View Full Version
Jum'at, 01 Nov 2019

Manipulator Agama

Oleh: M Rizal Fadillah (Pemerhati Politik dan Keagamaan)

Ide Jokowi agar mengubah istilah dari radikalisme menjadi manipulator agama sepertinya ide brilyan tetapi sebenarnya tidak. Itu ide yang enteng enteng saja.

Bahkan bisa berkonotasi lain dan dapat menembak sana sini. Gagasannya adalah tentu si radikal itu telah melakukan manipulasi agama. Beragama dengan tidak benar.

Dalam Al Qur'an yang mendekati pemaknaan manipulasi agama adalah yang tertuang dalam Surat Al Maa'uun. Disana terinci kriteria "pendusta agama" atau "manipulator agama."

Surat ini biasa dikaitkan dengan gerakan Muhammadiyah yang selalu mengingatkan bahwa beragama mesti konsisten di dalam praktek. Tidak cukup baca dan hafal saja. Kyai Ahmad Dahlan yang mengajarkan konsistensi amaliyah QS Al Maa'uun ini sehingga nantinya menjadi Panti, Sekolah, Rumah Sakit hingga Perguruan Tinggi.

Manipulator agama adalah mereka yang "menghardik anak yatim", "tidak menyantuni orang miskin", "shalatnya celaka" serta "tidak berzakat atau membantu".

Terhadap yang "shalatnya celaka" ada dua makna besar, yakni:

Pertama, tidak khusyu "saahuun". Tidak fokus ibadah kepada Allah. Beraudiensi tetapi fikiran kemana mana. Lalu "aladziina yusholuuna wala yusholuun" mereka yang sholat tapi tidak shalat. Sholat yang tak bermakna. Sholat itu menghadap Allah, hanya mengabdi dan menggantungkan diri kepada Allah.

Jika ia sholat tetapi masih percaya dan menggantungkan pada "Nyi Roro Kidul", "Nyi Blorong" atau "Jin Kahyangan" maka ia adalah manipulator agama. Begitu juga jika di rumah, di sawah, di kolam, atau di istana masih memelihara makhluk halus penjaga maka ini pun sama. Manipulator.

Kedua, riya "yuroo-uun". Ingin dilihat orang. Shalat yang ingin dipuji atau bagian dari pencitraan diri. Jika menjadi imam bacaan panjang dan ketika sendirian (munfarid) pendek pendek. Ingin dipuji sebagai pemimpin yang mampu memimpin umat, kemudian senantiasa mau dan maju sebagai imam shalat padahal di belakang ada yang lebih fasih dan faqih, maka hal ini dikualifikasikan riya dan pencitraan. Tampil dengan profil keagamaan dengan niat untuk mengelabui orang lain juga termasuk manipulasi agama.

Atas dasar hal ini maka manipulator Agama menurut Al Qur'an adalah tercela, celaka, dan bahkan bisa masuk neraka. Mereka adalah kaum yang menjadikan agama sebagai permainan.

Permainan budaya maupun politik. Sesungguhnya tidak memuliakan dan meninggikan agama, justru menghinakan. Ia adalah penoda agama. Jika itu seorang pemimpin, maka model seperti inilah pemimpin yang terpapar radikalisme itu. Manipulator agama.


latestnews

View Full Version