View Full Version
Jum'at, 08 Oct 2021

Panggung Miss Queen dan Tenggelamnya Bahtera Masyarakat

 

Oleh:

Ari Sofiyanti || Alumni Universitas Airlangga

 

ADA suatu permisalan yang menarik mengenai masyarakat. Dikatakan, sebuah kapal dihuni oleh orang-orang yang sebagian menempati bagian atas dan sebagian menempati bagian bawah kapal. Ketika orang-orang yang berada di bagian bawah ingin mengambil air, tentu mereka harus melewati orang-orang yang ada di bagian atas. Kemudian suatu waktu, alih-alih mengambil air dari atas mereka malah melubangi kapal untuk mendapatkan air.

Lalu, apa yang akan terjadi? Tentu jika tidak ada yang memperingatkan dan memperbaiki perbuatan itu, kapal akan tenggelam beserta seluruh penumpangnya.

Dari perumpamaan di atas, kita akan mengevaluasi isu terkini di Indonesia mengenai Miss International Queen. Sebuah kontes kompetisi kecantikan terbesar dan dikatakan paling prestisius bagi wanita transgender di seluruh dunia. Kontes ini diselenggarakan setiap tahun sejak 2004. Dikatakan pula tujuan dari kontes ini adalah menumbuhkan kesadaran hak transgender di kalangan masyarakat internasional, penggalangan dana akan disumbangkan ke yayasan AIDS Kerajaan Thai, membangun persahabatan, sikap sportif dan bertukar ide antar komunitas LGBT internasional.

Kembali pada perumpamaan kita tadi, yang sejatinya adalah hadits Rasulullah. Kontes Miss Queen adalah salah satu bentuk perbuatan melubangi kapal. Ketika bahtera masyarakat mengarungi lautan kehidupan, manusia tentu ingin mengambil apa-apa yang ada dalam lautan kehidupan itu. Namun, apakah yang kita ambil adalah sesuatu yang benar? Dan apakah cara untuk mengambilnya adalah cara yang benar?

Jika kita kembali pada pedoman hidup kita sebagai muslim, yaitu Islam tentu kita akan mencari jawabannya di dalam Al Quran dan As Sunnah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki” (HR. Bukhari 5885).

Hadits di atas menjadi salah satu dalil keharaman transgender. Menyerupai saja dilaknat oleh Allah, apalagi bertransformasi sepenuhnya? Padahal larangan Allah melakukan perbuatan transgender adalah bentuk kasih sayang-Nya seperti kasih sayang ibu kepada bayinya, bahkan jauh lebih besar daripada itu. Karena semakin marak penyimpangan kodrat manusia, maka akan semakin dekat pula kepunahan atau kehancuran manusia. Namun, keharaman ini kini dilanggar. Bahkan mereka memberi panggung megah untuk kemaksiatan ini. Seperti halnya memberikan kesempatan dan jalan lebar untuk membocorkan kapal. Semakin banyak bocor dan semakin lebar lubangnya, semakin cepat manusia binasa.

Masalahnya, sekarang kita berada dalam sistem sekulerisme kapitalisme. Yang menjadikan kebebasan, materi dan kesenangan duniawi segala-galanya. Tontonan-tontonan penuh kemaksiatan menjadi konsumsi setiap hari lalu masyarakat menyerap berbagai kemaksiatan itu sehingga terinspirasi untuk melakukannya. Transgender diberi panggung, sehingga mereka merasa apa yang mereka lakukan adalah kebenaran dan kebanggaan.

 Masyarakat sekuler terdiri dari manusia yang egois. Kita sering melihat di sekitar kita, jika ada anak yang mengalami kelainan genetik atau psikologis yang membuatnya cenderung transgender, malah dibully atau ditertawakan. Semua trauma mereka, depresi dan penderitaan pun disebabkan oleh sistem ini.

Masyarakat sekuler kapitalis tidak paham cara mengembalikan mereka pada fitrahnya. Dari sinilah sumber kerusakan manusia berasal. Sistem inilah yang memicu transgender berkembangbiak dengan pesat.

Solusi dari masalah ‘lubang kapal’ berupa transgender ini telah diatur dengan apik oleh Islam. Islam memberi suasana yaang mendukung terciptanya ketakwaan. Seluruh individu diberikan pembinaan sejak kecil agar mereka memahami tujuan mereka diciptakan sebagai makhluk, yaitu beribadah kepada Allah. Islam akan membentuk kepribadian seseorang menjadi kuat dan mulia. Sehingga tidak mudah mengalami kegoyahan walaupun ditimpa ujian.

Di sisi lain, masyarakat Islam adalah masyarakat yang peduli. Giat beramar ma’ruf nahi munkar, yaitu mencegah ‘para pembcocor kapal’ dan memperbaiki ‘kerusakan kapal’ dengan Islam. Masyarakat Islam paham bagaimana memperlakukan orang-orang yang memiliki kecenderungan masalah seksual, mereka tidak dibully atau dibuat bahan hiburan. Tapi diajak berpikir jernih hakikat penciptaannya. Hingga tersadar dan kembali pada fitrahnya.

Kemudian, satu hal yang sangat penting adalah negara yang menerapkan Islam secara totalitas. Penerapan Islam dalam semua bidang kehidupan adalah satu-satunya jawaban dari seluruh permasalahan umat manusia. Penerapan Islam kaffah inilah yang menjamin kebutuhan manusia secara fisik maupun psikologis di dunia dan menjamin pula bagi keselamatan manusia di akhirat kelak. Insya Allah.

Negara Islam tidak akan memberi kesempatan atau fasilitas pada kemaksiatan. Bahkan memberi sanksi yang tegas agar membuat jera. Namun sebelum mereka memberi sanksi, akan diupayakan untuk membina, mengobati mereka atau memberi terapi dengan fasilitas terbaik. Negara harus bertanggungjawab untuk menyelesaikan masalah mereka sesuai tuntunan syariat.

Semua inilah keindahan suasana islam yang jauh dari kemaksiatan sehingga meminimalisasi perilaku menyimpang transgender. Ketika Allah menghendaki ujian bagi manusia, sesungguhnya Allah juga telah menetapkan jalan keluarnya. Sesungguhnya apapun yang diperintahkan kepada kita pasti membawa kebaikan dan apaun yang dilarang oleh Allah pasti membawa bahaya besar. Islam lah yang dapat memanusiakan manusia, bahkan memuliakan manusia. Tinggal kita sebagai manusia, maukah kita berupaya menjalankan syariat-Nya? Maukah kita menerapkan Islam untuk menjaga bahtera umat ini berlayar mengarungi lautan kehidupan hingga tujuan tanpa mengalami kebinasaan?*


latestnews

View Full Version