View Full Version
Ahad, 10 Dec 2017

Waspadai Seruan Islam Moderat

Oleh: Laila Thamrin

Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin mengatakan beragama secara ekstrem bukanlah cara beragama yang diajarkan Rasulullah SAW. Hal ini diungkapkannya saat sambutan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tahun 1439 H yang dihadiri oleh Presiden Joko Widodo di Istana Bogor, Jawa Barat, Kamis (30/11/2017) malam.

Lukman Hakim juga mengatakan bahwa umat Islam dihadirkan sebagai ummatan wasathan (umat yang adil dan pilihan), umat pertengahan, umat moderat, umat yang adil, umat yang anti terhadap sikap ekstrimisme dan tindakan yang melampaui batas. (eramuslim.com)

Pernyataan Menag ini cukup menggelitik. Pasalnya, dia menyebutkan kata ekstrem dan wasathan, dua kata yang secara arti terkesan berseberangan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) arti kata ekstrem adalah 1. Paling ujung (paling tinggi, paling keras); 2. Sangat keras dan teguh; fanatik. Berarti jika disematkan dengan pernyataan “beragama yang ekstrem” akan menjadi “beragama dengan sangat keras dan teguh; fanatik.” Sedangkan kata wasathan sering dimaknai sebagai pertengahan atau moderasi, yang memang menunjuk pada pengertian adil.

Jadi apa yang disampaikan oleh Menag intinya bahwa Rasulullah SAW itu tidak mengajarkan beragama secara ekstrem. Dan umat Islam adalah umat yang berada dipertengahan atau moderat. Umat Islam yang moderat itu biasanya ditunjukkan dengan sikap seorang muslim yang terbuka kepada siapa saja, baik kepada sesama muslim, non muslim, bahkan kepada orang yang atheis sekalipun. Toleran terhadap penganut agama lain, mengakui pelaku LGBT, menerima keberadaan PSK, menyetujui nikah beda agama atau nikah sesama jenis, menjadikan adat sebagai bagian dari syariat, dan sebagainya. Namun di sisi lain alergi dengan jilbab, jihad dan syariat.

Rakyat terus digiring untuk menerima Islam moderat sebagai bagian dari hidupnya. Hal-hal demikian dianggap sebagai perilaku umat Islam yang baik, yang wasathan atau moderat. Bahkan pemahaman Islam moderat ini juga telah dikukuhkan dalam Deklarasi Serpong pada Senin, 21 November 2017, bersamaan dengan acara International Islamic Education Expo (IIEE) atau Pameran Pendidikan Islam Internasional 2017 di Serpong, Tangerang Selatan.

Dalam acara tersebut, Deklarasi Serpong diucapkan bersamaan oleh perwakilan beberapa ormas Islam, diantaranya NU, Muhammadiyah, Mathla’ul Anwar, dan Al Khairat. Serta Rektor  UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya mewakili pimpinan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI). Menag Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, “Isi Deklarasi Serpong adalah bagaimana kita menjadikan Islam wasathiyah, Islam yang rahmatan lil alamin sebagai pedoman untuk menyebarkan Islam moderat.” (detiknews.com)

Islam moderat tidak pernah dikenal dalam Islam dan bukan berasal dari Islam. Barat memang sangat suka memberikan berbagai label untuk mengkotak-kotakkan umat Islam. Taruhlah seperti Islam Fundamental, Islam Radikal, Islam Liberal, Islam Nusantara, Islam Moderat, dan sebagainya. Tujuannya agar antar kelompok dalam Islam ini saling cela, menjatuhkan dan bermusuhan, hingga akhirnya terjadi perpecahan. Jadi jelas, istilah ini bukan berakar dari Islam.

Pemahaman Islam moderat ini sangat berbahaya bagi umat. Islam moderat akan dijadikan sebagai senjata untuk melemahkan aqidah umat. Karena akan menjauhkan dari ajaran Islam yang sesungguhnya...

Ajaran Islam akan senantiasa dikompromikan dengan keadaan, situasi, kondisi dan siapa yang dihadapi. Dan identitas sebagai muslim yang berkepribadian Islam menjadi kabur karenanya. Padahal Rasulullah SAW pernah bersabda ,”Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi” (HR. Ad Daruquthni).

Dalam Islam, tak pernah ada labeling. Islam itu hanya satu. Islam ya Islam. Seluruh aturan tentang kehidupan manusia termuat di dalam Alquran dan assunah dengan lengkap. Islam yang sekarang tak ada bedanya dengan Islam yang diturunkan di masa Rasulullah SAW. Tak ada yang tereduksi. Yang terus berkembang itu hanyalah persoalan hidup manusia dari masa ke masa. Allah SWT telah menegaskan dalam firmannya:

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Alkitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka karena kedengkian (yang ada) diantara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah, maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisabnya.”(QS. Ali Imran : 19)  

Islam mengajarkan bahwa Iman itu adalah percaya dan yakin kepada keberadaan Allah SWT sebagai satu-satunya Rabb yang berhak disembah, percaya dan yakin kepada MalaikatNya, Kitab-kitabNya, Nabi dan RasulNya, Hari Kiamat, serta Qadha-Qadar baik dan buruknya. Islam telah menetapkan tata cara sholat, puasa, zakat dan berhaji. Juga tata cara pernikahan, perceraian, pengasuhan anak, perwalian dan pewarisan.

Islam mengatur hukum-hukum bagi pezina, pencuri, peminum khamr, pembunuh, penjudi, koruptor, pelaku liwath(homoseks), dan pelanggaran lainnya. Begitu juga masalah ekonomi, pendidikan, sosial dan politik. Lengkap tak ada yang tertinggal. Hingga Islam sebagai rahmatan lil alamin akan terwujud jika Islam diterapkan secara sempurna dan menyeluruh, bukan menjadikan Islam Washatan atau Moderat.

Dalam Islam antara al haq dan al bathil itu tegas. Beda Islam dan Kafir itu jelas. Tak ada yang sifatnya ditengah-tengah atau moderat. Allah SWT berfirman, “Janganlah kalian campur adukkan antara kebenaran(al haq) dan yang bathil, dan kalian sembunyikan yang benar padahal kamu mengetahuinya.” (QS. Al Baqarah : 42)

Beragama yang eksrem justru menjadi hal yang penting bagi umat Islam. Karena hanya dengan beragama dengan “keras dan teguhlah” maka Islam dan umatnya akan tetap terjaga hingga akhir zaman. Sebagaimana firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman masuklah kamu sekalian ke dalam Islam secara Kaaffah dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya syaithan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al Baqarah : 208)

Jadi, umat Islam harus waspada terhadap seruan Islam moderat ini yang sebenarnya adalah upaya dari Barat dan musuh-musuh Islam lainnya untuk menjauhkan Islam dari umatnya, memecah belah kaum muslimin dan menghalangi kembalinya kebangkitan Islam. Wallahu’alam bish showwab.

*Anggota Komunitas Revowriter


latestnews

View Full Version