View Full Version
Ahad, 19 Apr 2020

Bebasnya Napi saat Wabah, Menabur Kecemasan di Atas Kecemasan?

 

Oleh: Wity

“Sehubungan bebasnya sejumlah besar napi, kami menghimbau agar seluruh warga untuk lebih berhati-hati dan jangan sampai lengah dalam memarkirkan kendaraannya.”

Pagi itu, saya mendapat surat himbauan dari Ketua RW setempat melalui grup WhatsApp. Bukan tanpa alasan Ketua RW mengeluarkan himbauan tersebut. Pasalnya, baru dua hari pasca pembebasan sejumlah besar napi, di kelurahan sekitar tempat tinggal saya telah terjadi tindak pencurian kendaraan bermotor (curanmor). Sohib saya pun hampir mengalami kemalangan serupa. Motor kesayangannya telah dicongkel kuncinya. Entah apa yang menyebabkan si maling membatalkan niatnya, yang jelas sohib saya  sangat bersyukur karena terhindar dari kemalangan.

Awalnya saya mencoba berhusnudzon. Mungkin, pelakunya bukan para napi yang baru dibebaskan. Mungkin, waktunya saja yang pas-pasan. Pas banyak napi dibebaskan, pas ada kejadian curanmor. Mengingat kondisi saat ini pun dapat memicu orang-orang baik menjadi jahat. Bagaimana tidak, dampak wabah corona ini memang luar biasa. Tidak hanya merenggut korban jiwa, tapi juga merenggut pendapatan rakyat. Terutama kalangan menengah-jelata.

Banyak toko dan pusat perbelanjaan tutup permanen karena omset terjun bebas. Akibatnya, ratusan karyawan di-PHK, seperti yang viral di media sosial baru-baru ini. Belum lagi para pedagang kaki lima, pedagang asongan, sopir angkot, tukang ojeg, guru honor (yang bahkan tanpa corona pun honornya dirapel tiga bulan sekali), hingga para PNS pun turut disunat gajinya demi penanganan wabah. Tentu masih banyak lagi orang-orang yang terenggut sumber pendapatannya karena terdampak wabah Covid-19 ini. Jadi, bukan tidak mungkin bila dalam kondisi saat ini banyak maling dadakan, karena mereka bingung “harus makan apa hari ini?”

Loh, bukankan pemerintah telah meluncurkan program Jaring Pengaman Sosial untuk warga yang terdampak wabah? Seharusnya tak perlu lagi merasa was-was akan kelaparan.

Memang benar pemerintah telah meluncurkan program Jaring Pengaman Sosial, tapi tak ada jaminan bahwa semua yang terdampak wabah pasti mendapatkannya. Yang mendapatkan pun belum tentu tercukupi kebutuhannya.

Pada intinya, kondisi saat ini serba sulit. Dan kesulitan bisa mengubah orang baik jadi jahat. Lantas, bagaimana dengan orang-orang yang terbiasa berbuat jahat?

Lagi-lagi saya tidak ingin mengedepankan prasangka. Karena, kecurigaan tanpa bukti bisa berujung pada fitnah. Salah-salah saya bisa dituduh menyebar hoax. Jadi, saya pun berselancar di dunia maya. Menyusuri media-media berita online. Akhirnya, saya pun menemukan beberapa judul berita yang menguatkan dugaan saya. Seperti, “Baru Bebas, Napi Ditangkap Lagi Setelah Menjambret di Bandung”, dan “Sepekan Bebas karena Asimilasi, Eks Napi Rutan Balikpapan Kembali Dibui”. Kedua judul berita tersebut dimuat kompas.com pada 14 April 2020. Lalu pada 11 April 2020, cnnindonesia.com memuat berita berjudul “Bebas karena Asimilasi, Dua Napi Menjambret Lagi di Surabaya”. Tak mau ketinggalan, kumparan.com memuat judul berita yang cukup menohok, seperti “Napi Kembali Berulah Usai Bebas karena Corona, Kemenkumham dinilai Gagal” yang tayang pada 9 April lalu.

