View Full Version
Kamis, 28 May 2020

Dosa Faahisyah

Oleh: KH. Athian Ali

Hampir setiap kali Alloh SWT menceritrakan tentang syurga, selalu saja diakhiri dengan menyebut dua asma Alloh : Al Ghofur (Maha Pengampun) dan Ar Rahiim (Maha Penyayang).

Bahkan di Q.S. Fush shilat 32, dengan sangat gamblang sekali Alloh menyatakan jika surga itu "Anugerah dari Alloh Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang"

Padahal kita semua tentunya maklum, jika terdapat 99 asmaa-ulloh alhusna yang dinyatakan dalam Al Quran, tapi mengapa jika sudah bicara tentang syurga, selalu yang muncul hanya dua asma Alloh ini ?

Alasannya, menurut Syekh Mutawalli Asy Sya'rawI, karena memang mustahil seseorang bisa masuk syurga tanpa ampunan dan kasih sayang Alloh SWT.

Dengan kata lain, selain kasih-sayang Alloh SWT, maka ampunan merupakan salah satu tiket yang ditetapkan Alloh SWT bagi seseorang untuk dapat memasuki syurga-Nya.

Berbicara ampunan artinya berbicara dosa, dan Alloh SWT menetapkan ada dua jenis dosa manusia :

Pertama: Dzolimun linafsihi 'mendzalimi diri sendiri', yaitu perbuatan dosa dimana yang rugi hanyalah si pelaku, tidak ada pihak lain yang dirugikan oleh perbuatan dosanya.

Termasuk dosa dalam kategori ini misalnya dosa seseorang karena melalaikan kewajiban sholat, shaum, haji dan semua bentuk pelanggaran terhadap aturan dan hukum Alloh yang terkait dengan urusan hablum minalloh.

Proses untuk memperoleh ampunan Alloh SWT dari jenis dosa seperti ini relatif lebih mudah. Pertama, dosa akan dihapus dengan sendirinya jika ibadah-ibadah pokok seperti sholat, shaum dan haji seseorang makbul. Kedua, dosa juga akan dihapus dengan bertaubat secara langsung kepada Alloh SWT, asalkan saja taubatnya memenuhi syarat Taubat Nasuuha (Q.S. At Tahriim 6)

Syarat yang paling mendasar dari taubat nasuha : 1. Menyadari dan menyesali perbuatan dosanya, seperti sadar dan menyesalnya Adam dan Hawa (Q.S. Al A'raaf : 23). 2. Ber 'Adzam' dalam pengertian berniat, bertekad serta berupaya secara optimal untuk tidak mengulangi perbuatan dosanya. 3. Memperbanyak berdzikir dan beristighfar (Q.S. Ali Imraan 135). 4. Membuktikan jika dirinya benar-benar bertaubat, dengan meningkatkan keimanan dan beramal sholeh (Q.S. Al Furqaan : 70-71). 5. Tidak bertaubat pada saat sakaratul maut, karena pintu taubat sudah ditutup pada saat tersebut.

Kedua: Dosa faahisyah, yaitu segala bentuk pelanggaran terhadap syariat Alloh yang sifatnya Dzaalimun linafsihi wa lighairihi, berakibat mendzalimi diri sendiri dan orang lain.

Dosa dalam kategori seperti inilah yang terbanyak terjadi dalam kehidupan, seperti mercuri, merampok, korupsi, manggunjing, memfitnah, membebaskan yang bersalah, menghukum yang tidak bersalah dan berbagai perbuatan dzalim lainnya yang diharamkan Alloh SWT, dimana dalam hal ini, bukan hanya yang bersangkutan saja yang rugi karena telah berbuat dosa, tapi ada pihak lain yang juga ikut dirugikan.

Proses untuk diterimanya taubat dari dosa faahisyah, jauh lebih berat dibanding dosa mendzalimi diri sendiri. Dimana di samping harus memenuhi kelima syarat untuk bertaubat kepada Alloh SWT seperti yang tersebut di atas, yang bersangkutan juga dituntut untuk menyelesaikan terlebih dahulu dengan pihak yang didzaliminya.

