View Full Version
Selasa, 17 Dec 2019

Teknologi Tanpa Edukasi = Bunuh Diri

 

GADGET- teknologi informasi - bukan lagi barang yang dianggap wah. Perkembangan jaman yang semakin modern, mau tidak mau memaksa manusia untuk memilikinya demi kemudahan transaksi, komunikasi, dan pencarian informasi. Namun sayang, sisi negatif seringkali mengiringi barang multifungsi tersebut. Bukan dari perspektif bendanya, melainkan dari sisi manusia sebagai subjek pengguna.

Jika beberapa tahun lalu disfungsi gadget dilakukan oleh bocah 19 tahun - yang notabene hanya lulusan SMP - untuk membobol sistem jual beli tiket online PT Global Networking hingga raib milyaran rupiah, kali ini nasib tragis justru menimpa sebuah keluarga di Kecamatan Pandaan. Dilansir oleh Jawa pos 17/11, seorang pelajar 11 tahun ditemukan tewas dengan gantung diri di dapur rumahnya. Menurut Kanitreskrim, motif korban diduga karena frustasi HP disembunyikan orangtua.

Di Pacitan, angka anak kecanduan gadget juga meningkat. Menurut rincian psikolog Ni Made Diyah Rinawardani, terdapat 11 pasien anak kecanduan gadget pada 2017, 14 pasien di tahun berikutnya dan terus meningkat mencapai 26 pasien di 2019 ini. Puluhan pasien tersebut memiliki rentang usia TK sampai SMP dengan jenis kecanduan gadget berupa game dan pornografi.

Menurut dia, anak yang memiliki kencanduan gadget jenis game bisa berperilaku menyimpang. Antara lain, tingkat kepekaan dan kepedulian terhadap lingkungan berkurang. Selain itu, risiko obesitas tinggi lantaran jarang beraktivitas. Bahkan, dia sempat mendapat pasien anak kecanduan game yang sudah sampai mencuri.

Sementara kecanduan gadget jenis pornografi bisa membuat anak berperilaku menyimpang. Salah satu kasus yang ditemuinya di Pacitan, ada bocah lelaki yang nekat menyodomi teman sejenis kelamin. Penyebabnya, rasa ingin tahu yang tinggi setelah menonton tayangan dewasa melalui smartphone. (Radar Madiun 22/11)

Namun sayang, rentetan dampak buruk penyalahgunaan gadget yang terjadi, tak sedikitpun menyulut emosional untuk segera berbenah dari segala sisi. Dari pihak orangtua, mereka justru senang meninabobokan putra putrinya dengan benda segi empat tersebut. Asal tak rewel tak masalah rasanya meski bermain berjam jam lamanya.

Dari pihak negara pun sama. Sejak dulu, situs situs porno masih saja berseliweran dan bebas dikonsumsi oleh berbagai kalangan.  Padahal dengan power yang dimiliki, harusnya langkah pemberangusan situs rusak tersebut mudah ditindaklanjuti demi menjaga kewarasan generasi.

Luput pula dari perhatian masyarakat, khususnya kaum muslimin bahwa inovasi inovasi game yang disuguhkan sejatinya adalah jerat jerat perbudakan yang melalaikan. Dan ini merupakan strategi Barat dalam merongrong Islam, yakni dengan melemahkan pemuda pemudinya.

Memang benar, sekilas saja tiga objek diatas -game, Islam, dan Barat- seolah tidak memiliki keterkaitan satu sama lain. Namun jika dicermati lebih mendalam, keberadaan game semacam ini adalah satu dari empat point ghazwul fikr yang sedang mereka gencarkan. Food, fun, fashion dan film. Empat kombinasi yang nyatanya sedikit berhasil menghancurkan kaum muslim secara perlahan.

Pemilihan metode halus ini bukan tanpa alasan, melainkan kepahaman kafir Barat tentang kekuatan sejati kaum muslim yang terletak pada Al Quran dan Al Hadist. Bahwa mereka tidak akan hancur dengan cara militer jika dua hal tadi masih menancap kuat dalam benak. Alhasil, perang pemikiranlah yang mereka jadikan sebagai alternatif. Setidaknya, jika tujuan pemurtadan tidak tercapai, mereka berhasil melumpuhkan pemikiran dan akidah Islam dari penganutnya.

Dan lagi lagi, kapitalisme lah yang ada dibalik semua ini. Pelaku industri hanya berorientasi pada pencapaian keuntungan yang sebesar besarnya tanpa menelaah lebih jauh kemungkinan dampak yang menimpa masyarakat. Masyarakat hanya dijadikan tumbal. Konsumen penyuplai kucuran profit bagi mereka. Inilah yang menjadi titik cacat dari ideologi kapitalisme.

Sejatinya, kesenangan psikologis dan hiburan adalah dua hal natural yang ada pada diri manusia. Islam pun tidak melarang pemenuhan tersebut dengan catatan tidak menyalahi hukum syara' dan tidak berlebihan (sesuai porsi). Oleh karenanya, dibutuhkan kontrol dari pihak orangtua dalam melakukan pengawasan kegiatan anak sekaligus mematok batasan waktu. Perlu ditanamkan pula pemahaman secara continue mengenai fiqh prioritas yang mengajarkan anak ketepatan dalam memilih dan memilah jenis kegiatan.

Sementara negara, ia wajib berdiri di garda terdepan dalam membentengi rakyatnya dari serangan serangan yang melenakan dan merusak. Menjadi tugasnya pula untuk menguatkan keimanan rakyatnya dengan pendidikan berbasis akidah Islam agar kendali diri bisa dimiliki ketika memanfaatkan peluang positif dari pesatnya perkembangan teknologi.

Maya A, tinggal di Gresik, Jawa Timur

 


latestnews

View Full Version