dari diri kita, sama saja kita mencontohkan pada orang lain hal yang baik dan terpuji. Dengan begini. Akan terjadi perbaikan dengan berangsur-angsur. Karena, kebaikan akan terjadi ketika berhasil dimulai. Dimulai dari hal kecil, akan berdampak besar.

Saling Mengingatkan

Kita diajarkan oleh agama Islam untuk saling menginggatkan dalam kebaikan. Ketika kita harus menginggatkan orang lain demi kebaikan bersama, tidak ada alasan untuk kita untuk tidak melakukannya. Tapi mungkin, kita harus menggunakan cara-cara yang persuasif agar orang yang kita ingatkan menjadi simpati kepada kita. Dengan begini, sama saja kita mengajak orang untuk baik dan peduli kepada alam dan kepada sesama manusia.

Catatan Penutup

Dengan sadarnya kita akan ketidakkesimbangan alam dan kesenjangan sosial sesama manusia, kita harus mulai melakukan perubahan dimulai dari diri kita sendiri. Kembali kepada sifat dasar manusia akan semakin membuat kita sadar dan terus melakukan perbaikan. Karena perbaikan yang kita lakukan akan berdampak kepada kita sebagai manusia dan alam. Dan ingatlah, perbaikan yang kita lakukan tidak akan pernah menjadi hal yang sia-sia, karena dengan perbaikan ini, menunjukkan bahwa kita cinta dengan anak-anak kita yang berperan sebagai generasi setelah kita. Dan ingatlah, kelalaian kita hari, akan menjadi beban berat untuk generasi dibelakang kita.

Share this post..

latestnews

View Full Version