Selama yang bersangkutan belum menyelesaikan, maka Alloh SWT belum berkenan menerima taubatnya.

Tak ubahnya dalam bertaubat kepada Alloh SWT, dimana yang bersangkutan harus mengakui dosa yang telah diperbuatnya, maka dalam meminta maaf kepada orang yang didzalimi juga harus jelas kesalahan apa yang telah diperbuatnya, karena tidak tertutup kemungkinan, pihak yang terdzalimi tidak tahu jika yang bersangkutanlah yang selama ini memfitnahnya.

Dengan disampaikan secara terbuka, maka pihak yang terdzalimi akan mempertimbangkan, apakah akan memaafkan atau tidak.

Akad maaf-memaafkan tak ubahnya akad-akad yang lain seperti akad jual beli, pinjam meminjam, pernikahan dan sebagainya, dimana harus jelas ijab qabulnya.

Dari sisi ini, sulit rasanya membayangkan jika yang berbuat dosa faahisyah itu seorang koruptor atau seorang pemimpin yang dzalim, bagaimana yang bersangkutan harus menyelesaikan proses minta maaf kepada sekian ribu, juta, puluhan bahkan ratusan juta rakyat yang didzaliminya ?

Jika proses meminta maaf secara terbuka tidak ditempuh, sehingga Alloh tidak menerima taubatnya, maka Rasululloh SAW memberikan peringatkan keras, bahwasanya yang bersangkutan di akhirat nanti akan tergolong "Muflish" - orang yang bangkrut - disebabkan jika yang bersangkutan memiliki amal sholeh, maka amalnya akan diambil sesuai dengan kadar kedzalimannya untuk diserahkan kepada orang yang didzaliminya.

Jika amalnya habis karena sudah diberikan kepada lima orang yang dia dzalimi misalnya, sementara masih ada sepuluh orang lagi yang terdzalimi, maka dosa dari masing-masing yang sepuluh orang tersebut akan diambil oleh Alloh SWT sesuai dengan kadar kezalimannya, untuk kemudian ditimpakan kepada yang berbuat dzalim.

Bayangkan bila yang terdzalimi itu sekian ratus juta! Mungkinkah yang bersangkutan bisa selamat?

Jika saja semua pihak menyadari prinsip Syari'at Islam ini, pasti setiap orang terutama para pemimpin, akan berfikir ribuan kali untuk berani berbuat dzalim kepada orang lain.

Maka dengan sendirinya, akan terciptalah kehidupan yang damai tenteram dan bahagia, dan seluruh manusia bahkan segenap makhluk akan menikmati kehadiran Islam sebagai rahmatan lil 'aalamiin.

Semoga pada hari 'Iedul Fitri ini, kita tidak hanya sekedar bertukaran senyum, berjabatan tangan, mengirim kartu, membuat tulisan lewat SMS atau WA, untuk mengucapkan selamat hari raya mohon maaf lahir bathin, lalu kita beranggapan selesailah sudah segala yang terkait dengan urusan dosa faahisyah.

Jika memang tidak ada dosa faahisyah yang secara sadar dan sengaja pernah kita perbuat, atau jika pun ada kekhilafan, benar-benar tidak diniatkan, disengaja bahkan tidak disadari, maka tentu saja tidak ada masalah, bahkan sangat baik sekali kita mengucapkan selamat Hari Raya dan saling maaf-memaafkan, paling tidak untuk lebih menjalin hubungan silaturrahim.

Namun jika ada kezaliman pernah diperbuat, tentu saja urusannya tidak selesai dengan sekedar berbasa-basi seperti itu

Betapapun berat resiko yang akan dihadapi di dunia, dengan kita terbuka mengakui kesalahan kepada pihak yang terdzalimi, tapi itu pasti akan jauh lebih baik, dibanding kita harus memikul beban yang teramat berat di akhirat nanti.

"Selamat 'Iedul Fitri. Taqobbalallohu minnaa wa minkum, shiyaamanaa wa shiyaamakum, taqobbal yaa kariim. Mohon maaf lahir bathin"


latestnews

View Full Version