Oleh: Badrul Tamam
Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulillah ﷺ dan keluarganya.
Puasa Senin (dan Kamis) termasuk salah satu jenis puasa sunnah (nâfilah) dalam Islam. Yaitu berpuasa pada hari Senin dan Kamis setiap pekan. Puasa ini termasuk amalan yang dianjurkan, di mana seorang muslim yang ingin melakukan ibadah sunnah dianjurkan untuk membiasakan diri berpuasa pada kedua hari tersebut.
Dalam hadis dari ‘Āisyah Ummul Mukminin Radhiyallahu 'Anha, ia berkata:
إن النبيﷺ كان يتحرى صيام الاثنين والخميس
“Sesungguhnya Nabi ﷺ sangat menjaga (berusaha rutin) berpuasa pada hari Senin dan Kamis.” (HR. Al-Tirmidzi, Ibnu Majah, al-Nasai dan lainnya)
Bukti lain, ditunjukkan oleh jawaban Rasulullah ﷺ ketika beliau ditanya tentang puasa hari Senin. Beliau bersabda:
ذاك يوم ولدت فيه، وفيه أنزل علي
“Itu adalah hari aku dilahirkan, dan pada hari itu pula wahyu diturunkan kepadaku.”
(HR. Muslim)
Kadang-kadang Rasulullah ﷺ juga menjelaskan alasannya berpuasa pada hari itu karena pada hari Senin (dan Kamis) amal-amal hamba dihadapkan kepada Allah. Sebagaimana dalam hadis:
تُعرضُ الأعمالُ يومَ الإثنين والخميسِ فأُحِبُّ أن يُعرضَ عملي وأنا صائمٌ
“Amal-amal dilaporkan (kepada Allah) pada hari Senin dan Kamis, maka aku senang amalanku dilaporkan dalam keadaan aku sedang berpuasa.” (HR. Ahmad dan al-Tirmidzi)
Adapun kebiasaan sebagian masyarakat kita, membaca sirah (riwayat hidup Nabi) pada hari senin karena bertepatan dengan hari kelahiran beliau atau di bulan Rabi’ul awal yang bertepatan bulan lahir beliau, maka itu bukanlah bagian dari sunnah. Para salaf juga tak kerjakan amalan itu. Yang lebih utama adalah mengikuti petunjuk mereka dan menjauhi perkara-perkara baru (dalam agama); sebab kalau itu merupakan kebaikan, niscaya mereka telah lebih dahulu melakukannya. Wallahu a’lam. [PurWD/voa-islam.com]