View Full Version
Jum'at, 18 May 2018

Kesalahan Memulai Puasa Harian, Makan Sahur Terlalu Awal

Oleh: Badrul Tamam

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulillah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.

Puasa harian kita dimulai dari terbitnya fajar kedua sampai terbenamnya matahari. Yakni sejak terbitnya fajar shadiq yang cahaya putihnya menyebar di timur sampai tenggelamnya matahari di barat.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman tentang ketentuan waktu puasa harian,

فَالْآَنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْوَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ

Karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam,” (QS. Al-Baqarah: 187)

Makna “hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar”, adalah terangnya cahaya putih siang (fajar) dari gelapnya malam.

Al-Imam Ibnu Katsir berkata tentang ayat ini, “Ini adalah rukhsoh (keringanan) dari Allah Ta’ala untuk kaum muslimin. Mengangkat perintah (puasa) pada permulaan Islam. Yakni apabila salah seorang mereka berbuka, maka dibolehkan makan, minum, dan jima’ sampai shalat Isya’ atau tidur sebelum itu. Ketika ia sudah tidur atau shalat Isya’ maka diharamkan makan, minum dan jima’ sampai malam berikutnya. Kemudian mereka merasa sangat berat dari perintah tersebut. Lalu diturunkan ayat ini sehingga mereka sangat gembira sekali, karena Allah bolehkan mereka makan, minum dan jima’ kapan saja di waktu malam yang dikehendaki seorang shaim (ornag berpuasa) sampai Nampak jelas cahaya pagi dari hitam (gelap)-nya malam.” (Intisari Tafsir Ibnu Katsir: 1/288-290)

Dari ayat yang mulia ini dapat disimpulkan batasan puasa harian di mulai sampai selesainya. Dimulainya  dari terbitnya fajar kedua. Selesainya sampai terbenamnya matahari.

Karenanya yang terbaik bagi seorang shaim untuk mengakhirkan sahur sehingga mendekati Shubuh dan menyegerakan berbuka saat yakin masuk malam (tenggelamnya matahari). Sehingga ia berpuasa sesuai dengan batasan waktu yang telah ditetapkan syariat.

Kesalahan Memulai Puasa Harian

Kesalahan yang sering dilakukan sebagian orang adalah menyegerakan makan sahur. Mereka begadang sampai pertengahan malam, lalu menyegerakan sahur dengan makan sampai kenyang dan tidak bangun kecuali sudah terbit fajar (sesudah Shubuh).

Cara sahur seperti ini melanggar beberapa ketentuan:

Pertama: Mereka berpuasa sebelum waktunya, yakni memulai puasa setelah makan malam yang dianggap sebagai makan sahur, padahal itu makan malam. Orang yang melakukan ini ia telah memulai puasa jam 02.00 atau 03.00 malam.

Kedua: Mereka meninggalkan makan sahur yang sesungguhnya, padahal makan sahur terdapat keberkahan padanya, sebagaimana hadits Shahih, “Makan sahurlah kalian, karena sesunggguhnya dalam makan sahur terdapat keberkahan.” (Muttafaq ‘Alaih)

Ketiga: Meninggalkan shalat Shubuh berjamaah sehingga mereka bermaksiat kepada Allah dengan meninggalkan kewajiban shalat berjamaah.

Keempat: Boleh jadi mereka mengerjakan shalat Shubuh setelah lewat waktunya (kesiangan) karena begadang semalaman. Ini termasuk perbuatan dosa besar dan termasuk orang yang lalai dari shalat. (QS. Al-Maa’un: 4-5)

Karenanya, penting sekali kita mengetahui ketentuan waktu puasa harian sehingga kita berpuasa sesuai dengan petunjuk syariat. Tentunya ini akan menambah kesempurnaan ibadah shiyam kita. Wallahu A’lam. [PurWD/voa-islam.com]

Share this post..

latestnews

View Full Version