View Full Version
Jum'at, 09 Aug 2019

Kerusakan Moral di Balik Gelar

KEMBALI mendapat award, Banyuwangi semakin melambung. Kini di ajang Indonesia’s Attractiveness Award yang diselenggarakan oleh majalah tempo dan lembaga riset frontier consulting group, Banyuwangi sabet dua penghargaan sekaligus yaitu kabupaten besar terbaik sektor pariwisata dan infrastruktur.

Menurut Handi Irawan, CEO Frontier Consulting Group yang juga juri dari acara tersebut mengatakan  “Banyuwangi mengembangkan pariwisata dengan kreatif, dengan bujet yang minim, tapi memanfaatkan kekayaan budayanya.” Hadi juga mengapresiasi pengembangan pariwisata yang melibatkan masyarakat. Dalam artian, masyarakat diberdayakan. Adapun untuk infrastruktur, menurut Hadi Banyuwangi mampu menyinergikannya dengan baik, termasuk untuk kepentingan pengembangan pariwisata (24/07/2019).

Banyuwangi memang terus berbenah, pariwisata yang semakin maju dengan menyuguhkan kekayaan budaya melalui berbagai macam festival, ditambah lagi adanya infrastruktur yang mendukung bagi wisatawan adalah bukti keseriusan Pemkab untuk memajukan Banyuwangi. Namun di sisi lain kemajuan yang dicapai justru menyisakan sejumlah masalah serius, mulai dari kasus pencabulan siswi oleh oknum guru (detikcom, 09/07/2018); maraknya kasus prostitusi anak (VOA INDONESIA, 22/01/19); kasus prostitusi online (jatimnow.com, 19/05/19); video mesum yang dilakukan oleh pelajar (Beritalima.com, 17/05/19); hingga kasus pengedaran sabu-sabu (jatimnow, 29/11/18), (JATIMTIMES.com, 06/02/19). Parahnya, kasus-kasus yang demikian juga merata di hampir seluruh daerah di nusantara sebagai dampak dari pertumbuhan pariwisata.

Kemajuan hakiki tentu tak hanya soal pembangunan fisik namun membangun masyarakatnya menjadi lebih beradab yaitu masyarakat yang dalam jiwanya tertancap keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Swt, masyarakat yang ‘aqliyah (pola pikir) dan nafsiyah (pola sikap) nya sejalan dengan Islam. Dengan demikian rasa takut akan muncul tatkala hendak berbuat maksiat dan senantiasa berhati-hati dalam bertindak. Inilah makna kemajuan yang sesungguhnya, bukan sekadar membangun tampilan fisik semata namun individu-individunya kosong dari Islam melainkan mengutamakan perbaikan syakhshiyah (kepribadian) Islam.  Sebab hal inilah yang menjadi salah satu penyumbang kerusakan moral di tengah masyarakat.

Di era kejayaan Islam, perbaikan masyarakat menjadi hal yang sangat diperhatikan oleh khalifah. Sehingga kasus-kasus kerusakan moral sangat minim terjadi. Bahkan lebih dari itu, kesuksesan membangun kesadaran umat untuk patuh dan tunduk kepada Allah Swt mengantarkan kaum muslim pada sebuah peradaban mulia. Di masa Daulah Abbasiyah misalnya, ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang sangat pesat. Terbukti dengan pembangunan baitul hikmah yaitu sebuah perguruan tinggi yang sekaligus sebagai pusat penerjemah yang dilengkapi perpustakaan dengan koleksi buku yang fantastis.

Ada juga perpustakaan Cordova, yang memiliki koleksi buku 600.000 jilid, perpustakaan Al-Hakim yang memiliki koleksi buku mencapai 720.000 jilid, dan perpustakaan Darul Hikmah dengan koleksi buku hingga 2.000.000 jilid. Tak hanya koleksi buku berjilid-jilid, tetapi tak sedikit ilmuwan muslim dengan penemuan-penemuan luar biasa yang terlahir di masa itu, seperti: Al-Biruni, Jabir bin Hayyan, Al-Khawarizmi, Al-Bitruji, Ibnu Sina, dll. Hal ini pula yang membuat orang-orang kafir masa itu kagum dengan pencapaian yang dilakukan oleh kaum muslim. Sebab disaat mereka berada pada masa kegelapan dan masih mempercayai tahayul justru kaum muslim sedang berada pada puncak kejayaannya.

Demikianlah Islam yang begitu memperhatikan betul kondisi umatnya. Setiap pembangunan yang dilakukan orientasinya bukan pada keuntungan materi melainkan demi meraih Ridho dari Allah Swt. Sehingga meskipun kemajuan tampak pada bangunan-bangunan megah yang dibangun kala itu, namun tak meninggalkan sisi Ruhiyah. Pemikiran mereka dipenuhi dengan tsaqofah-tsaqofah Islam, jiwa mereka senantiasa dekat kepada Rabb-Nya.

Maka mengharapkan kemuliaan itu hadir kembali di tengah umat tentu tak ada pilihan lain selain mengadopsi Islam. Sebab hanya Islam yang mampu mengantarkan umat pada kemajuan hakiki tersebut dan hal ini telah terbukti selama 13 abad lamanya. Namun jika masih berpegang teguh pada sistem kapitalisme maka hanya kemajuan semu yang diperoleh, sementara kerusakan moral itu akan terus ada dan makin parah.*

Sri Wahyuni, S.Pd

Guru tinggal di Banyuwangi, Jawa Timur


latestnews

View Full Version