View Full Version
Ahad, 07 Oct 2018

[Story Hamka-4] Metode Belajar Hamka

Oleh: Roni Tabroni*

Pada dasarnya, sejak kecil Hamka sudah senang belajar. Hanya saja, metode yang diterapkan oleh ayahnya (Haji Rosul) dirasa tidak cocok bagi dirinya.

Sebagai ulama terkemuka di Ranah Minang, Haji Rosul tentu saja wajar jika berharap banyak pada anak pertamanya. Harapan itu terkait dengan penerus dakwah ke depan setelah dirinya tiada.

Untuk mewujudkannya Haji Rosul kemudian mendidik Hamka kecil dengan cara yang diyakininya benar. Hamka dididik dalam pola pengajaran yang cenderung keras. Cara itulah yang diyakini Haji Rosul untuk memastikan anaknya dapat menjadi ulama besar ke depannya.

Pengajaran tentang agama dilakukan secara kompensional dan cendeung doktrinal. Metode itu juga yang diterapkan Haji Rosul ketika mengajar di Surau dan Towalib.

Seperti biasa, siswa di sekolah itu dianggap sebagai peserta didik yang harus menerima ilmu apa adanya. Metode itu minim dialog dan tidak memberikan kebebasan kepada murid-muridnya. Selain doktrin-doktrin yang disampaikan, para siswa juga diwajibkan dengan hafalan-hafalan terkait dengan al-Quran, Hadits, dan pelajaran lainnya.

Entah mengapa, Hamka tidak kerasan dengan metode yang cenderung keras, searah, dan mengandalkan hafalan. Maka resikonya, Hamka selalu jenuh dengan pola pengajaran yang tidak berkembang.

Di sisi lain, Hamka kecil termasuk anak yang suka bermain, bahkan sering lebih jauh tempat mainnya dibanding teman-temannya yang lain. Sayangnya, kesukaan Hamka kecil yang sering bermain itu tidak disukai ayahnya. Maka tidak jarang Hamka dimarahi dan dihukum ayahnya.

Di Towalib, Hamka awalnya ingin memberikan image positif, sebagai anak dari ulama besar sekaligus pendiri sekolah itu. Namun Hamka lagi-lagi tidak bisa mempertahankan sifatnya. Malasnya belajar dengan pola lama membuat Hamka sering kali membolos. Tidak jarang Hamka pulang lebih cepat atau bahkan tidak masuk sama sekali.

Pilihan Hamka kemudian jatuh pada Bibliotek (Perpustakaan) yang dimiliki salahseorang gurunya. Di bibliotek itulah Hamka merasa menemukan dunianya. Rupanya kegiatan membaca lebih disukai Hamka dibanding mendengarkan Syeih berbicara atau menghafal terus-terusan.

Di bibliotek Hamka selahap buku-buku dengan beragam jenis dan tema. Karena tidak oleh dibawa pulang, kegiatan membaca hanya dilakukan di tempat sampai menjelang sore. Setiap hari Hamka melakukan hobi belajarnya itu.

Namun, lama kelamaan, Hamka juga butuh membaca buku ketika sedang di rumah. Walaupun awalnya tetap tidak bisa dipinjam, namun Hamka kemudian merayu pemilik bibliotek. Hamka berjanji untuk menyampul seluruh buku yang ada di sana, dengan syarat mengerjakannya di rumah. Ketika dibawa ke rumah itulah buku-buku itu bisa dibaca juga di rumah pada malam hari.

Membaca buku malam hari ketika di rumah tentu bukan tanpa alasan. Hamka yakin persis jika ayahnya akan marah kalau tahu Hamka membaca buju-buku dari bibliotek. Sebab dalam pandangan ayahnya, Hamka diwajibkan belajar ilmu agama dan belum diizinkan membaca buku-buku umum termasuk buku sastra.

Namun, serapih apapun Hamka menyembunyikan hobinya, akhirnya ketahuan pula. Suatu hari Haji Rosul menemukan Hamka sedang membaca buku yang dipinjamnya itu. Kemudian memarahi Hamka dan dilarang untuk datang kembali ke bibliotek.

Selain hobi membaca, Hamka juga suka mencari pengalaman dengan pergi ke tempat yang jauh. Dalam usia yang masih belasan, Hamka sudah berangkat ke berbagai kota dengan menempuh waktu berhari-hari. Pada zamannya, tentu saja tidak ada kendaraan yang memadai. Kalaupun ada Hamka tidak memili uang untuk itu. Maka perjalanan jauh yang dilakukannya seringkali dengan cara berjalan kaki.

Dengan pengalaman perjalanan yang jauh itu, Hamka telah mengambil pelajaran penting tengang keragaman masyarakat, tentang kodisi sosial dan mengenal berbagai macam karakter orang. Bahkan ketika perjalanannya ke Jogja, Hamka masih berusia 17 tahun.

Pada saat itu, pulau jawa, belum diketahui orang-orang seusianya di Minangkabau. Sedangkan Hamka, sudah tahu keberadaan pulau Jawa dengan segala kemajuannya, lewat buku-buku yang pernah dibacanya. Bahkan Hamka juga berangkat ke Jawa dengan ekspektasi tersendiri, yaitu ingin mengetahui dan belajar tentang berbagai perkumpulan.

Hamka tahu bahwa di pulau Jawa banyak orang pintar dan membuat berbagai perkumpulan. Termasuk Hamka sudah membayangkan bagaimana pesatnya pembangunan di pulau Jawa.

Di Jogja Hamka berkenalan dengan tokoh-tokoh Sarekat Islam dan Muhammadiyah. Bagi Hamka, aktif di organisasi jauh lebih menantang. Cara belajar yang lebih dinamis, Hamka merasa lebih nyaman. Bahkan selain menjadi anggota SI dan Muhammadiyah, di Jogja Hamka juga belajar pidato, ternasuk belajar menulis kepada pendiri Persis A. Hasan di Bandung.

Awalnya, Haji Rosul sebagai ulama terkemuka dan disegani, menganggap anaknya sejak kecil termasuk anak yang membangkang. Sangat dihawatirkan Hamka kecil tidak sesuai dengan yang diharapkannya. Rupanya, Hamka memiliki cita-cita yang sama dengan ayahnya. Termasuk Hamka sangat memperhatikan amanat ayahnya untuk melanjutkan perjuangan dakwah ayah dan kakeknya.

Namun, di akhir, Haji Rosul kemudian menjadi tahu bahwa ini hanya perbedaan metode belajar saja. Sebab pada akhirnya Hamka pun menjadi pendakwah kondang dan menjadi kebanggan ayahnya itu. [syahid/voa-islam.com]

*) Penulis adalah Dosen Prodi Ilmu Komunikasi USB YPKP, UIN SGD Bandung dan Pengurus MPI PP Muhammadiyah


latestnews

View Full Version