View Full Version
Kamis, 17 Dec 2009

Ritual Sesat Cabup Mojokerto, Sujud di Kaki Warga

Mojokerto (voa-islam) - Aneh-aneh saja para pengejar jabatan di negeri ini. Demi kemenangan dan mendapat simpati masyarakat dalam pemilihan Bupati Mojokerto, calon bupati (cabup) Mojokerto, Mustofa Kamal Pasha melakukan ritual dengan cara bersujud di kaki warga dan menyerahkan wajahnya untuk dipukul warga. Aksi inipun menimbulkan pro dan kontra.

Ritual Cabup Mustofa Kamal Pasha tersebut terjadi di Desa Menanggal, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto, Senin (14/12). Dalam rapat akbar bersama rakyat, cabup Mustofa mendeklarasikan pendampingnya, M Ali Kuncoro.

Saat deklarasi, kandidat cabup yang diusung sembilan parpol ini melakukan aksi bersujud di kaki warga, kemudian menyerahkan wajahnya untuk dipukul warga sebagai simbol akan kesungguhannya memperjuangkan nasib rakyat Mojokerto. Dengan simbol itu, Mustofa ingin menunjukkan kesungguhannya untuk melakukan perubahan di Mojokerto.

Sementara di dua desa lainnya, yakni Desa Banjarsari, Kecamatan Jetis, dan Desa Lengkong, Kecamatan Mojoanyar, Mustofa melakukan ritual sujud mencium bumi di hadapan warga.

Mustofa Kamal Pasha mengatakan, kegiatan itu murni kegiatan rakyat, tanpa adanya intervensi pihak lain. ”Ini resmi gerakan rakyat dari bawah,” ujar Mustofa.

”Demi perubahan Kabupaten Mojokerto yang lebih baik, kami akan maju berpasangan dengan Ali Kuncoro,” tambahnya.

Sebagai putra daerah, lanjutnya, majunya ke bursa pilbup 2010 tersebut semata-mata untuk membangun Kabupaten Mojokerto menjadi lebih baik. “Sebagai orang asli putra daerah, saya mempunyai tanggungjawab untuk membangun Kabupaten Mojokerto menjadi lebih baik, maju dan masyarakat semakin sejahtera,” katanya.

Menurut Ketua GP Ansor Kabupaten Mojokerto Heri Ermawan, ritual tersebut hanyalah sebuah simbol. Bahwa, sebagai bupati nantinya, jika dia berbuat salah maka dia siap untuk diingatkan warganya. “Simbol itu kan seolah mengatakan, kalau salah dalam memimpin nanti, rakyat berhak mengingatkan,” kata Heri Ermawan yang juga anggota DPRD Kabupaten Mojokerto, Selasa (15/12).

Heri yang juga sekretaris DPC PKB Kabupaten Mojokerto ini menambahkan, meskipun kesungguhan dalam memimpin digambarkan seperti di depan khalayak seperti itu, namun ia menganggap ritual itu hanya sensasi.

Ketua GP Ansor Kabupaten Mojokerto Heri Ermawan, ritual itu hanya sensasi semata.

Sensasi atau simbol apalah yang jelas ritual ini batil bertentangan dengan Islam karena melakukan sujud kepada makhluk. Padahal sujud hanya boleh dilakukan kepada Allah, Tuhan semesta alam. Apakah ini bentuk mempertuhankan rakyat sebagaimana prinsip dalam demokrasi? Wallahu a'lam.

Allah telah melarang hamba-hamba-Nya bersujud kepada matahari dan bulan padahal keberadaan keduanya sangat mempengaruhi kelangsungan hidup mereka.

لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

"Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah Yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah." (QS. Fushilat: 37). Hal itu karena matahari dan bulan hanya makhluk ciptaan Allah yang diatur dan ditundukkan oleh Allah untuk manusia. Keduanya bukan tuhan maka tidak layak disembah dengan bersujud kepadanya. Begitu juga rakyat adalah makhuk dan hamba Allah, tidak boleh bersujud padanya.

Matahari dan bulan hanya makhluk ciptaan Allah yang diatur dan ditundukkan oleh Allah untuk manusia. Keduanya bukan tuhan maka tidak layak disembah dengan bersujud kepadanya. Begitu juga rakyat adalah makhuk dan hamba Allah, tidak boleh bersujud padanya.

Ketika Mu'adz bin Jabal radliyallah 'anhu datang dari Syam, beliau bersujud kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Maka Nabi bersabda: "Hai Mu'adz, apa-apan ini?." Muadz menjawab: “Saya datang ke negeri Syam dan saya lihat penduduknya sujud kepada Uskup dan Komandan mereka, maka saya berkeinginan untuk melakukan hal itu terhadap Anda.”

Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

فَلَا تَفْعَلُوا فَإِنِّي لَوْ كُنْت آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِغَيْرِ اللَّهِ لَأَمَرْت الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا

“Jangan lakukan itu, seandainya saya memerintahkan seseorang untuk sujud kepada selain Allah pasti saya perintahkan wanita untuk sujud pada suaminya, . . " (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Dalam sebuah hadits yang dikeluarkan oleh At-Tirmidzi, dari Abu Hurairah radliyallah 'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, bersabda:

لَوْ كُنْتُ آمِراً أَحَداً أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا

"Kalau saja aku boleh menyuruh orang untuk bersujud kepada orang lain, pasti aku akan menyuruh seorang wanita untuk bersujud kepada suaminya."

"Kalau saja aku boleh menyuruh orang untuk bersujud kepada orang lain, pasti aku akan menyuruh seorang wanita untuk bersujud kepada suaminya."

Nyatalah kebatilan ritual yang dilakukan calon Bupati Mojokerto ini. dengan alasan apapun tidak bisa dibenarkan, apalagi hanya sensasi, simbolik, atau menjilat rakyat supaya mau memilihnya. (PurWD/dbs)


latestnews

View Full Version