View Full Version
Jum'at, 01 Mar 2024

Tingginya Angka Tuberculosis, Mencari Akar Masalah Penyakit

 

Oleh: Sunarti

"Obat jauh, penyakit hampir" yang artinya dalam kesusahan yang sukar mendapat pertolongan atau berasa dalam kesukaran. Begitu keadaan penduduk di negeri ini. Masyarakat luas sedang terjangkit penyakit yang angkanya tinggi dan tentunya sangat mengkhawatirkan. Penyakit tersebut adalah tuberculosis atau sering disebut TB.

Saat ini Indonesia sedang  bekerja keras untuk pemberantasan TB secara global. Menurut Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin, Indonesia sedang berupaya mengeliminasi TB. Hal ini disampaikan oleh Menkes ketika menghadiri Stop TB Partnership (STP) Board Meeting ke-37 di kota Brazil ([email protected]).

Lebih lanjut di laman tersebut juga disebut bahwa Indonesia negara dengan beban tertinggi kedua TB secara global, telah melakukan upaya memberantas TB dan berhasil mencatatkan keberhasilan yang signifikan pada 2023, yakni laporan atau notifikasi kasus tertinggi sepanjang sejarah TB di Indonesia. Yang sebelumnya hanya bisa mendeteksi kasus TB sebanyak 400-500 ribu, bahkan turun menjadi sekitar 300 ribu selama pandemi Covid-19.

 

Proses Terjadinya Penularan TBC

Kasus TB di Indonesia saat ini menempati posisi kedua setelah India. Angka penderita TB di Indonesia mencapai angka 10 persen menurut data terbaru dalam Global TB Report 2023.

Penyakit TBC ditularkan melalui batuk atau bersin, penderita TBC dapat menyebarkan kuman yang terdapat dalam dahak ke udara. Dalam sekali batuk, penderita TBC dapat mengeluarkan sekitar 3.000 percikan dahak (Alodokter).

Dalam laman tersebut juga dibahas jika bakteri TB yang berada di udara bisa bertahan berjam-jam, terutama jika ruangan gelap dan lembab, sebelum akhirnya terhirup oleh orang lain. Umumnya, terjadi dalam ruangan di mana percikan dahak berada dalam waktu yang lama. Dan orang-orang yang beresiko tinggi tertular TBC adalah mereka yang sering bertemu atau berdiam di tempat yang sama dengan penderita (keluarga, teman dekat/sekantor/sekelas).

 

Faktor Penyebab Tingginya Angka Penderita TBC

Pertama faktor pengobatan. Pengobatan TB membutuhkan waktu yang lama, antara 6-8 bulan. Karena waktu yang panjang ini membuat penderita sulit sembuh karena pasien TB merasa  sehat meski proses pengobatan belum selesai. Sehingga dengan merasa sembuh ini, mereka kebanyakan berhenti dalam meminum obat sebelum waktunya.

Layanan kesehatan yang optimal tidak tersebar merata di seluruh negeri sehingga masyarakat tidak bisa mengakses fasilitas kesehatan dengan optimal. Ada pula yang terlambat untuk ditangani.

Kedua adalah aktor ekonomi. Kemampuan ekonomi masyarakat juga mempengaruhi kualitas kesehatan. Masyarakat yang berekonomi lemah atau masyarakat miskin, kebanyakan mengalami gangguan kesehatan termasuk TBC. Sebab mereka belum menerapkan perilaku hidup sehat. Seperti personal higiene (kebersihan diri), kebersihan lingkungan, sanitasi lingkungan juga sangat rendah.

Kebanyakan masyarakat miskin cenderung memikirkan kebutuhan pokok (kebutuhan primer) semata. Untuk urusan pakaian dan tempat itu bisa dikatakan kebutuhan yang bisa ditunda. Alih-alih mereka memikirkan kebutuhan gizi, nutrisi yang baik, kebersihan diri dan lingkungan, untuk bisa makan dengan kenyang saja, sudah cukup.

Ditambah dengan kebutuhan lain mereka, seperti urusan pendidikan. Di posisi ini dengan sangat terpaksa, mereka menyisihkan sebagian penghasilan untuk menutup segala kebutuhan pendidikan. Bahkan bisa saja menomorduakan kebutuhan pokoknya. Di posisi seperti ini, mereka tidak akan mungkin melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala, karena dirasa dirinya sehat.

