View Full Version
Senin, 02 Apr 2018

Penyakit Degeneratif dan Lifesytle Zaman Now

Oleh: Eva Liana

Penyakit degeneratif  merupakan ancaman tersendiri bagi masyarakat dunia, termasuk Indonesia. Penyakit tersebut menjadi penyakit yang menghantarkan kematian tertinggi di dunia, terutama di negara-negara maju. Berdasarkan data World Health Organization (WHO) pada 2014, sekitar 71% kematian di Indonesia disebabkan penyakit degeneratif.

Dulu sebelum penemuan antibiotik, angka kejadian dan kematian akibat penyakit infeksi lebih tinggi. Kini, penyakit degeneratif justru makin mendominasi seiring meningkatnya angka harapan hidup, angka kesembuhan terhadap penyakit infeksi, dan gaya hidup (lifestyle) yang tidak sehat.

Menurut para ahli kesehatan, penyakit ini merupakanpenyebab terjadinya kerusakan atau penghancuran terhadap jaringan atau organ tubuh. Beberapa di antaranya yang paling banyak diderita penduduk Indonesia adalah hipertensi, stroke, penyakit jantung koroner, diabetes melitus dan kanker. Meskipun tidak menular, namun proses penyembuhannya sulit dan memakan waktu lama. Selain itu juga berbiaya tinggi dan membahayakan ketahanan bangsa.

Disinyalir, penyakit ini juga ternyata merambah usia muda. Menurut Prof. dr. Taruna Ikrar, M. Pharm, PhD cardiovascular & Neurology specialist, meski penyakit ini adalah penyakit yang mengiringi proses penuaan, tetapi saat ini banyak sekali orang pada usia muda yang juga berisiko dan mengalami penyakit degeneratif tersebut. Para ahli kesehatan masyarakat menemukan bahwa penyakit degeneratif  ternyata tak sekadar persoalan medis, melainkan erat kaitannya dengan aspek non-medis, khususnya lifestyle.Ini menunjukkan bahwa lifestyle tidak sehat memegang peranan penting dalam meningkatkan resiko terserang penyakit ini.

Mengingat faktor pemicu terbesar adalah lifestyle yang tidak sehat, kiranya perlu ditelusur akar penyebab meningkatnya angka kejadian penyakit degeneratif ini. Mungkinkah berkaitan dengan sekulerisme yang mengungkung dunia hari ini?

Menurut Susanto (dalam Nugrahani, 2003), life style atau gaya hidup adalah perpaduan antara kebutuhan ekspresi diri dan harapan kelompok terhadap seseorang dalam bertindak berdasarkan pada norma yang berlaku. Sehingga bermacam-macam lah gaya hidup yang berkembang di masyarakat zaman now. Misalnya, gaya hidup hedonis, gaya hidup metropolis, gaya hidup global dan lain-lain.

Lifestyle,hakikatnya lahir dari mindset berpikir dan bersikap yang dimiliki seseorang atau masyarakat. Pada gilirannya mempengaruhi pengelolaan stres, kebiasaan makan, serta pola aktivitas. 

Terkait stres, pada level tertentu berujung pada kejadian  penyakit degeneratif, seperti penyakit jantung dan stroke.  Sejumlah riset terkini semakin menguatkan pandangan bahwa penyakit jantung dan stroke berkaitan erat dengan tingkat stres psikis.  Salah satunya dibuktikan oleh penelitian  Dr.Ahmed Tawakol, dokter spesialis penyakit jantung dari Massachusetts General Hospital, Boston, AS.  Hasil riset ini dimuat dalam Jurnal Kedokteran The Lancet  Volume 389, No. 10071, p834–845, 25 February 2017 dengan tajuk  Relation between resting amygdalar activity and cardiovascular events: a longitudinal and cohort study  (http://www.thelancet.com/journals/lancet/article/PIIS0140-6736(16)31714-7/fulltext).

Dengan kata lain,lifestyle seseorang atau suatu masyarakat terkait erat dengan kumpulan pemahaman tentang kehidupan yang hadir di masyarakat.  Sementara kumpulan pemahaman tentang kehidupan merupakan inti dari suatu peradaban (An-Nabhani, Peraturan Hidup Dalam Islam, 2001).   Di sinilah mengapa lifestylepenting dibahas dari sudut pandang peradaban yang mempengaruhinya, apakah dari sisi peradaban Islam dan sekuler.  Karena masing-masing peradaban ini sangat berbeda ditinjau dari aspek asas, gambaran tentang kehidupan dan makna kebahagiaan.

            Peradaban sekuler dibangun atas prinsip terpisahnya agama dari kehidupan dan negara.  Sistem kehidupan, baik sistem ekonomi, pergaulan, pendidikan dan pemerintahan dirumuskan  manusia yang kemampuannya lemah lagi terbatas.  Ukuran kehidupan dilihat dari manfaat.  Adapun kebahagiaan dirasakan ketika meraih nikmat materi sebanyak-banyaknya.  Keseluruhan mindset dan sistem kehidupan sekuler inilah yang membentuk lifestyle sekuler. 

