View Full Version
Sabtu, 10 Sep 2011

Islam Pilihan 2 Wanita AS Pencari Kebenaran



 

Sabtu, 10 September 2011

Hidayatullah.com--Sarah Prucha dan Christy Thephachanh sedang menjalani pencarian kebenaran dalam kehidupan spiritualnya, saat di lingkungan mereka terdapat orang-orang Muslim.

Ketika itu Prucha berusia 25 tahun dan bekerja di sebuah bank di pusat kota Houston. Ia mengamati ada rekan kerjanya yang selalu berhenti sejenak beberapa kali dalam sehari untuk shalat. Dia juga memperhatikan kebiasaan mereka mengucapkan bismillah sebelum makan dan alhamdulillah ketika bersin.

Sementara itu, Thephachanh pertama kali berteman dengan Muslim saat ia masih kuliah. Beberapa tahun kemudian, saat dirinya memutuskan untuk menjadi lebih relijius dalam hidupnya, dia pun mempelajari agama lebih banyak.

Orangtua Thephachanh adalah imigran asal Laos. Mereka penganut ajaran Budha. Tapi, perlahan seiring dengan waktu mereka mengikuti komunitas Kristen Corpus Christi. Penyebabnya tidak lain karena di tempat tinggalnya tidak ada komunitas penganut Budha.

Tahun lalu, kedua wanita itu mengucapkan dua kalimat syahadat. Mereka mengikuti jejak warga Amerika Serikat lain, yang setiap tahunnya pasti ada ribuan orang yang bersahadat.

Baik Prucha maupun Thephachanh mengatakan, kepindahan mereka ke dalam Islam lebih merupakan keputuhan relijius, bukan politik. Menjadi mualaf, bagi mereka adalah pencapaian dalam pencarian spiritual.

Bagi warga Amerika, baik yang dilahirkan di negara itu atau di belahan bumi lain, pindah agama menjadi penganut Islam pada saat ketegangan politik meningkat bukanlah sebuah keputusan yang mudah. Di luar masjid tidak ada penanda lain selain hijab atau kerudung, sebagai identitas Muslim.

Namun, hal yang paling mereka khawatirkan adalah bagaimana komunitas agama mereka dipandang oleh orang lain. Kekhawatiran yang juga dirasakan oleh banyak Muslim Amerika lainnya.*


latestnews

View Full Version