Ketiga, fasilitas dan pelayanan kesehatan yang berorientasi pada bisnia. Fakta di lapangan masyarakat miskin, susah mengakses fasilitas kesehatan yang memadai. Fasilitas kesehatan saat ini yang berorientasi pada bisnis dengan pelayanan optimal hanya bisa dinikmati oleh masyarakat yang kaya saja.

Ditambah dengan prosedur pengobatan yang ribet bagi masyarakat miskin, juga membuat masyarakat yang sakit enggan untuk melakukan pengobatan secara rutin. Prosedur rujukan dan persyaratannya, membuat penderita TB tak segera tertangani dengan cepat. Ini juga mempengaruhi proses penyembuhan.

 

Akar Masalah Tingginya Penderita TB

Sebenarnya dari semua penyebab meningkatnya jumlah penderita TB maupun munculnya problematika di masyarakat, penyebab utamanya adalah diterapkannya sistem kapitalis. Sistem ini berorientasi pada kapital/uang.

Negara yang semestinya melakukan pelayanan optimal pada rakyat terkait kebutuhan dasar, yaitu sandang, pangan dan papan. Sayangnya dalam sistem kapitalis ini justru mengutamakan keuntungan materi saja. Nasib rakyat bukan prioritas utama.

Ini menyebabkan persaingan hidup yang ketat, ibarat hukum rimba. Siapa yang kuat dia yang menang. Para pemilik uang, dia yang akan menguasai kehidupan. Sehingga rakyat miskin tersisih.

Tersebab penguasaan sumber daya alam yang dikuasai asing dan aseng membuat pengasuhan negara pada rakyat tidak bisa terlaksana secara maksimal. Karena sumber daya alam adalah salah satu pemasukan negara untuk kesejahteraan rakyat termasuk dalam layanan kesehatan.

 

Solusi Tuntas Penanganan Penyakit TB

Akan sangat sulit negara ini menyelesaikan segala persoalan dengan solusi yang tambal sulam. Pasalnya penyakit yang disebabkan oleh bakteri Tuberkulosis ini butuh solusi yang tepat dan menyeluruh. Meningkatnya jumlah penderita TB bukan masalah kesehatan semata, tapi merupakan rentetan sistem yang lain.

Menyelesaikan persoalan TB paru dibutuhkan keterpaduan antara negara dan masyarakat. Negara sebagai penyelenggara fasilitas kesehatan dengan sepenuh hati melayani rakyat secara keseluruhan tanpa membedakan rakyat miskin maupun kaya. Karena kesehatan merupakan hak dasar rakyat. Bukan juga layanan jual beli atau bisnis.

Fasilitas kesehatan berupa laboratorium pemeriksaan penyakit, laboratorium pengembangan obat-obatan dan juga imunisasi disediakan oleh negara. Termasuk alat transportasi yang menunjang dan memudahkan terjangkaunya rakyat akan layanan kesehatan juga cepat dan tepatnya pertolongan kegawatdaruratan.

Pelayanan kesehatan yang mudah dan terjangkau oleh semua lapisan masyarakat juga diupayakan oleh negara. Selain itu upaya promotif yang meliputi perilaku hidup sehat, pemenuhan kebutuhan gizi dan pemeriksaan kesehatan secara berkala serta pengobatan rutin bagi penderita terus dilakukan.

Pengobatan yang dilakukan cepat, tepat dan efektif. Ditambah dengan prosedur yang mudah bagi penderita, menjadikan penderita tidak enggan untuk memeriksakan kesehatannya. Termasuk tidak jenuh dalam menjalankan proses pengobatan yang dirasa lama.

Semua dana untuk kebutuhan penyelenggaraan kesehatan diambil dari hasil sumber daya alam yang dikelola oleh negara dan disalurkan untuk kepentingan rakyat. Meliputi sarana dan prasarana yang lengkap dan memadai juga terjangkau di berbagai wilayah.

Negara memiliki peran penting dalam memutus rantai penularan TB. Sayangnya saat ini sistem kapitalis tidak memiliki cara jitu untuk menyelesaikannya. Sehingga angka penderita TB semakin meningkat. Sebenarnya ini bukti dari ketidaklayakan dari sistem kapitalis. Bagaimana meng-eliminasi TB, sementara tidak ada dukungan dari sistem yang ada. Bukti pula sistem kapitalis sudah tak layak eksis. Wallahu alam bisawab. (rf/voa-islam.com)

ILustrasi: Google


latestnews

View Full Version