View Full Version
Sabtu, 30 Sep 2023

Food Vlogger, Profesi Serba Salah?

 

Oleh: Natasya

Akhir-akhir ini netizen dihebohkan dengan perseteruan antar food vlogger di jagat TikTok. Ini dikarenakan ada seorang food vlogger yang me-review sebuah warung makan yang menurut dari si vlogger ini, harga makanan di sana terlalu mahal jika dibandingkan dengan kualitas masakannya sendiri, dan juga customer service, dan keadaan warung tersebut pun menuai kritikan dari sang food vlogger. Seperti keadaan tempat makannya banyak sampah yang berserakan, dan pelayanannya yang kurang bagus.

Nah, tidak berhenti sampai di situ saja. Karena sang pemilik warung tidak terima kalau warungnya dikritik, tanpa seizinnya pula, sang pemilik pun tantrum di platform YouTube, marah-marah, dan menyalahkan sang food vlogger kalau food vlogger ini telah merusak bisnisnya, dan semacamnya. Dan hal ini pun viral, dan banyak netizen yang menanggapi hal ini dengan berbagai tanggapan. Ada yang negatif, dan ada yang positif.

Namun, banyak netizen yang malah membela sang food vlogger bahkan berterima kasih padanya. Karena di era ini, food vlogger yang jujur, yang bisa mengulas makanan atau tempat makanan secara jujur sangat jarang karena tuntutan endorse. Bahkan tak sedikit netizen yang menjadi korban ulasan food vlogger yang sering mengatakan tempat makan di a, b, c, enak, porsinya banyak, harganya murah, dan lain-lain, padahal kenyataannya jauh daripada itu.

Lantas, bagaimana dengan nasib dari warung atau usaha dari pemiliknya, bukankah hal ini juga dapat merugikan pemilik usaha? Jika ulasannya bagus, alhamdulillah, makin laris ya, kan. Tapi kalau jelek, banyak sekali pemilik usaha yang takut jika usahanya malah menjadi sepi atau menurun. Tentu saja tidak hanya bagi sang pemilik usaha, tapi yang mengulas pun deg-degan. Di satu sisi dia harus mengulas dengan jujur, di satu sisi dia takut jika ulasannya ini bisa menjatuhkan usaha orang.

Sebenarnya ada jalan keluar dari semua kekhawatiran tersebut. Apa itu? Jadi, sebenarnya, kalau sang pemilik usaha mau berpikir sedikit saja secara bijak, justru, hal tersebut, usaha makanannya diulas orang, adalah hal yang menguntungkan. Karena apa? Karena warungnya jadi diiklankan secara gratis. Walaupun diulas dengan hasil yang kurang bagus, tetap saja itu menguntungkan. Itu yang pertama. Yang kedua, sang pemilik usaha pun jadi tahu kekurangan dari usaha makanannya itu apa. Kapan lagi, kan, tempat makannya diulas oleh orang yang terkenal, punya followers banyak, apalagi kalau food vlogger-nya yang ahli dalam bidangnya. Wow, lucky++ itu, mah. Nah, setelahnya, diskusikan dengan si pengulas, apa saja kekurangan dari tempat makannya atau menunya, dan minta saran juga kalau bisa.

Setelah itu apa? Tentu saja memperbaiki semua apa-apa yang kurang tadi. Lalu, undang lagi si food vlogger ini untuk review tempat makan dan makanannya, apakah sudah lebih baik atau tidak. Dan pastinya hal ini pun akan di-publish oleh food vlogger tersebut. Dan netizen pun jadi tahu bahwa pelayanan dari tempat makan ini dan menunya sudah lebih baik, dan bisa jadi akan banyak yang penasaran dan datang ke tempat makan tersebut.

Itu hal yang lebih baik, kan, daripada harus tantrum di platform seperti itu. Karena konsumen zaman sekarang itu sudah lebih cerdas. Mereka tidak hanya peduli dengan makanan tapi juga tempatnya, pelayanannya, karakteristik, dan marketing dari tempat makan tersebut. Sebab itulah banyak sekali bisnis F&B yang berlomba meningkatkan kualitas mereka tidak hanya dari segi menu makanan, tapi juga branding, dan semua dari yang tadi kita sebutkan. Dan lagi, konsumen itu sangat emosional. Mereka cenderung tertarik pada hal-hal yang mengharukan. Jika pemilik dari usaha tempat makan tersebut menanggapi dengan tanggapan yang tadi kita gambarkan, maka otomatis konsumen akan merasa terharu dengan kebijakan sang pemilik, lalu tertarik untuk mengunjungi. Sebaliknya, dengan tanggapan yang tidak terima, marah-marah, menyalahkan, alih-alih memperbaiki, maka kita sudah tahu bagaimana tanggapan konsumen terhadap tempat makan tersebut.

Dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang pedagang muslim yang jujur dan amanah (terpercaya) akan (dikumpulkan) bersama para Nabi, orang-orang shiddiq dan orang-orang yang mati syahid pada hari kiamat (nanti).”

Jujur itu harus, karena kebohongan dapat merugikan banyak sekali pihak sebagaimana yang sudah kita ketahui. Dan menjadi seorang pedagang yang baik, jujur dan yang mengutamakan pembelinya juga harus. Karena semua itu dilakukan pun untuk diri kita sendiri sebagai seorang pembisnis. Jika kita jujur, baik, amanah, maka pembeli pun akan setia, dan juga bisa mendatangkan lebih banyak lagi pembeli. Berkah, insyaa Allah. (rf/voa-islam.com)

Ilustrasi: Google


latestnews

View Full Version