View Full Version
Kamis, 30 Jan 2020

Bahaya Virus Corona Tak Halangi Kunjungan Turis Tiongkok ke Indonesia

 

Oleh:

Fita Rahmania, S.Keb, Bd

Aktivis Fikrul Islam

 

WABAH virus corona menjadi perhatian seluruh dunia pada awal  2020. Virus ini pertama kali menyebar di wilayah Wuhan, China pada Ahad (5/1), berawal dari 59 orang yang tinggal di dekat pasar ikan di kota itu mengalami gejala seperti pneumonia. Virus yang memiliki nama resmi 2019nCoV Corona dikabarkan telah memakan korban mencapai 132 orang, dan jumlahnya pun terus meningkat hingga saat ini. Sementara, ada 6.056 kasus yang dikonfirmasi di seluruh China. Jumlah ini menunjukkan peningkatan yang tajam. Sebelumnya, pada hari Selasa (28/1), tercatat 4.515 orang yang telah terkonfirmasi positif terinfeksi virus corona tersebut. (Kompas.com).

Para ahli kesehatan medis masih meneliti lebih lanjut mengenai virus corona yang telah menyebar di berbagai negara. Sebagian besar gejala awal dirasakan seperti batuk, flu, demam, dan sesak napas. Namun, menurut dokter kesehatan yang melakukan penelitian di Hong Kong, orang yang terkena virus corona bisa saja sakit tanpa gejala umum seperti pengidap sebelumnya. Virus corona memiliki sifat host specific, yaitu menyebar dari manusia ke manusia dengan cara penularan langsung melalui bersin ataupun batuk. Virus corona tidak akan stabil ketika berada di udara dan hanya bisa bertahan selama 3 jam saja hingga penularan melalui udara kecil dapat memungkinkan. (Okezone.com)

Fakta mengerikan tentang paparan virus Corona membuat berbagai negara mulai mengambil sikap demi mencegah terjangkitnya virus ini. Prancis misalnya, berencana untuk mengevakuasi warganya dari kota Wuhan di Cina, pusat epidemi virus corona yang mematikan. Virus corona disebut sudah sampai ke Prancis. Dua pasien di Rumah Sakit Bichat-Claude Bernard Paris adalah pasangan dari Wuhan, di mana virus penyakit pernapasan pertama kali terdeteksi di Prancis. Tindakan evakuasi serupa juga akan segera dilakukan oleh negara Amerika Serikat dan Rusia. Namun, rupanya upaya pencegahan penyebaran virus corona justru kurang ditunjukkan oleh pemerintah Indonesia.

Bagaimana tidak, di puncak penyebaran virus yang begitu masif pemerintah malah dengan tangan terbuka menerima turis asal China yang hendak melancong di negeri ini. Seperti dilansir dari kompas.com, sebanyak 150 turis dari Kota Kunming, Provinsi Wuhan, China, masuk ke Sumatera Barat (Sumbar) melalui Bandara Internasional Minangkabau (BIM). Mereka mendarat pada Minggu (26/12020) sekitar pukul 06.24 WIB. Kedatangan 150 turis asing asal China ini disambut langsung oleh Gubernur Sumbar Irwan Prayitno di BIM. "Kehadiran turis ini diharapkan meningkatkan kunjungan wisatawan asing ke Sumbar," katanya.

Kementerian Kesehatan juga menyatakan tidak akan menutup akses atau melakukan pembatasan  perjalanan dari dan ke Daratan China melalui jalur udara, laut dan darat. Kementerian Kesehatan hanya mengeluarkan anjuran perjalanan (travel advisory) guna meminimalisir dampak pandemi tersebut. "Kita tidak melakukan restriksi, pembatasan perjalanan orang, karena bisnis bisa merugi, ekonomi bisa berhenti,” kata Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas I, Bandara Soekarno-Hatta, dr. Anas Ma’aruf di Gedung Kemenkes, Kuningan, Jakarta Selatan pada Rabu (22/1/2020) malam.

Masyarakat yang mengetahui perihal kedatangan turis asing asal Tiongkok yang bukan tidak mungkin membawa virus corona, mulai merasa waswas dan kecewa dengan kebijakan pemerintah tersebut. Di kala negara lain membatasi wisatawan asal China datang ke negaranya, Indonesia malah membuka aksesnya. Alih-alih demi melariskan dagangan pariwisata, nyawa rakyat jadi taruhannya.

Demikian kejam sistem ekonomi kapitalis yang diemban negeri ini. Mereka seakan 'menghalalkan' segala cara demi mendapatkan untung sebesar-besarnya. Masyarakat tentu tidak boleh diam melihat hal tersebut. Mudhorot nampak begitu jelas mengancam negeri. Rakyat harus berteriak lebih keras menyuarakan penolakan ini.

Apabila kita menilik di dalam Sistem Islam, Rasulullah memiliki strategi dalam mengatasi merebaknya wabah penyakit. Rasulullah bersabda, “Jika kalian mendengar tentang wabah-wabah di suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Tetapi jika terjadi wabah di suatu tempat kalian berada, maka janganlah kelian meninggalkan tempat itu,” (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim). Ini merupakan metode karantina yang telah diperintahkan oleh Rasulullah SAW untuk mencegah wabah tersebut menjalar ke negara-negara lain. Bahkan, Rasulullah mendirikan tembok di sekitar daerah yang terjangkit wabah dan menjanjikan bahwa mereka yang bersabar dan tinggal akan mendapatkan pahala sebagai mujahid di jalan Allah, sedangkan mereka yang melarikan diri dari daerah tersebut diancam malapetaka dan kebinasaan.

Namun sayangnya, hal tersebut terasa sulit diwujudkan dalam sistem pemerintahan saat ini. Di alam kapitalis-liberal, penguasa hanyalah mementingkan keuntungan (materi) semata tanpa memerdulikan keselamatan rakyatnya. Oleh karena itu, kita perlu kembali pada sistem yang bersandar pada kalamullah, yakni Islam yang hanya berpihak pada kesejahteraan ummatnya.*


latestnews

View Full Version