Ternyata, cukup banyak portal berita yang menayangkan berita senada. Portal-portal berita tersebut cukup terpercaya. Isi dan judul beritanya selaras. Artinya, dugaan saya dan keresahan warga akan para napi yang kembali berulah itu nyata.

Saya pribadi sebagai warga biasa sangat menyayangkan keputusan Kemenkumham untuk membebaskan para napi yang jumlahnya tidak sedikit itu. Meski alasannya demi mencegah penyebaran Corona di Lapas. Jika itu alasannya, bukankan akan lebih efektif dengan meniadakan jadwal kunjungan untuk para napi selama wabah ini berlangsung. Atau mengkarantina seluruh penghuni lapas, termasuk petugas penjaganya dan tetap menjamin kebutuhan dasar mereka.

Jika pun terpaksa harus membebaskan sebagian tahanan untuk mengurangi kepadatan di dalam Lapas, cukuplah membebaskan tahanan yang sudah renta dan sakit-sakitan, yang tidak lagi mampu berbuat kejahatan. Atau orang-orang yang ditahan tanpa bukti kesalahan yang jelas.

Namun, jika pemerintah bersikukuh membebaskan puluhan ribu napi itu, bukankah seharusnya pemerintah memberikan pengawasan ketat terhadap mereka? Misalnya, dengan memasang gelang GPS pada para napi, yang akan terhubung dengan alarm kantor polisi terdekat dan akan berbunyi bila penggunanya meninggalkan rumah dalam radius beberapa meter, seperti dalam film Hollywood. Sehingga, gerak-gerik mereka tetap terawasi dan masyarakat tetap merasa aman. Tapi, tentu saja langkah ini tidak akan diambil pemerintah karena akan membutuhkan dana yang besar, alih-alih menghemat anggaran.

Demi menghemat anggaran 260 miliar rupiah, pemerintah telah mempertaruhkan keamanan serta keselamatan harta dan jiwa rakyat. Sungguh ini langkah yang tidak popular (bila tidak mau disebut konyol). Terlebih di tengah wabah seperti saat ini, membebaskan puluhan ribu napi hanya menabur kecemasan di atas kecemasan. Ibarat Anda mengurung ayam di pelataran rumah dengan kurungan alakadarnya, kemudian Anda melepaskan musang. Bagaimana nasib si ayam? Silahkan tebak sendiri.

Dalam kondisi ini, saya semakin merindukan sosok pemimpin sejati yang mampu menangani wabah dengan cakap. Seperti sosok Khalifah Umar bin Khattab. Dikisahkan, pada masa kepemimpinan beliau, Jazirah Arab pernah dilanda bencana kemarau panjang dan kelaparan yang sangat hebat, hingga binatang-binatang buas mendatangi manusia, binatang-binatang ternak mati kelaparan. Orang-orang dari pedalaman datang ke Madinah meminta bantuan dari Amirul Mukminin.

Umar r.a adalah sosok pemimpin yang sangat peka terhadap penderitaan rakyatnya. Beliau segera membentuk tim untuk menanggulangi bencana ini. Menyalurkan bantuan kepada seluruh orang yang membutuhkan. Khalifah Umar memberikan segalanya untuk membantu rakyatnya, hingga tak ada lagi yang mampu ia berikan. Beliau r.a. berkata, “Akulah sejelek-jelek kepala negara apabila aku kenyang sementara rakyatku kelaparan”. Beliau juga selalu bermunajat kepada Allah, memohon ampunan dan pertolongan-Nya.

Sayangnya, sosok pemimpin seperti Umar bin Khattab tidak akan kita dapati dalam sistem kapitalisme-sekuler seperti saat ini. Karena sosok pemimpin seperti Beliau hanya terlahir dalam sistem Islam, sistem yang selama ini dituduh radikal, dan para pejuangnya pun dikriminalkan. Ironis! (rf/voa-islam.com)

Ilustrasi: Google


latestnews

View Full Version