View Full Version
Senin, 04 Feb 2019

Rumitnya Memilih Pemimpin Di Era Demokrsi

Oleh: Dewi Ummu Maul (Ibu Rumah Tangga)

Rencana Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU), yang akan menghilangkan kisi-kisi pertanyaan untuk kedua peserta paslon Capres dan Cawapres di acara debat yang kedua yang akan digelar pada tanggal 17 Februari 2019 mendatang,di sambut baik oleh kedua Tim Sukses Jokowi-Ma'ruf dan Prabowo-sandi.

Sebelumnya, Ilham Saputra mengatakan bahwa debat pilpres 2019 yang pertama tidak sesuai ekspektasi bahkan ia mengatakan Debat tersebut kurang seru karena peserta telah lebih dulu diberikan kisi-kisi pertanyaan.

Setelah melakukan rapat pleno terkait evaluasi untuk acara Debat kedua akhirnya Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) memutuskan akan melakukan perbaikan supaya Debat kedua lebih baik,salah satunya menghilangkan kisi-kisi pertanyaan dan menambah durasi waktu untuk peserta agar visi misi dari peserta sedikitnya bisa tersampaikan ke rakyat juga akan memperbaiki teknis panggung,hal ini dituturkan oleh Wahyu Setiawan di Hotel,jalan Sultan Agung,Jakarta Selatan Minggu 20 Januari 2019.

Rumitnya memilih seorang pemimpin (Kepala Negara) di dalam sistem Demokrasi saat ini adalah hal yang biasa diterjadi,untuk memilih seorang Pemimpin/Presidendilakukan beberapa langkah terlebih dahulu salah satunya diadakan acara Debat pilpres yang acaranya di adakan secara langsung oleh stasiun televisi tujuannya adalah agar rakyat mengetahui visi misi dari calon pemimpin yang akan mereka pilih nanti.

Untuk kesekian kalinya negeri ini melakukan pergantian pemimpin tujuannya untuk membawa Indonesia menjadi negara yang lebih maju lagi serta mensejahterakan rakyat,selalu kata-kata itu yang digunakan oleh calon pemimpin ketika mereka melakukan kampanyenya.

Janji-janji itu yang sering terlontar ketika mereka mencalonkan diri menjadi Presiden justru sering tidak terpenuhi ketika mereka sudah menjabat. Contoh saat ini saja pemimpinnya, dulu ketika mencalonkan  banyak sekali mengobral janji namun kita bisa merasakan janji tersebut, apakah sudah terealisasi?

Saat ini kita bisa merasakan kondisi keadaan masyarakat menengah kebawah saat ini susahnya luar biasa tingkat kemiskinan bertambah, tingkat kejahatan semakin menjadi itu karena sistem ekonomi yang carut marut yang tengah dialami oleh rakyat, sulitnya mencari pekerjaan,seharusnya itu tidak terjadi di negara kita yang sangat kaya sumber daya alamnya namun faktanya sekarang masyarakat justru banyak yang melarat dinegeri sendiri. Ibarat "tikus mati di lumbung padi".

Pemimpin yang lahir dalam sistem Demokrasi sampai saat ini tidak ada yang benar-benar mendahulukan kepentingan rakyat malah cenderung mengobral janji dan hanya mengurusi hal-hal duniawi saja serta memperkaya diri sendiri.

Pemimpin yang baik (Kepala Negara) adalah pemimpin yang sederhana, jujur,baik,cerdas dan amanah dengan begitu rakyatnya akan sejahtera,sebaliknya jika pemimpinnya tidak jujur,korup, serta menzalimi rakyat maka rakyatnya akan sengsara.

Berbeda dengan sistem yang diterapkan dalam sistem Islam, ketika mengangkat seorang pemimpin (Kholifah) dilakukan secara hati-hati.Dalam Islam mengangkat pemimpin itu dikembalikan kepada hukum syara' yakni seseorang yang mampu menerapkan syariah di dalam negara ke-KHILAFAHAN, maka di lakukanlah pembaitan kepada calon Kholifah tersebut.

Di jaman ke Khilafahan dulu seseorang yang senantiasa diangkat menjadi seorang pemimpin mereka banyak yang memiliki rasa takut, takut tidak bisa mensejahterakan rakyat dan cenderung diam dalam arti tidak banyak bicara.

Terlebih mengobral janji karena pemimpin yang lahir dalam peradaban Islam adalah seseorang yang tidak hanya tau urusan seputar didunia saja, akan tetapi mereka mengetahui serta yakin bahwa segala sesuatu yang dilakukan didunia akan dimintai pertanggung jawaban di akhirat kelak. Wallahu’alam Bi Shawwab. [syahid/voa-islam.com]


latestnews

View Full Version