Kehadiran Pencipta yang dibatasi pada aspek privasi, serta terlarang pada kehidupan publik, mengakibatkan krisis spiritual pada diri manusia.Aspek spiritual atauruhiyahmerupakan  kesadaran akan hubungan dengan Allah SWT dalam menjalankan aktivitas kehidupan. Aspek inilah yang hakikatnya menjadi sumber energi utama dan terpenting bagi seseorang dalam mengelola stress. Jika aspek ini diabaikan, maka stres sulit diatasi. Lifestyle sekuler mengeringkan aspek ruhiyah ini. Bahkan bila dicermati lifestyle sekuler justru menjadi sumber stresor tersendiri.   

Tatkala kebahagiaan tertinggi diukur dengan capaian kenikmatan materi sebanyak-banyaknya, maka manfaat materilah yang mendasari interaksi masyarakat. Mulai dari hubungan ibu dan anak hingga relasi penguasa dan rakyat. Akibatnya kehidupan masyarakat kental dengan pertikaian, pertentangan, dan eksploitasi satu sama lain. Aspek insaniah, akhlak dan ruhiyah dalam kehidupan masyarakat sekuler menjadi barang langka. Welas asih, kasih sayang, kejujuran, ketulusandan empati sulit didapat.  Semua ini jelas menjadi sumber stresor yang luar biasa. 

Sistem kehidupan sekuleryang diterapkan penguasa pun menjadi sumber berbagai stresor fisik maupun psikis.  Contohnya, sistem ekonomi kapitalis dan sistem pemerintahan demokrasi. Dari sistem tersebutlahir berbagai kebijakan yang membuat hajat hidup publik mahal dan sulit diakses. Sistem ekonomi kapitalistik ini juga telah bertanggungjawab terhadap kerusakan dan keseimbangan alam yang menjadi sumber stresor fisik bagi jutaan manusia hari ini.  Dampak yang dirasakan langsung terutama oleh keluarga adalah semakin susahnya mencari pekerjaan dan meningkatnya harga berbagai kebutuhan pokok. Sehingga banyak keluarga yang hidupnya tertekan secara fisik dan psikis.

Kiranya, tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa peradaban sekuler hari ini merupakan sumber berbagai stresor, psikis dan fisik yang seringkali melewati kapasitas kemanusiaan sebagian besar masyarakat. Sehingga logis jika pengidap penyakit degeneratif  jumlahnya terus meningkat.

   Peradaban Islam berbeda jauh dengan peradaban sekuler.  Aqidah Islam adalah asas dan kehidupan berlangsung di atas sistem kehidupan yang berasal dari Allah SWT.  Dengan kata lain, peradaban Islam berdiri di atas aspek ruhiyah.  Aktivitas kehidupan berjalan sesuai perintah dan larangan Allah SWT berlandaskan kesadaran hubungan dengan Allah SWT.  Keridhoan Allah SWT merupakan kebahagiaan tertinggi.Hal ini meniscayakan lifestyle masyarakat Islam dilingkupi aspek spiritual. Membuat setiap orang memiliki energi yang memadai untuk pengelolaan emosi yang sehat.  

Pandangan bahwa kebahagiaan tertinggi meraih ridho Allah SWT dengan melaksanakan semua perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya menjadikan  interaksi masyarakat diliputi dengan aspek insaniah, akhlak dan ruhiyah.  Kasih sayang, kejujuran dan ketulusan, menjadi atmosfer kehidupan masyarakat.  Semuanya bahan baku penting dalam menyehatkan emosi. Sistem kehidupan Islam yang diterapkan penguasa, menjadikan lifestyle masyarakat  peradaban Islam mencapai puncak kesehatan yang sempurna.   

Contoh gambaran kisah seorang  dokter yang kesulitan mencari  orang sakit di masa Rasulullah SAW, merupakan satu bukti masyarakatyanghidup dengan lifestyle sehat. 

Demikianlah, ketika Islam diterapkan secara total di seluruh aspek kehidupan, niscaya terwujud lifestyle sehat di tengah masyarakat. Sebagaimana Allah SWT tegaskan  dalam Al-Qur’an,  “Tidaklah Kami mengutus engkau ya Muhammad melainkan rahmat bagi seluruh alam.(TQS Al Anbiya (21): 107)

 Menyoroti momok penyakit degeneratif  memang harus menyeluruh. Tak cukup dari aspek medis. Tetapi juga harus dipandang sebagai persoalan non-klinis yang mendasari munculnya faktor pemicu penyakit tersebut, yakni lifestyle sekuler.

Oleh sebab itu,untuk mengurangi risiko serangan penyakit degeneratif, perlu perubahan lifestyle masyarakat, yang diawali dengan mengubah bingkai peradabannya menjadi peradaban Islam. Apalagi, mengingat setiap muslim wajib menjadikan Islam sebagai tolok ukur bagi semua jawaban persoalan kehidupan.[] 

Share this post..

latestnews

View Full Version