View Full Version
Selasa, 30 Jul 2019

Ibadah Haji: Dekat Terasa Berat, Jauh Terasa Rindu

 
SAMBIL menunggu bus untuk mencatat nomornya, ngobrol dengan "satpam musiman" yang bertugas di hotel. Awalnya nanya basa-basi, akhirnya ngobrol panjang, sampai disuguhin teh na'na' berkali-kali. 
 
"Sudah melakukan ibadah haji berapa kali?," tanya saya kepadanya. 
 
Kenapa saya menanyakan hal ini?. Kita tahu, haji adalah rukun Islam. Orang yang ditanya adalah penduduk Mekkah. Tempat Masjdiil Haram, Arafah, Muzdalifah, dan Mina. 
 
"Saya belum pernah melakukan ibadah haji. Insya Allah nanti," jawab dia. 
 
Penjaga hotel berbaju seragam warna krim dan celana merah hati ini memang usianya muda. Dia baru saja lulus SMA. Kerja hanya musim haji saja, selama sebulan, diberi upah 3000 Riyal Saudi. 
 
Pernah juga saya ngobrol dengan seorang WNI yang mukim di kota Jeddah. Tahun lalu. Disela tugas melayani jamaah haji, saya pun bertanya semisal dengan pertanyaan diatas. "Antum sudah 10 tahun kerja di Saudi, tinggal di Jeddah. Tahun ini haji yang ke berapa?."
 
"Saya baru pertama kali melakukan ibadah haji. Baru tahun ini saja," jawabnya. 
 
Akhi fillah. Demikianlah. Kita saksikan, di negeri kita, banyak orang berbondong-bondong mendaftar haji, rindu jumpa dengan baitullah, ingin merasakan wukuf di padang Arafah. Antriannya juga panjang. 
 
Sebaliknya, ada orang-orang yang tinggal dekat Baitullah. Hanya beberapa kilometer saja dengan Tanah Suci, tapi menunda atau kurang semangat dalam melaksanakan rukun Islam kelima ini. 
 
Mungkin juga karena jarak dengan Baitullah yang dekat dan akses yang mudah, sehingga kerinduan itu dapat selalu dicurahkan kapanpun. Berbeda dengan orang kita yang jaraknya jauh dengan tanah suci. Selalu kangen dan kangen. 
 
Berbahagialah bagi orang yang hatinya selalu rindu dengan rumah-Nya.*
 
Sumber: Facebook Budi Marta Saudin, petugas haji Indonesia 2019

latestnews

View Full Version