View Full Version
Senin, 11 Jan 2010

Ramai-Ramai Berharap Gelar Pahlawan Nasional

Jakarta (voa-islam.com) - Belum reda polemik soal pemberian gelar kepahlawanan kepada Soeharto yang di dukung Golkar dan Gus Dur oleh PKB, sejumlah aktivis mahasiswa '66 dan Partai Demokrat mengusulkan Letjen (Purn) Sarwo Edhie Wibowo dijadikan pahlawan nasional. Mantan Komandan Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat (RPKAD, kini Kopassus) dianggap berjasa dalam penumpasan PKI tahun 1965.

Namun demikian, sejarahwan Asvi Warman Adam menjelaskan, pengusulan gelar kepahlawanan harus menyertakan persyaratan biografi mengenai sosok yang diusulkan. Untuk Sarwo Edhie, kata Asvi, belum ada biografi yang menceritakan kepahlawanan mertua Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu.

Menurut Asvi, poin krusial yang harus dinilai dari sosok Sarwo Edhie adalah kepemimpinanya dalam operasi RPKAD dari 1 Oktober sampai Desember 1965.

Gus Dur dan Suharto: Pahlawan Rasa dan Pahlawan Logika

Wafatnya Gus Dur ini benar-benar menjadi fenomena unik bagi masyarakat Indonesia yang seakan sedang kebingunan nonton sinetron bank Century. Ketika syaraf masyarakat menjadi rusak dan tumpul ketika dipaksa harus menonton berita yang diulang-ulang selama beberapa minggu. Gus Dur memang tokoh nyeleneh, tokoh yang konsisten dalam ketidak-konsistenannya. Bahkan setelah kematiannya sekalipun.

Namun Yang sedang heboh sekarang adalah usulan agar Gus Dur ditetapkan sebagai pahlawan Nasional. Tidak ada satupun suara menentang yang terdengar. Yang menjadi lebih menarik adalah gagasan yang numpangi, yaitu yang mengatakan bahwa jika Gus dur ditetapkan sebagai pahlawan nasional maka Suharto juga harus ditetapkan sebagai pahlawan nasional. Ditinjau dari sudut jasa formal, Suharto jauh lebih lama menjadi Presiden RI selama 32 tahun, sedangkan Gus Dur hanya dua tahun.

Bahkan selentingan usil di Facebook berkembang, "zaman Suharto ribuan masjid berdiri melalui Yayasan Amalbhakti Muslim Pancasila, tapi dizaman Gus Dur justru marak berdiri gereja-gerja dan bahkan membela aliran sesat!!"

Meski demikian tidak ada respond publik ketika Golkar mengusulkan agar Presiden Suharto dikukuhkan sebagai pahlawan nasional. Sementara Gus Dur, baru lima menit wafat sudah mengalir SMS ke istana agar Gus Dur dimakamkan di makam pahlawan.

Tapi betapapun harus diakui, jejak nyeleneh ala Gus Dur dan KKN ala Suharto terasa dalam getaran fikiran dan tetap terekam jejak langkah mereka oleh masyarakat kita, apalagi bagi korban dan musuh politik masing-masing tokoh terebut.

Lalu bagaimana Islam menilai manusia? Apakah gelar pahlawan nasional itu penting apalagi setiap orang akan kembali ke Darul Akherat?


latestnews

View Full Version