View Full Version
Kamis, 01 Oct 2020

Hati-hati, Hallyu Cuma Bikin Halu

 

Oleh:

Iffa Destra || Aktivis Fikrul Islam

 

K-POP? Siapa sih yang tidak mengenal K-Pop? Tentu hampir semua kalangan anak muda sudah tak asing dengan istilah ini, mulai dari film, dancer, sampai “oppa-oppanya”. Pemuda hari ini tak bisa terlepas dari budaya luar, budaya yang membawa mereka nantinya ke arah gaya hidup liberal (bebas tanpa aturan) sebagai buah penerapan sistem kapitalisme yang diemban negeri ini. Sistem yang hanya berorientasi pada keuntungan materi sebesar-besarnya, baik bersumber dari budaya, ekonomi, dan lainnya.

Kegandrungan ini pun mendapat tanggapan dari KH. Ma’ruf Amin selaku Wakil Presiden RI. Sayangnya, ia justru memberi dukungan melalui pernyataannya yang mengharapkan budaya K-Pop dapat menginspirasi munculnya kreatifitas anak muda Indonesia. Statemen ini sempat menuai kritik dari salah satu politikus partai Gerindra, Ahmad Dhani. “Jadi pak Wapres kita memang tidak paham benar soal industri musik. Harusnya, sebelum kasih statemen, diskusi dulu sama saya sebagai orang yang sangat paham industri musik,” kata Ahmad Dhani. (detiknews.com)

Sebenarnya, apakah layak Korean wave (gelombang korea) jadi panutan generasi muda? Faktanya, dalam tubuh K-Pop sendiri sebenarnya tak secemerlang kelihatannya. Mereka bisa saja bergelimang materi, namun ternyata mereka juga sangat rentan terjerumus dalam lifestyle yang rusak. Salah satunya dengan maraknya kasus bunuh diri artis di negeri gingseng itu.

Dikutip dari kompas.com, Korean wave atau Hallyu memang menawarkan budaya dan gaya hidup masyarakat Korea Selatan. Budaya dan gaya hidup itu mudah dicerna karena memang ada kemiripan dengan keseharian anak muda di Indonesia. Mereka dibuat seakan terlena dalam pusaran Korean wave yang akhirnya hanya berujung penetapan muda mudi Indonesia sebagai ‘korban’ objek pasar. Hingga Korean wave pun mampu menyumbang devisa besar bagi negaranya.

Namun,di sisi lain tanpa disadari atau tidak mereka juga secara masif terus mengekspor budaya rusak ke seluruh dunia. K-Pop telah berhasil tumbuh menjadi virus di negeri kita dengan menggeser standar kebenaran dalam pola pikir dan pola sikap bagi pemujanya. Aqidah mereka dengan sukarela digadaikan hingga mereka pun jadi kehilangan arah. Mereka tak lagi menjadikan Rasulullah Muhammad SAW. sebagai panutan, Al Qur’an sebagai pedoman hidup serta Syariat Islam sering pula dilalaikan. Pakaian tertutup kini tak lagi menjadi kebanggaan dan identitas bagi para muslimah. Ajaran Islam tak juga sempat mereka dalami. Mereka hanya sibuk menghafal gerakan dance, menghamburkan uang demi tiket konser dan printilan tentang sang idola, menghalu untuk jadi kekasihnya, hingga mengabaikan segalanya demi drama korea kesayangan.

Demikianlah, wujud semakin eksisnya peradaban selain Islam yang setiap hari, bertubi-tubi tanpa henti menyerang umat Islam. Hakekatnya para pengusung peradaban tersebut sadar akan umat Islam yang tak mudah dikalahkan. Sehingga mereka tak lagi melancarkan penjajahan secara fisik sebagaimana model penjajahan lama, namun mereka cukup menggencarkan serangan secara pemikiran. Umat Islam semakin dijauhkan dari kebangkitannya seperti sejarah kegemilangan peradaban Islam yang pernah menerangi dunia selama 13 abad. Peradaban Islam telah sukses melahirkan para pemuda-pemudi tangguh dan unggul, salah satunya Muhammad Al Fatih yang menjadi panglima perang di usia belia. Pada masa itu, pemuda menjadi tonggak peradaban dan sumber kekuatan Islam.

Oleh karena itu, pemuda Islam sudah selayaknya menjadi ujung tombak dalam perjuangan Islam. Bersungguh-sungguh dalam menjalankan ajaran Islam secara kaffah. Pemuda memiliki fisik dan semangat yang kuat sehingga mampu memperkaya keterampilan dan menjadi pelopor ide-ide baru dalam membangun kembali peradaban Islam. Tak hanya bermalas-malasan menyia-nyiakan waktu dengan kehaluan yang tak pasti.*


latestnews

View Full Version