View Full Version
Senin, 27 Apr 2015

Bumi Syam Memanggil Setiap Muslim di Seluruh Dunia

DAMASKUS (voa-islam.com) - Tidak ada penderitaan yang sangat mengerikan di muka bumi ini, kecuali di Sruiah. Begitu luar biasa penderitaan yang dialami Muslim Suirah. Semua penderitaan itu, hanyalah akibat kejahatan yang terkutuk rezim Syi'ah Bashar al-Assad. Segala senjata sudah ditumpahkan untuk membunuh rakyatnya termasuk senjata kimia.
 
Jeritan dan tangisan anak-anak kecil yang sudah yatim piatu, tangisan orang tua renta yang kehilangan sanak saudara dan  rintihan batin korban luka-luka yang kehilangan anggota badannya menjadi pemandangan memilukan yang terjadi setiap harinya di Suriah. Setiap hari ratusan orang-orang sipil Suriah tewas akibat bom barrel.
 
Hingga kini, jumlah korban jiwa telah mencapai lebih dari 300.000 jiwa sejak tragedy berdarah ini terjadi di tahun 2011. Lebih dari 2 juta penduduk kehilangan tempat tinggal yang mengharuskan mereka rela tinggal di tenda-tenda pengungsian yang jauh dari kata layak untuk tempat tinggal.
 
Krisis inipun telah menelan ratusan ribu korban luka-luka berat akibat muntahan bom birmil dan roket-roket yang diluncurkan oleh rezim tiran secara sporadis. Boleh jadi angka-angka tersebut masih terus bertambah setiap harinya.
 
Tentu saja tidak ada yang mengetahui secara persis kapan tragedy kemanusian ini akan berakhir, kecuali hanya Allah Sang Maha Pencipta. Namun, bagaimana pun juga tidak ada alasan bagi kita untuk menutup mata dan telinga dari penderitaan rakyat Suriah yang semakin bertambah hari bertambah pula duka dan nestapa mereka.
 
Ironisnya lagi, di tengah penderitaan rakyat muslim Suriah masih ada yang memandang sebelah mata terhadap bantuan kepedulian kepada mereka. Bahkan ada pula yang bersikap melampaui batas dengan menuduh setiap bantuan kemanusiaan yang dikirimkan ke Suriah hakikatnya membantu para teroris. Tentu saja, tuduhan keji seperti ini menjadi cerminan buruk dan rendahnya nilai kemanusiaan yang dimiliki.
 
Ditambah lagi, ucapan-ucapan sumir yang menganggap membantu saudara sebangsa yang lebih dekat jauh lebih penting dari pada membantu orang jauh yang tidak ada kaitannya dan hubungan darah. Apa pun komentar dan anggapan yang keluar dari sebagian kalangan, hal itu tak lepas dari ketidaktahuan tentang arti petingnya membantu muslim Suriah. Benarlah perkataan matsal ‘arobi (kata mutiara arab) “Annaasu a’daau maa jahiluu” (manusia seringnya memusuhi apa yang tidak mereka ketahui).
 
Sebagai seorang muslim yang ditakdirkan menjadi warga negara Indonesia, membantu rakyat muslim Suriah seharusnya menjadi “kewajiban” dan “kebutuhan”. Sejatinya kita lah yang butuh  untuk membantu mereka. Bukan mereka –rakyat Suriah- yang membutuhkan bantuan kita. Mengapa demikian ?
 
Karena dengan adanya krisis kemanusiaan di Suriah saat ini sejatinya menjadi moment baik bagi kita kaum muslimin Indonesia untuk membantu mereka agar bisa mendapatkan doa-doa mustajab dari mereka. Bukankah doa-doa orang yang terdholimi mustajabah di hadapan Allah ?! Diharapkan dengan doa-doa mereka bisa merubah kondisi bangsa kita ini menjadi lebih baik dari pada sebelumnya dan saat ini.
 
Memang tidak mudah untuk membuka mata hati agar mau peduli dengan saudaranya apalagi yang berada jauh di Suriah sana. Berikut ini beberapa alasan kenapa kita harus membantu mereka :
 
1.Keterkaitan muslim suriah dengan muslim Indonesia diikat dengan ikatan persaudaraan yang ditetapkan oleh Allah ta’aa. Sebuah ikatan persaudaraan yang menembus batas territorial negara dan letak geografis. Sebagaimana firman-Nya : “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara” [ QS. Al Hujurot (49) : 10 ].
 
2.Negeri Suriah adalah kawasan yang termasuk wilayah bumi Syam yang diberkahi oleh Allah ta’ala. Bahkan negeri Suriah menjadi jantung bumi Syam. Negeri Suriah juga bagian dari bumi yang dinaungi oleh para malaikat Ar Rohmân.
 
Hal itu seperti yang dikabarkan oleh Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam- : “Beruntunglah negeri Syam, -beliau ucapkan tiga kali-. Sesungguhnya para malaikat Ar Rohman membentangkan sayap-sayapnya di atas bumi Syam” [HR. Ahmad]. Inilah bentuk kemuliaan bumi Syam atas negeri-negeri lainnya yang ditetapkan oleh Allah Robbul ‘Izzah.
 
Menjadi kewajiban bagi setiap mukmin untuk memuliakan apa yang dimuliakan oleh Allah ta’ala dan mengagungkan apa yang diagungkan oleh-Nya. Itulah konsokwensi iman. Namun, hari ini bumi Syam telah kehilangan kemuliaan dan kemerdekaannya. Akankah kita membiarkannya?!
 
3.Kebaikan dan keburukan kaum muslimin di seluruh dunia ditentukan dengan kebaikan dan keburukan penduduk negeri Syam. Hal itu telah dinyatakan oleh baginda Nabi Muhammad -shollallohu ‘alaihi wa sallam- dalam sabdanya :
 
“Apabila telah rusak penduduk negeri Syam, maka tidak ada lagi kebaikan bagi kalian” [HR. Ahmad].
 
