View Full Version
Senin, 29 Nov 2010

Dubes Palestina: Amerika Arogan, Menghambat Perdamaian Palestina-Israel

JAKARTA (voa-islam.com) – Hambatan yang nyata perdamaian Palestina-Israel adalah Amerika Serikat. Dengan sikap arogannya Amerika melakukan veto terhadap setiap resolusi yang merugikan Israel. Amerika jugalah yang menghambat proses untuk mendapat keanggotaan Palestina di Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Komentar itu disampaikan Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Fariz N Mehdawi di Jakarta, Senin (29/11/2010) dalam acara peringatan Hari Solidaritas Internasional terhadap warga Palestina.

“Kami harap semua orang kini tahu siapa yang merupakan hambatan nyata terhadap pencapaian (perdamaian) itu, sekarang adalah waktunya bagi komunitas internasional untuk bekerja dan beraksi, kami telah menyerahkan semuanya kepada Amerika Serikat dan mereka terus bersikap arogan,” kata Mehdawi.

Arogansi Amerika Serikat lainnya adalah penolakan Palestina dalam keanggotaan PBB.

...Amerika Serikat melakukan veto terhadap setiap resolusi yang merugikan Israel...

Mehdawi menambahkan, Palestina tidak pernah mendapat kesempatan untuk berdialog secara seimbang sebagai negara yang sedang bernegosiasi, karena AS dan Israel merupakan pihak yang lebih kuat sehingga seringkali Israel melakukan tindakan kekerasan ataupun mundur secara sepihak dalam negosiasi.

Palestina kini lebih berfokus terhadap pembangunan sebagai aksi nyata daripada menunggu hasil negoisasi yang berlarut-larut tersebut, walaupun Mehdawi tetap menyatakan bahwa peran PBB sebagai perwakilan komunitas internasional tetap penting dan dialog akan terus dilakukan.

Mehdawi juga mengharapkan solidaritas dari Indonesia agar bisa memainkan peran lebih dalam proses diplomasi, karena ia menilai bahwa Indonesia merupakan salah satu negara kuat yang memiliki kemampuan diplomasi berpengalaman di tingkat internasional.

“Indonesia merupakan salah satu kekuatan yang sedang tumbuh di dunia, sehingga Indonesia bisa memainkan peran diplomatik yang penting serta bertanggung jawab atas proses perdamaian itu melalui pendekatan yang konstruktif,” katanya.

Secara langsung juga ia mengajak warga Indonesia untuk berkunjung ke Palestina untuk memberikan dukungan moril terhadap perjuangan dan pembangunan yang tengah dilakukan bangsanya.

“Jika saudara anda sedang sakit atau dilanda kesusahan, lazimnya anda mengunjungi mereka, seperti halnya kami juga ada di Indonesia seperti saat ini,” kata Mehdawi yang juga mempromosikan tentang indahnya kota Jerusalem sebagai tujuan pariwisata.

Dalam sebuah pemaparan, Mehdawi juga menyampaikan tentang situasi terkini di Palestina serta sejarah pendudukan warga Israel terhadap wilayah Palestina yang dimulai sejak abad ke 18 ketika 65.000 pemukim Yahudi mengungsi ke tanah Palestina akibat meluasnya anti Semitisme —sebuah paham permusuhan atau prasangka terhadap kaum Yahudi— di Eropa pada masa itu.

Melalui pemutaran sebuah film, digambarkan bahwa tanah Palestina yang telah didiami oleh bangsa Arab Palestina yang relatif maju, dengan tingkat kebudayaan yang cukup tinggi di masa itu, kemudian diklaim sebagai “tanah yang dijanjikan” bagi para pemukim Yahudi tersebut.

Permukiman Yahudi yang terus berlanjut dari masa ke masa disertai dengan pengusiran dan pembersihan etnis terhadap warga Palestina, yang kemudian memicu konflik berkepanjangan hingga kini.

....Israel mendapat pengakuan PBB sebagai negara, sedangkan Palestina hanya mendapat status sebagai pemerintah otoritas. Berbeda dengan sikap pemerintah Indonesia yang mengakui Palestina sebagai negara namun tidak halnya terhadap Israel....

Israel kemudian mendapat pengakuan PBB sebagai negara, sedangkan Palestina hanya mendapat status sebagai pemerintah otoritas, hal tersebut berbanding terbalik dengan sikap pemerintah Indonesia yang mengakui Palestina sebagai negara namun tidak halnya terhadap Israel.

Hari Solidaritas Internasional terhadap warga Palestina sendiri merupakan peringatan terhadap Resolusi Majelis Umum PBB No.181 tentang Rencana Pembagian Wilayah Palestina pasca berakhirnya mandat Inggris terhadap Palestina pada 29 November 1947.

Menurut Pusat Informasi PBB, acara serupa juga digelar di markas PBB di New York, Wina, Jenewa, serta beberapa tempat lainnya di dunia. [taz/ant]


latestnews

View Full Version