View Full Version
Jum'at, 01 Jan 2010

Kontroversi Gus Dur vs Wahabi: Siapa yang Aneh?

JAKARTA (voa-islam.com) - Soal koleksi humor dan keanehan, bisa jadi Gus Dur adalah orang nomor wahid di Indonesia. Sepanjang hayatnya, mantan Ketua PBNU tak bisa dipisahkan dari kontroversi, keanehan dan nyeleneh berbalut guyonan. Kini, sepeninggal kiyai nyentrik ini pun masih menyisakan keanehan.

Semasa hidupnya Gus Dur adalah orang yang sangat alergi terhadap kaum "Wahabi." Saking kerasnya, presiden RI keempat ini bahkan menyebut kaum Wahabi sebagai keturunan Musailamah Al-Kadzab (Sang Penipu) yang rendah diri.

“Kaum Wahabi keras, itu karena kerja sama dengan Dinasti Saudi. Itu yang penting. Penting sekali. Dinasti Saudi ini mengidap rasa rendah diri. Kenapa? Karena mereka keturunan Musailamah Al-Kadzab. Jadi, sikap rendah diri itu lalu ditutupi dengan sikap seolah paling benar sendiri. Wahabi dijadikan alat untuk menutupi masa lalu Dinasti Saud saja,” tegas Gus Dur.

Demikian disampaikan Gus Dur pada diskusi buku karya Stephen Sulaiman Schwartz berjudul “Dua Wajah Islam: Moderatisme Vs Fundamentalisme dalam Wacana Global,” di Auditorium Nurcholish Madjid Universitas Paramadina Jakarta, Rabu, (31/10/2007) malam. Buku ini berjudul asli “The Two Faces of Islam: The House of Sa’ud from Tradition to Terror” (2002) yang diterjemahkan dan diterbitkan kembali oleh the WAHID Institute pada September 2007.

..Jika semasa hidupnya Gus Dur tahu bahwa kelak bila dirinya sudah meninggal akan dishalati dan didoakan oleh ulama Wahabi, bisa jadi Gus Dur tidak akan mencela kaum Wahabi sebagai keturunan Musailamah Al-Kadzab, Sang Penipu yang rendah diri...

Anehnya, ketika Gus Dur sudah meninggal, imam Masjidil Haram dari Kerajaan Saudi Arabia, Syaikh Abdurrahman Bin Abdul Aziz As-Sudais, justru memimpin doa dan shalat ghaib untuk Gus Dur. Padahal para imam dan ulama Saudi Arabia itulah yang sering jadi sasaran tudingan “Kaum Wahabi.”

Shalat ghaib dan doa khusus untuk Gus Dur itu dipanjatkan di Masjid Istiqlal, sebelum shalat Jumat (1/1/2010).

Abdurrahman Sudais yang mengenakan jubah warna putih dan mengenakan sorban bercorak merah dan putih kemudian memanjatkan doa dengan bahasa Arab. Doa dipanjatkan sekitar lima menit. Para jamaah mengirinya dengan ‘amiin’.

Shalat ghaib untuk Gus Dur yang dilakukan oleh Syaikh Sudais adalah keanehan yang fenomenal dalam hidup dan mati Gus Dur.

Jika semasa hidupnya Gus Dur tahu bahwa kelak bila dirinya sudah meninggal akan dishalati dan didoakan oleh ulama Wahabi, bisa jadi Gus Dur tidak akan mencela kaum Wahabi sebagai keturunan Musailamah Al-Kadzab, Sang Penipu yang rendah diri.

Pun sebaliknya, jika Syaikh Sudais itu tahu bahwa kaum Wahabi termasuk dirinya itu dicela Gus Dur dalam sebuah seminar, sebagai keturunan Musailamah Al-Kadzab, masihkan beliau mau mendoakan dan menyolati Gus Dur? Wallahu a’lam.

Sayangnya, tudingan kaum Wahabi sebagai keturunan Musailamah Al-Kadzab itu tidak bisa dikonfrontir antara Gus Dur dan Syaikh Sudais. Karena di tahun baru 2010 ini Gus Dur tidak bersama kita lagi. Beliau bertahun baru di alam barunya. [taz]

Baca berita terkait:


latestnews

View Full Version