View Full Version
Selasa, 06 Dec 2011

Masya Allah! 12 Yayasan ini Dituduh PBNU sebagai Salafi-Wahabi Penebar Teror

JAKARTA (voa-islam) – Ketua Umum PBNU KH Said Agil Siraj kembali merilis 12 yayasan Islam yang dituduh sebagai Salafi Wahabi penebar benih radikal dan teror yang mengajarkan doktrin pengeboman.

Pernyataan itu disampaikan pada acara workshop “Deradikalisasi Agama Berbasis Kyai/Nyai dan Pesantren” yang digelar Muslimat NU di Park Hotel Jakarta, Sabtu (3/12/2011).

Dua belas yayasan Salafi Wahabi yang dituding Said Aqil Siradj antara lain sebagai berikut:

1. Yayasan Al Sofwa di Lenteng Agung, Jakarta Selatan (diketuai Maman Abdurrahmadan dan Farid Uqbah),  

2. As-Sunnah di Cirebon (alamat di Jl. Kali Tanjung Kecamatan Grahsan Cirebon, diketuai Salim Bajerei, didirikan oleh Yusuf Utsman Baisa, dan didanai oleh Kholid Bawazi, pemilik pabrik mie di Jeddah),

3. Yayasan Al-Fitrah di Surabaya, di Jalan Arif Rahman Hakim Perumahan Galaksi Ruko 26 sampai 30 (diketuai oleh Ainul Haris),

4. Yayasan Al-Faruq di jalan Danau Toba, Jember.

5. Yayasan Ulil Albab di Lampung, Sukabumi dan Bogor yang diketuai Yazid Jawaz.

6. Yayasan Ihya Turats,

7. Yayasan An-Nida dan sebagainya.

“Ada dua belas yayasan yang indikasinya di situlah Radikalisasi tumbuh; di Lenteng Agung namanya Al Shofwah, ketuanya namanya Maman Abdurrahman dan Farid Oqbah. Di Cirebon As Sunnah, Jl. Kali Tanjung Kecamatan Grahsan, Cirebon, ketuanya namanya Salim Bajri yang mendirikan Yusuf Baisa, yang mendanai namanya Kholid Bawazir yang punya pabrik mie di Jeddah. Di Surabaya Jl. Arif Rahman Hakim, perumahan Galaxy, Ruko 26 sampai 30, namanya Yayasan Al Fitroh, ketuanya namanya Ainul Haris. Di Jember Jl. Danau Toba, Yayasan Al Faruq. Di Bandar Lampung namanya Yayasan Ulil Albab ketuanya namanya Yazid Jawas, yayasan inilah yang di Sukabumi Jl. Cimangling, di Bogor Jl. Cijeruk. Inilah yayasan-yayasan yang mengajarkan Islam Radikal atau wahabi,” rinci Said Aqil di hadapan puluhan Muslimat NU.

Said menuding, dua belas yayasan Wahabi itu mengajarkan ideologi Islam Radikal sehingga lahirlah aksi pemboman masjid Cirebon.

“Yayasan-yayasan itulah yang mengajarkan ajaran Islam radikal atau Wahabi. Pelaku bom Masjid Mapolresta Az-Zikra di Cirebon, Gus Syarifuddin adalah jebolan As-Sunnah Cirebon. Bahkan telah mengafirkan bapaknya sendiri. Begitu juga dengan pelaku pengeboman Gereja Bethel di Solo, yakni Gus Ahmad Yosefa juga merupakan alumunus As-Sunnah. Lalu pelaku bom Ritz Carlton, Syaifuddin ternyata dari Manis Lor Kuningan,” tukas Said Agil.  

Kiyai yang sering mendapat gelontoran dana dari Muammar Kaddafi Libya ini juga mengeneralisir kelompok-kelompok Wahabi yang ditudingnya itu semuanya harus diwaspadai. Sedangkan kelompok yang paling keras, menurut Said Aqil, adalah kelompoknya Syaikh Abdullah bin Sururi.

Bagaimana dengan  Al-Irsyad? Apakah termasuk yang disebut Salafi Wahabi? KH. Said Siraj menjelaskan bahwa Al-Irsyad terbelah dua, salah satunya diketuai Wahabi moderat. “Al-Irsyad terbagi dua. Adapun Al-Irsyad yang resmi yang diketuai oleh KH  Abdullah Djaidi adalah Salafi wahabi yang moderat,” kata Said Agil.  

Kiyai yang dalam buku Kristen terang-terangan menyatakan bahwa Tauhid Islam sama dengan Trinitas Kristen itu, juga menyebut-nyebut ormas Hidayatullah sebagai gerakan radikal yang mengusung wacana Negara Islam. “Hidayatullah fokus di bidang pendidikan. Tapi, Hidayatullah punya cita-cita, targetnya adalah mendirikan Negara Islam.”

Anehnya, setelah mengakui adanya kelompok Salafi Wahabi moderat, Said Aqil memvonis semuanya sebagai kelompok ekstrem dan radikal. “Semua Salafi Wahabi itu ekstrem, tidak ada yang moderat. Mereka kerap menebar benih kekerasan dan radikalisme,” ketusnya.

Sekilas saja, validitas  data yang dirilis Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj itu meragukan. Misalnya menyebut yayasan Al-Sofwah dipimpin oleh Ustadz Farid Oqbah dan Ustadz Aman Abdurrahman. Siapapun aktivis akan tertawa terkekeh-kekeh mendengar data ini, karena semua orang tahu, Ustadz Farid Oqbah adalah Pimpinan Islamic Centre Al-Islam, bukan pimpinan Al-Sofwah. Sedangkan Ustadz Aman Abdurrahman, memang pernah menjadi staf karyawan di Al-Sofwah, tapi tidak pernah menjabat sebagai pimpinan.

Nampaknya kiyai nomor satu di PBNU ini harus menata ulang adab  berbicara dan menjaga lisannya, jika ia masih beriman bahwa seluruh ucapan dan perbuatan pasti dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Berkatalah baik atau diam! [taz, widad, desastian]


latestnews

View Full Version