Jika kita mengabaikan persoalan negeri Syam maka keburukan dan kebinasaan juga akan menimpa kita semua. Inilah yang dipahami oleh para pendahulu kita dari generasi terbaik umat ini yaitu dari kalangan sahabat Nabi.
 
Tidak mengherankan jika dalam catatan sejarah telah mengabadikan bagaimana kegigihan mereka dalam mebebaskan bumi Syam dari cengkeraman penguasa dzolim. Akankah kita mengabaikannya sementara darah ribuan syuhada telah dipersembahkan untuk membebaskan dan memuliakannya ?!
 
4.Sudah banyak dari kalangan rakyat Suriah yang tertindas mengirimkan pesan-pesan dan permohonan bantuan kemanusiaan ke seluruh penjuru dunia melalui media social. Beraneka ragam bentuk permohonan bantuan  yang mereka kirimkan, mulai dari keamanan diri, bantuan makanan, bantuan pakaian dan kebutuhan hidup lain. Masihkah kita berdiam diri tatkala ada sebagian dari saudara kita berteriak meminta pertolongan ?!
 
sementara dalam hadits qudsi Allah meminta pertanggung-jawaban kepada seorang hamba ketika ada saudaranya meminta bantuan namun dia tidak membantunya.
 
Sebagaimana dalam hadits shohih Muslim, Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam- pernah bersabda : Allah berfirman : “Wahai anak Adam, Aku sakit dan engkau tidak menjenguk-Ku. Berkata sang hamba :”Ya Robb, bagaimana mungkin aku menjengu-Mu sedangkan Engkau adalah Tuhan semesta alam?!
 
Allah berfirman : "tidakkah engkau tahu bahwa hamba-Ku fulan sedang sakit, jikalau engkau menjenguknya niscaya akan kau dapati Aku di sisinya. Wahai anak Adam, Aku meminta makan kepadamu dan engkau tidak memberi-Ku makan. Berkatalah sang hamba : wahai Robb, bagaimana aku memberi-Mu makan sedangkan Engkau adalah Robb semesta alam?! Tidakkah kau ketahui bahwa hamba-Ku fulan meminta kepadamu makan dan engkau tidak memberinya makan, tahukan engkau jikalau kau memberinya makan niscaya engkau akan mendapatinya di sisi-Ku” [HR. Muslim].

Lalu, akankah kita menghindar dari pertanyaan tersebut di hari kiamat kelak ?! Alasan apakah yang akan kita sodorkan tatkala kita menghindar dari tanggung jawab itu, sementara informasi tentang penderitaan mereka telah sampai kepada kita ?!
 
5.Saat ini tragedy kemanusiaan yang terjadi di Suriah sudah ditetapkan oleh PBB sebagai krisis kemanusiaan terbesar pasca perang dingin. Hal itu telah disampaikan oleh sekjen PBB Ban Ki Moon dalam banyak moment. Masihkah kita menganggap remeh permasalahan ini ?! tidak peduli kah kita dengan mereka!
 
6.Urusan peduli dan rasa kemanusiaan tidaklah selamanya diukur dengan dekat atau jauhnya jarak yang ditempuh. Tidak pula selamanya yang dekat lebih penting dari pada yang jauh. Bisa jadi kenestapaan dan penderitaan yang berada jauh dari kita, lebih mendesak kebutuhannya dari pada yang lebih dekat.
 
Dan boleh jadi kepeduliaan kita dengan orang yang terjauh dari kita menjadi sebab turunnya barokah dan rohmah untuk orang-orang yang lebih dekat dengan kita. Tidakkah kita ambil pelajaran dari kebijakan kholifah Abu Bakar –rodliyallohu ‘anhu- tatkala beliau berpendirian kuat untuk memberangkatkan pasukan Usamah bin Zaid ke Syam sementara kondisi di Madinah sendiri dalam keadaan labil.
 
Banyaknya gerakan pemurtadan dan pemberontakan dan pembangkangan di sekitar Madinah, menjadi pertimbangan bagi sebagian besar sahabat Nabi tidak terkecuali Umar bin Khotthob untuk memberikan saran kepada Kholifah Abu Bakar menunda pemberangkatan pasukan Usamah bin Zaid.
 
Namun secara tegas Abu Bakar menolak penundaan tersebut dan tetap memberangkatkan pasukan Usamah menuju ke Syam untuk membebaskan para penduduknya dari penguasa dzolim Romawi saat itu. Di luar dugaan, keberangkatan pasukan tersebut justru membuat kondisi di Madinah stabil.
 
7.Beberapa waktu yang lalu, kaum muslimin di Gaza-Palestina juga mengadakan penggalangan dana untuk muslimin Suriah. Subhanalloh, mereka dalam kondisi yang memprihatinkan masih mau peduli dengan yang lain. Lalu bagaimana dengan kita ?!
 
Tidak malukah kita sebagai kaum muslimin Indonesia yang hidupnya relatif lebih aman dan nyaman ketimbang saudara-saudara kita di Gaza-Palestina ?! Seharusnya info ini menjadi motivasi bagi untuk berlomba-lomba dalam kebaikan.
 
Semoga beberapa alasan ini bisa membuka mata hati kita untuk lebih peduli dengan saudara-saudara kita yang tertindas di negeri Syam. Kita pun berharap semoga Allah ta’ala melimpahkan keberkahan bagi negeri ini dikarenakan kepedulian kita terhadap saudara-saudara yang ada di sana.
 
(abu harits/FIPS/abimontrono/voa-islam.com)

latestnews

View Full Version