View Full Version
Ahad, 21 Oct 2018

[Stroy Hamka-6] Yang Membuat Hamka Berbeda

Oleh: Roni Tabroni*

Sebagai putra dari ulama besar pada zamannya (Haji Rasul), Hamka saya nilai tidak persis sama. Walaupun keduanya teguh pendirian, tetapi pada banyak hal Hamka berbeda.

Haji Rasul cenderung keras, termasuk ketika mengajari Hamka. Tetapi Hamka dalam beberapa litelatur yang saya baca justru cenderung lembut. Selain mudah bergaul, Hamka juga memilih jalur diplomasi dalam berbagai hal.

Cara belajar Hamka juga dapat dibedakan dengan ayahnya yang lebih monolog dengan khas pengajaran lama. Hamka lebih suka belajar otodidak, dialogis dan eksploratif. Maka Hamka sejak kecil selalu “membangkang” terhadap ayahnya, semata-mata tidak suka terhadap metode belajar — bukan terhadap pribadinya.

Namun demikin, Hamka selalu mencamkan harapan ayahnya agar kelak menjadi penerus ayah dan kakeknya (Amrullah) untuk menjadi pemuka agama. Walaupun Hamka lebih menyukai sastra, tetapi Hamka pun terus menjalani belajar agama.

Selain tidak suka belajar di ruang yang bersifat klasikal, Hamka juga selalu merasa jenuh dengan belajar yang hanya itu-itu saja. Maka dirinya lebih suka “melahap” buku-buku yang jumlahnya sangat banyak. Dengan membaca sendiri, Hamka merasa wawasannya jauhq lebih luas dan menjadi banyak tahu.

Selain itu, Hamka juga berprinsip bahwa untuk menjadi ulama, tidak hanya cukup dengan belajar masalah agama saja, tetapi juga harus memahami berbagai ilmu pengetahuan. Dengan keluasan ilmu, maka seorang ulama akan dapat lebih mengeksplorasi ajaran agamanya menjadi lebih kontekstual.

Bahkan, berbeda dengan anak sezamannya, Hamka juga sejak remaja sudah terbiasa dengan bacaan-bacaan yang berbau filsafat. Termasuk buku sejarah, idiologi-idiologi besar dunia, sastra, dan ilmu umum lainnya.

Selain suka menambah wawasan, Hamka juga sangat tertarik dengan keterampilan berpidato. Maka sejak menginjakkan kaki di Yogyakarta untuk yang pertama kalinya, Hamka sudah terpukau dengan pidatonya Tjokro. Berawal dari situlah Hamka mulai mengasah kemampuan berpidatonya.

Tapi bukan Hamka jika hanya puas dengan satu hal saja. Hamka juga mengamati para tokoh Muhammadiyah dan Syarikat Islam (SI) ketika berada di Jogja yang selalu menulis di media-media lokal.

Melihat peluang yang baru ini, Hamka juga kemudian mewujudkan harapannya itu dengan langsung belajar menulis kepada pembaharu Islam lainnya di Bandung yaitu A. Hasan dan M. Natsir. Beberapa saat Hamka sudah dianggap mampu untuk menulis di media.

Jadilah Hamka sebagai pemuda yang selain memiliki wawasan cukup luas, juga memiliki kemampuan berpidato dan menulis. Maka tidak heran jika di usia yang relatif Muda Hamka sudah mengadakan kursus pidato bagi teman-teman sebayanya di Padang Panjang. Bahkan untuk melengkapi metode dakwahnya, Hamka juga menerbitkan buletin bagi kalangan terbatas.

Kemampuan pidato dan menulisnya terus diasah. Selain sering tampil di forum-forum ceramah, Hamka juga terus menulis. Teman-teman yang sedang belajar pidato kemudian ditranskipnya. Beberapa lama kemudian, lahirlah buku kumpulan ceramah yang disusun Hamka.

Pidato Hamka memang tidak meledak-ledak layaknya Soekarno, namun Hamka mampu menampilkan sebuah gaya yang khas dengan keanggunan dan kesejukan pesannya. Maka tidak heran di usia yang relatif muda Hamka sudah sibuk memenuhi undangan ceramah. Bahkan, secara tidak langsung Muhammadiyah menjadikan Hamka sebagai kader yang dipersiapkan untuk masa depan.

Sedangkan kelebihan dalam hal menulisnya, Hamka gunakan untuk berdakwah lewat pena. Selain menjadi penulis lepas, Hamka juga secara langsung pernah mengelola beberapa majalah bernafaskan Islam dengan oplah yang cukup besar.

Lewat tulisan-tulisan di media itulah nama Hamka semakin dikenal khalayak luas. Hamka menjadi buah bibir. Dakwahnya menyentuh berbagai kalangan, sebab tidak hanya di balik mimbar tetapi juga media massa.

Tetapi dakwah Hamka tidak biasa, sebab narasi yang dibangun Hamka berbeda dengan muatan dakwah pada zamannya. Konten medianya begitu luas, bukan hanya ajaran-ajaran Islam yang praktis dan pemahaman sempit, tetapi menyampaikan sebuah kebudayaan Islam yang luas dan mencerahkan. Kedalaman analisis dan keluasan wawasan Hamka tercermin dari tulisan dan medianya.

Hal ini tidak aneh karena Hamka, lagi-lagi harus dilihat sebagai sosok ulama yang tidak hanya paham agama, tetapi juga wawasannya yang luas, akibat dari tradisi baca yang kuat dengan metode belajar yang unik sejak kecil.

Maka keabadian Hamka sebenarnya dapat dibaca di sini. Setidaknya, lewat karya-karyanya yang terhampar luas,dari mulai tulisan lepas, buku-buku roman yang relatif tipis, hingga tafsir al-Azhar yang fenomenal itu.

Tidak mudah, tetapi Hamka telah mengajarkan bagaimana memberikan makna pada kehidupan. Bahwa hidup tidak sekedar kerja dan mencari makan lalu setelah itu mati dan membusuk. [syahid/voa-islam.com]

*) Penulis adalah Dosen Prodi Ilmu Komunikasi USB YPKP, UIN SGD Bandung dan Pengurus MPI PP Muhammadiyah


latestnews

View Full Version