View Full Version
Jum'at, 23 Oct 2020

Mendadak Kadrun: Budaya Munafik

Oleh: M Rizal Fadillah (Pemerhati Politik dan Kebangsaan)

Dulu PKI menyebut santri atau aktivis Islam sebagai Kadal Gurun (Kadrun). Mengarah pada sisi kearab-araban baik dari sisi pakaian maupun identitas lainnya.

Memang musuh PKI adalah kekuatan agama karena bagi faham dan gerakannya agama itu adalah candu. Sebagai gerakan tanpa moral, PKI menghalalkan segala cara.

Sebutan Kadrun ternyata melembaga juga saat ini. Ejekan dari para pendukung Jokowi kepada elemen aktivis Islam. Nong Darol, Eko Kunthadi, Denny Siregar paling suka lempar perkadrunan ini. Begitu juga dengan Arief Poyuono dan Ade Armando. Meski balasan predikat juga bisa dikenakan untuk doking, kodok Peking.

Profil kemusliman bahkan kearab-araban untuk sebutan Kadrun lucunya juga ternyata ditampilkan oleh Jokowi dan keluarganya dalam upaya mencari dukungan suara umat Islam. Umat Islam ini kadang-kadang tidak disukai tetapi sangat diperlukan. Maka para pencari suara itu "mendadak Kadrun".

Saat Pilpres 2019 Jokowi sering tampil mengimami sholat di berbagai daerah lalu pemotretan fokus pada sudut penampilan.

Bahkan di antaranya ada yang bersorban segala. Ada juga saat mengimami pemimpin negara asing di Kabul Afghanistan bersorban unik.

Sekarang ini jarang sekali muncul foto atau video pak Jokowi mengimami lagi. Memang "Kadrun" kadang dibutuhkan sesaat.

Begitu juga sang putra "milenial" Gibran yang berubah berpeci sarung bak seorang ustadz dalam tampilan Pilkada Solo. Cawalkot "sembilan puluh dua persen" ini pun "mendadak Kadrun". Diikuti mantu Bobby Nasution yang maju dalam Pilkada Medan viral bersorban putih dan berpenampilan seperti "pangeran Sentot Alibasyah".

Tentu tidak salah;untuk berpakaian muslim, ustadz, atau kearaban. Namun mendadak berpenampilan "sholeh" dalam rangka berburu suara dalam pilihan politik pasti menuai cibiran. Celaan Jokower bahwa aktivis muslim adalah "Kadrun" harus membentur diri Jokowi dan keluarganya yang "mendadak Kadrun" pula.

Relasi Pemerintahan Jokowi dengan umat Islam dinilai bermasalah. Bukan saja dirasakan oleh sebagian umat Islam Indonesia, namun juga tak luput dari pengamatan cendekiawan asing.
Greg Fealy di antaranya.

Professor Australian National University (ANU) itu menyebut Pemerintahan Jokowi represif kepada umat Islam. Lewat tulisan di East Asia Forum 27 September 2020 Fealy menyatakan Pemerintahan PDIP di bawah Jokowi itu menindas umat Islam. Penangkapan aktivis dan isu radikalisme di arahkan kepada umat Islam. isu yang sengaja diangkat untuk tujuan memberangus.

Jadi menggelikan dan menjengkelkan jika ulama dan aktivis umat Islam diteriaki sebagai Kadrun, akan tetapi dalam praktek politiknya ia atau mereka itu juga "mendadak Kadrun". Inilah krisis personalitas dalam proses politik. Split personality atau ambivalensi politik.

Hancur moral bangsa akibat memberhalakan budaya munafik.


latestnews

View Full Version