View Full Version
Kamis, 13 Oct 2016

Doa Diselamatkan dari Pemimpin Kafir (Agar Tidak Dipimpin si Kafir)


"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (SASARAN) FITNAH bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. Al-Mumtahanah : 5)

Oleh: Badrul Tamam

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulillah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.

Sangat lengkap Al-Qur'an dalam mengharamkan pemimpin kafir atas kaum muslimin. Tidak hanya mengharamkan memilih dan mendukung pemimpin kafir dengan larangan, Al-Qur'an juga mengabadikan doa agar tidak dipimpin orang kafir.

رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلَّذِينَ كَفَرُوا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (SASARAN) FITNAH bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. Al-Mumtahanah : 5)

Doa tersebut, seperti disebutkan Imam Ibnu Jarir al-Thabari di tafsirnya, adalah doa Khalilullah Ibrahim dan para pengikutnya. Kemudian beliau jelaskan maksudnya,

يا ربَّنا لا تجعلنا فتنة للذين كفروا بك فجحدوا وحدانيتك، وعبدوا غيرك، بأن تسلطهم علينا، فيروا أنهم على حقّ، وأنا على باطل، فتجعلنا بذلك فتنة لهم.

“Wahai Tuhan kami, janganleh Engkau jadikan kami sasaran fitnah orang-orang kafir terhadap-Mu, lalu mereka menentang keesaan-Mu, dan menyembah selain-Mu, dengan Engkau jadikan mereka berkuasa atas kami, sehingga mereka menilai diri mereka di atas kebenaran dan menilai kami di atas kebatilan, berarti dengan itu Engkau telah jadikan kami sasaran fitnah mereka.”

Al-Imam Ibnu Katsir menukil pendapat Qatadah Rahimahullah, “Janganlah Engkau (Ya Allah,-pent) menangkan mereka atas kami sehingga menimpakan fitnah dengan kemenangan itu; karena dengan kemenangan itu mereka merasa yang benar.”

Mufassir Syihabuddin Al-Alusi di tafsirnya Ruuh al-Ma’ani,  menjelaskan maksud ayat di atas, “janganlah Engkau kuasakan mereka atas kami sehingga mereka mencaci dan menyiksa kami.” Beliau lanjutkan, “seolah-olah dikatakan: waha Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami disiksa oleh orang-orang kafir.”

Beliau nukil perkataan Mujahid, “Maksudnya: janganlah Engkau siksa kami dengan tangan-tangan mereka, atau dengan adzab dari sisi-Mu sehingga mereka merasa berada di atas kebenaran sedangkan kami berada di atas kebatilan, sehingga meraka menimpakan fitnah kepada kami dengan sebab itu..”

Dari pendapat sejumlah mufassirin, doa atas mengandung makna agar Allah tidak jadikan orang kafir menguasai kaum musimin. Mereka tidak berada di bawa kekuasaan orang kafir sehingga mereka terfitnah agamanya. Maka jelas, doa ini salah satu usaha untuk menghindarkan kita –kaum muslimin- dari kepemimpinan dan kekuasaan orang kafir.

Dosa Sebab Kehinaan

Kaum kuffar tak akan pernah berhenti timpakan fitnah atas kaum muslimin, berkaitan dien maupun dunianya. Namun, makar mereka tak akan mempan jika Allah tak izinkan. Karena segala sesuatu terjadi di muka bumi dengan izin, kehendak, dan takdir-Nya. Lalu apa yang menyebabkan makar mereka sukses?

Suksesnya makar kuffar bukan karena mereka lebih hebat dari Allah Ta’ala. Rabb kita, Allah Jalla Jalaaluh pencipta alam semesta dan menguasai-Nya. Alam raya tunduk kepada perintah-Nya. Dzat Maha kuat dan perkasa; tak ada sesuatu yang bisa melemahkan-Nya.

