View Full Version
Kamis, 14 Jul 2016

Kapitalisme: Bikin Mudik Makin Bergidik

Sahabat VOA-Islam...

Sepekan sudah kita merayakan hari besar umat muslim diseluruh dunia yaitu hari raya idul fitri. Khususnya indonesia banyak masyarakat yang merayakannya dengan cara pulang ke kampung halaman (mudik) guna bersua dengan sanak keluarga dan kerabat. Tradisi mudik ini selalu ada disetiap perayaan idul fitri karena ini adalah momen yang paling ditunggu-tunggu oleh masyarakat banyak tanpa mengenal batas dan status apakah kaya atau miskin, pejabat atau kalangan biasa.

Bagi seorang muslim tradisi mudik tahunan yang diisi dengan kunjung-mengunjungi, silaturahmi, dan saling bermaaf-maafan merupakan tradisi yang lahir dari pemahaman islam. Rasulullah SAW pernah bersabda:

“Berkunjunglah tidak terlalu sering maka akan bertambahlah kecintaan“ (Syu’bul iman lil baihaqi). Demikian pula dengan hadits Nabi SAW. “Maukah kalian aku tunjukkan amal yang lebih besar pahalanya dari sholat dan shaum?”. Sahabat menjawab “Tentu saja”. Kemudian rasul menjelaskan “Engkau damaikan yang bertengkar, menyambungkan persaudaraan yang terputus, mempertemukan kembali saudara-saudara yang terpisah, menjembatani berbagai kelompok dalam islam dan mengukuhkan ukhuwah diantara mereka, (semua itu) adalah amal sholeh yang besar pahalanya. Barangsiapa yang ingin dipanjangkan usianya dan dibanyakkan rezekinya hendaklah ia menyambungkan tali persaudaraan.” (HR. Bukhari Muslim).

Namun dibalik itu semua ternyata banyak problematika yang dihadapi masyarakat setiap menjelang hari raya idul fitri ini terutama pada saat akan melakukan perjalanan mudik. terutama jalur darat yang sudah seringkali menimbulkan banyak permaslahan karena dari sinilah banyak timbul kecelakaan yang menelan korban luka bahkan sampai meninggal dunia. Dan hal ini seolah sudah menjadi hal yang biasa terjadi di Indonesia. Bahkan untuk tahun ini saja (2016) meskipun sudah dibangun jalan bebas hambatan yang baru tetap saja tidak dapat mengurangi kecelakaan dan mengurai kemacetan. Bahkan banyak pemudik yang harus rela pulang ke kampung halaman dengan menempuh puluhan jam selama dalam perjalanan. Tentu saja ini bukan sesuatu yang “menyenangkan” untuk masyarakat yang akan melakukan perjalanan mudik.

Lalu bagaimana hal ini bisa terus menerus terjadi dan bagaimana islam memberikan solusi akan permasalahan ini ?

Tentu mudik bukanlah persoalan. Pemerintah tentu saja tidak bisa melarang warganya untuk mudik. Mudik tidak akan pernah menjadi persoalan seandainya negara melaksanakan tanggungjawabnya dengan baik dengan membangun infrastruktur yang layak dan memiliki perencanaan yang baik untuk memeratakan pembangunan disetiap wilayah yang berada dalam kekuasaannya.

Persoalan infrastruktur adalah merupakan tanggung jawab negara, bukan tanggung jawab investor swasta karena hal ini terlalu rumit dan mahal jika diserahkan pada investor swasta. Banyak proyek untuk kepentingan publik menjadi terbengkalai tidak selesai ketika dikelola investor swasta. Selain itu tranportasi yang kurang memadai menjadi penyumbang terbesar terjadinya kecelakaan. Pasalnya banyak transportasi darat baik umum atau pribadi yang kurang memperhatikan kondisi kendaraannya dan juga banyaknya pemudik yang memilih menggunakan kendaraan pribadi sehingga volume kendaraan semakin meningkat.

Didalam naungan islam tentu saja hal-hal seperti itu tidak akan terjadi, kenapa?

Karena negara akan mengeluarkan dua kebijakan yaitu perencanaan pemerataan pembangunan dan perbaikan infrastruktur. Negara wajib mnejadi fasilitator dalam pembangunan yang merata disetiap wilayah untuk kepentingan rakyatnya. Khusus untuk sarana dan prasarana jalan raya tentu negara akan membuat fasilitas jalan yang memadai dan nyaman untuk digunakan dengan disediakannya tempat-tempat peristirahatan bagi pemudik, mushola atau mesjid, dan tempat untuk mengisi bahan bakar.

Infrastruktur didalam islam juga wajib menggunakan teknologi terkini yang dimiliki seperti navigasi, telekomunikasi, fisik jalan hingga kendaraannya itu sendiri. Selain itu juga negara wajib menyediakan kendaraan umum yang layak, aman dan nyaman baik transportasi darat, laut dan udara sehingga warga tidak lagi menggunakan transportasi yang membahayakan seperti roda dua saat pemudik menempuh jarak yang jauh.

Saatnya mudik yang aman dan nyaman dalam naungan Islam. Wallahu ‘alam bish-showab

Penulis: Lia Sulastri (Ibu Rumah Tangga)


latestnews

View Full Version