View Full Version
Ahad, 15 Mar 2020

Tanaman Herbal, Covid-19 dan Peran Negara

 

Oleh. Afiyah Kharomah., STr. Battra

Pemerintah Indonesia kembali mengumumkan 35 kasus baru virus corona Covid-19 pada Jumat (13/3/2020). Pengumuman ini disampaikan oleh Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Corona Achmad Yurianto di dalam konferensi pers di Kompleks Istana Kepresidenan. Dengan bertambahnya kasus baru tersebut, total kasus virus corona Covid-19 di Indonesia menjadi berjumlah 69 orang. 4 orang diantaranya telah meninggal dunia (kompas.com 13/3/2020)

Tentu saja ini membuat kepanikan tersendiri bagi warga negara Indonesia. Apalagi ditengah upaya pemerintah yang cenderung lamban. Akhirnya, masyarakat berupaya secara individu untuk menangkal virus tersebut. Salah satunya adalah dengan mengkonsumsi jamu dan obat-obatan herbal. Namun, timbul masalah, apakah benar jamu atau obat-obatan herbal dapat menangkal virus tersebut?

Hal ini telah dijelaskan oleh Guru Besar Ilmu Biologi Molekuler Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya, Chaerul Anwar Nidom bahwa antivirus yang terbuat dari zat cucumin, yang selama ini bisa menangkal virus hepatitis C dan flu brung (H5N1), juga bisa digunakan untuk menangkal virus corona (Covid-19). Beliau menjelaskan bahwa virus corona memiliki kemiripan genetik dengan virus jenis lainnya. Untuk membuktikan itu, beliau harus melewati serangkaian penelitian.

Curcumin adalah zat yang ada di dalam empon-empon Indonesia. Empon-empon tersebut adalah jahe, temulawak, kunyit, kencur, serai dan kayu manis. Obat yang mengandung Curcumin dapat mengatasi infeksi berbagai virus yang menyerang organ paru-paru dalam tubuh manusia. Salah satunya adalah virus flu burung.

Beliau juga menjelaskan bahwa minum tanaman herbal yang banyak mengandung curcumin, dapat digunakan untuk mencegah dari efek infeksi yang akan ditimbulkan. Bukan untuk mencegah virus. Pada akhirnya, beliau berhasil menemukan ramuan herbal untuk mencegah virus Corona. Ini menjadi alasan masyarakat Indonesia meningkatkan konsumsi terhadap empon-empon sebagai preventif Covid 19. Beliaupun mendorong pemerintah untuk membentuk komisi nasional mitigasi bencana penyakit. Beliau juga sudah meminta sample virus corona kepada pemerintah. Namun belum mendapatkan jawabannya. Beliau menyayangkan apa yang dilakukan oleh pemerintah berpijak pada kesimpang siuran.

Tak hanya curcumin, ternyata Indonesia sangat kaya akan tanaman obatnya. Indonesia memiliki 30.000 spesies tanaman. Sebanyak 7.000 spesies merupakan tanaman obat. Sekitar 1.250 jenis digunakan untuk produksi obat-obatan herbal dan jamu. Leih dari 40% populasi mengandalkan khasiat dari jamu untuk menjaga kesehatan. Akan tetapi baru sekitar 26% yang telah dibudidayakan. Meskipun Indonesia menjadi lahan subur bagi tanaman obat, sangat disayangkan pemanfaatannya masih terbatas.

69 orang yang terkonfirmasi terinfeksi virus Corona, menjadi ironi negara Indonesia yang membudayakan minum jamu sebagai kearifan lokal. Indonesia, sebagai negara yang memiliki kekayaan tanaman herbal yang melimpah, haruslah menjadi negara rujukan bagi negara lain. Apalagi Indonesia kaya akan ilmuwan jeniusnya. Bercermin dari upaya menteri kesehatan terdahulu dalam penanganan kasus virus flu burung. Indonesia bahkan mampu menemukan struktur virus dan berjaya dalam mengatasi flu burung.

Negara lebih dari cukup untuk mengkomando semua perangkatnya untuk mengatasi covid-19. Dengan kekayaan tanaman obat yang luar biasa, para ilmuwan berbakat, laboratorium yang mumpuni dan kekayaan alam yang luar biasa, harusnya mampu menciptakan vaksin covid-19. Beserta obat dan pencegahannya. Bahkan lebih dari itu, harus ada upaya politik dan keamanan yang dilakukan oleh pemerintah. Contohnya pemerintah harus mencabut visa bebas kunjung bagi warga negara yang terdampak virus Corona, tak terkecuali Cina.