Suksesnya kuffar menguasai negeri kaum muslimin dan menjajah mereka karena sebab dosa-dosa mereka. Maka di dalam doa tersebut, setelah minta kepada Allah agar tidak dikuasai atau tidak dipimpin orang kafir yang akan menimpakan fitnah atas mereka, meminta ampun kepada Allah dari dosa-dosa yang menjadi sebab Allah membiarkan kekalahan kita.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir al-Sa’di Rahimahullah berkata tentang maksud dosa di atas,

لا تسلطهم علينا بذنوبنا، فيفتنونا، ويمنعونا مما يقدرون عليه من أمور الإيمان، ويفتنون أيضا بأنفسهم، فإنهم إذا رأوا لهم الغلبة، ظنوا أنهم على الحق وأنا على الباطل، فازدادوا كفرا وطغيانا

Janganlah Engkau kuasakan mereka atas kami karena sebab dosa-dosa kami, lalu mereka menimpakan fitnah terhadap kami dan melarang kami melaksanakan perintah keimanan dari yang mereka kuasai. Juga, mereka menimpakan fitnah kepada kami dengan diri mereka, karena apabila mereka menyaksikan kemenangan mereka, pasti mereka menyangka diri mereka berada di atas kebenaran sedangkan saya berada di atas kebatilan, sehingga mereka bertambah kafir dan melampaui batas.

Kemudian doa di atas ditutup dengan menyebut 2 nama Allah yang Maha Indah,  al-‘Aziz dan al-Hakim. Syaikh Sa’di menjelaskan, Al-Aziz, adalah yang perkasa atas segala sesuatu. Al-Hakim adalah yang meletakkan sesuatu pada tempatnya. Maka dengan keperkasaan dan hikmah-Mu, tolonglah kami atas musuh-musuh kami, ampunilah dosa-dosa kami, dan perbaiki kekurangan-kekurangan kami.

Pemimpin Kafir Bahayakan Eksistensi Kaum Muslimin

Kepemimpinan kafir atas kaum muslimin membahayakan dien dan kemaslahatan dunia kaum muslimin (terpeliharanya halal dan haram). Karenanya, Islam haramkan memilih dan mendukung kepemimpinan kafir di wilayah kaum muslimin. Lebih dari itu QS. Al-Maidah: 51 menyingkap, pemimpin kafir memprioritaskan kepentingan sesama mereka. Saling tolong menolong dan bantu membantuk untuk kepentingan mereka. Sedangkan kepada kaum muslimin, mereka tidak. Kenapa? Kata Syaikh Al-Sa’di, karena mereka ada musuh yang sebenarnya sehingga tidak peduli dengan kesengsaraan kaum muslimin. Bahkan, mereka terus menerus berusaha  sedikit demi sedikit untuk menyesatkan kalian. Maka tidaklah mendukung mereka kecuali orang yang semisal mereka.

Satu pendapat yang dinukil Al-Alusi,

المراد ومن يتولهم منكم فإنه كافر مثلهم حقيقة

Maksudnya: siapa yang mendukung mereka dari kalian maka ia kafir yang sebenarnya seperti mereka.

Abdullah bin Utbah, seperti dinukil Ibnu Katsir, berkata tentang ayat itu, “Hendaknya salah seorang kalian berhati-hati menjadi Yahudi ata Nasrani tanpa ia sadari.”

[Baca: Antara Ayat Haramkan Daging Babi dan Haramkan Pemimpin Kafir, Lebih Banyak Mana?]

Penutup

Menghadapi fitnah kuffar yang sedang merajalela di negeri ini kita harus kembali kepada Allah; memohon ampunan kepada-Nya, memperbaiki diri dan bertaqarrub kepada-Nya dengan perkara yang Dia cintai dan ridhai.

Tanamkan husnudzan kepada Allah, bahwa Dia Maha kuasa atas segala sesuatu untuk memenangkan kaum muslimin dan menghindarkan dari fitnah kuffar. Allah kuasa memporak-porandakan strategi jahat terhebat kuffar, mengalahkan dan menghinakan musuh-musuh-Nya. Sehingga hanya kepada-Nya kita bertawakkal setelah berusaha sebagai bentuk ikhtiyar. Wallahu A’lam. [PurWD/voa-islam.com]

Share this post..

latestnews

View Full Version