View Full Version
Senin, 22 Apr 2019

Kebenaran Tak Boleh Bisu

Oleh: Abu Muas Tardjono (Pemerhati Masalah Sosial)

Suatu saat, tatkala Rasulullah SAW hijrah ke Madinah, salah seorang sahabat Rasul, Abu Dzar Al Ghifari Ra. menghadap Rasul dengan membawa rombongan orang-orang dari Ghifar dan Aslam yang sudah masuk Islam.

Digambarkan karena begitu sangat banyaknya, jika saja orang melihat mungkin mereka mengira yang dilihatnya adalah pasukan orang-orang musyrikin, ternyata yang memimpin rombongan tersebut adalah Abu Dzar.

Melihat kehadiran rombongan yang dipimpin Abu Dzar, Rasul pun menyambut mereka dengan menyatakan: “Suku Ghifar telah diampuni oleh Allah” dan “Suku Aslam telah diberi keselamatan dan kesejahteraan oleh Allah”.

Sedangkan secara khusus kepada Abu Dzar, Rasul Saw menyatakan: “Tidak akan pernah diketemukan di kolong langit ini seorang manusia yang sangat benar ucapannya, sangat tajam dan sangat tegas dalam hal mengucapkan kebenaran kecuali Abu Dzar”.

Jika Rasul SAW yang menyatakan hal tersebut, tentu merupakan jaminan kebenaran apa yang telah dinyatakannya.

Pertanyaannya, kenapa Rasul harus menyatakan demikian secara khusus kepada Abu Dzar? Jawabnya, tidak lain karena Abu Dzar memiliki prinsip bahwa: “Kebenaran itu tidak boleh bisu, kebenaran yang bisu bukanlah sebuah kebenaran”.

Disadari atau tidak, prinsip yang telah teguh dijadikan prinsip hidup sosok sahabat Rasul yang satu ini, kini, sudah mulai pudar, lentur dan luntur oleh sebagian para penegak kebenaran seiring kehidupan yang hedonisme yang telah mengelilinginya. Padahal, menurut Abu Dzar, kebenaran harus berbicara, tampak dan dinyatakan serta tidak boleh dipendam atau disembunyikan.

Hal ini merupakan sebuah pelajaran berharga bagi kita, karena saat ini tidak sedikit mereka yang membisu untuk menyatakan kebenaran, sehingga fungsi Al Qur’an sebagai Al Furqon (pembeda) mana yang haq dan mana yang bathil (QS. Al Baqarah,2:185) kini sudah sangat kabur karena bisunya orang-orang yang berilmu untuk menyatakan kebenaran.

Bagi Abu Dzar, kebenaran yang bisu bukanlah kebenaran, kebenaran itu harus terungkap walaupun untuk mengungkapkan kebenaran itu beliau harus menebusnya dengan nyawa sekalipun.

Wahai, para penegak kebenaran, siapkah menyatakan yang haq itu haq dan yang bathil itu bathil dengan siap menerima berbagai macam risikonya?

Bagi para ‘Ulama sebagai panutan ummat, apakah tidak ikut andil dalam kesesatan jika tidak sedikit ummat yang akhirnya tersesat karena diamnya atau tidak beraninya para ‘Ulama untuk menyatakan sesat dari sebuah aliran sesat yang ada?

Apakah tidak ikut andil dalam kebatilan jika kebatilan yang ada di sekitar kita dibiarkan? Apakah bukan termasuk kebatilan atau kezaliman jika seseorang atau sekelompok orang dalam meraih sebuah kemenangan harus ditempuh dengan kecurangan yang menghalalkan segala macam cara?

Hayati, renungkan dan takutlah atas peringatan Allah SWT lewat firman-Nya:

“Dan takutlah kalian akan fitnah (bala bencana) yang tidak tertentu menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kalian. Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah amat keras siksa-Nya” (QS. Al Anfaal, 8:25).

Wallahu a’lam. [syahid/voa-islam.com]


latestnews

View Full Version