Pemerintah dengan perangkat kesehatannya harus benar-benar sigap, memberikan informasi yang benar terkait herbal mana yang bisa digunakan untuk mencegah dan mengurangi efek infeksi virus. Agar masyarakat juga segera melakukan aksi preventif terhadap virus tersebut. Sehingga bisa menekan angka kasus Covid-19. Bukannya sigap, pemerintah justru membiarkan pendapat-pendapat saling silang liar dipermukaan.

Sangat disesalkan, terbukti pemerintah lalai. Ini tampak dari kecerobohan pemerintah tidak adanya larangan untuk melarang pendatang dari Cina masuk ke Indonesia, sejak terjadinya wabah di Wuhan hingga saat ini. Selain itu, tidak terlihat kesungguhan pemerintah dalam upaya pencegahan dengan peningkatan imunitas masyarakat melalui asupan bergizi. Pemerintah juga belum membentuk tim khusus yang concern untuk riset dan mencari obat dan vaksin Covid-19.

Sangat berbeda dengan masa kejayaan Islam. Negara mengerahkan segenap daya upaya untuk mengatasi wabah. Umat Islam terdahulu mengembangkan ikhtiar baru mengatasi pandemi dengan vaksinasi. Cikal bakal vaksinasi dari dokter-dokter muslim zaman Khilafah Turki Utsmani. Dalah seorang dokter Turki yang memperkenalkan metode ini kepada bangsa Eropa. Emmanuel Timmonius adalah dokter Turki keturunan Yunani yang bekerja untuk Kesultanan pada awal abad ke-18 terjangkit wabah smallpox. Beliau menggunakan metode variolation untuk menekan jumlah penyakit tersebut.

Lady Mary Wortley Montagu (1689-1762), istri dari duta besar inggris untuk Turki saat itu, membawa ilmu vaksinasi ke Inggris untuk memerangi cacar. Namun Inggris perlu menunggu setengah abad, sampai tahun 1769 Edward Jenner mencoba teknik tersebut dan berhasil. Cacar yang pernah membunuh puluhan juta manusia hingga awal abad-20, akhirnya benar-benar berhasil dimusnahkan di seluruh dunia dengan vaksinasi yang massif. Kaus cacar ganas terakhir tercatat 1978.

“Setiap penyakit pasti ada obatnya.”, begitulah sabda Rasulullah yang menjadi motivasi para ilmuwan dan sarjan a di era kekhalifahan untuk berlomba meracik dan menciptkan beragam obat-obatan. Pencapaian umat Islam yang begitu gemilang dalam bidang kedokteran dan kesehatan di masa keemasan tak lepas dari keberhasilan di bidang farmakologi dan farmasi.

Menurut Howard R Turner dalam bukunya Science in Medievel Islam mengatakan umat Islam mulai menguasai farmakologi dan farmasi setelah melakukan gerakan penerjemahan secara besar-besaran di era Kekhalifahan Abbasiyah. Salah satu karya penting yang diterjemahkan adalah De Materia Medica karya Dioscorides. Karya-karya terdahulu itu membuat para ilmuwan Islam terinspirasi untuk melahirkan berbagai inovasi dalam bisang farmakologi. Ia mengatakan bahwa Kaum Muslimin menyumbang banyak hal dalam bidang Farmasi dan pengaruhnya sangat luar biasa terhadap Barat.

Betapa tidak, para ilmuwan di masa keemasan telah memperkenalkan adas manis, kayu manis, cengkeh, kamper, sulfur serta merkuri sebagai unsur atau bahan racikan obat-obatan. Islam-lah yang mendirikan warung pengobatan pertama. Para ahli farmakologi Islam juga termasuk yang pertama dalam mengembangkan dan menyempurnakan pembuatan sirup dan julep.

Sebagai muslim, kita semestinya optimis bahwa untuk setiap penyakit, Allah pasti juga menurunkan obatnya. Dengan keoptimisan tersebut, maka itu yang akan mendorong para ilmuwan muslim untuk berlomba-lomba menciptakan vaksin Covid-19, mencari formularium terbaik dari tanaman obat untuk mengatasi ledakan sitokin storm dan pneumonia yang ditimbulkan akibat serangan virus tersebut, juga bagaimana melakukan pencegahan agar wabah tak semakin meluas. Tentu saja, hal diatas membutuhkan peran intensif negara.

Seperti sabda Rasulullah SAW:

“Imam (Khalifah) yang menjadi pemimpin manusia, adalah (laksana) penggembala. Dan hanya dialah yang bertanggung jawab terhadap (urusan) rakyatnya.” Wallahu’alam Bisshawab. (rf/voa-islam.com)

Ilustrasi: Google


latestnews

View Full Version