View Full Version
Jum'at, 24 Feb 2012

FPI Bantah Rumor, Insiden Kalteng Terkait Patung Naga di Singkawang

JAKARTA (VoA-Islam) – Dalam pertemuan Ketua Umum FPI dengan Ketua Umum Fahmi Tamami, H. Rhoma memohon konfirmasi pada Habib Rizieq seputar rumor yang beredar di masyarakat Kalimantan Tengah. Dikabarkan, Habib saat berdakwah di Singkawang, Kalimantan Barat, dituding memerintahkan masyarakat setempat untuk menghancurkan patung naga. Konon, isu ini menjadi pemicu masyarakat Dayak di Kalteng melakukan aksi penolakan terhadap FPI.

Habib Rizieq pun menjelaskan duduk perkara yang sesungguhnya terjadi dio Singkawang, Kalbar. Di Singkawang, ada Walikota keturunan Tionghoa  membuat patung naga di jantung kota yang terletak di perempatan jalan. Kebijakan membuat patung naga itu menuai protes dari tokoh melayu non FPI. Seperti diketahui, di Singkawang dihuni oleh mayoritas Melayu Sambas.

Mendapat penolakan dari masyarakat Melayu, Walikota keturunan Tionghoa itu pun mengerahkan dayak yang dibayar untuk membenturkan dengan masyarakat Melayu di Singkawang, disitulah FPI terlibat. “ FPI masuk dari Pontianak ke Singkawang untuk menjembatani kedua belah pihak, agar tidak terjadi perang antara dayak dan melayu.Karena, kalau sampai terjadi perang, FPI akan ikut Melayu yang notebene muslim,” jelas Habib.

Yang Habib dengar, masyarakat Melayu di Singkawang keberatan dengan keberadaan patung naga yang merupakan simbol Cina, bukan dayak. Kita tahu, symbol dayak itu biasanya buaya atau kadal, sedangkan naga tidak dikenal oleh masyarakat dayak. Itu jadi persoalan. Kemudian, Walikota berjanji untuk melakukan pertemuan-pertemuan intensif. Dalam pertemuan itu, masyarakat Melayu Singkawang meminta agar patung itu dipindahkan ke Klenteng, jangan di tengah kota.

Lalu, Walikota menawarkan , agar membuat tiga patung untuk ketiga etinis, yakni: masyarakat Cina, Dayak, dan Melayu. Namun, tokoh Melayu menolak untuk dibuatkan patung. Suatu ketika terjadilah teror terhadap sejumlah tokoh Melayu Singkawang, toko mereka pun dibakar. Untuk membantu masyarakat Melayu yang diteror, akhirnya FPI mengerahkan massa dari Mempawah. FPI mengingatkan, agar jangan coba-coba mengganggu dan membantai saudara Melayu Singkawang. Sejak FPI dan Polisi turun, situasi pun redam, tidak ada lagi teror di Singkawang.

Usulan masyarakat Melayu agar Patung Naga dipindahkan ke klenteng, akhirnya  diterima Walikota, Namun belum dilaksanakan. Suatu ketika, tokoh-tokoh Tionghoa Singkawang yang tinggal di Jakarta meminta untuk bertemu dangan  FPI untuk melakukan lobi-lobi. Saat itu yang menjadi mediator adalah jubir Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Tokoh Cina itu meminta agar patung naga itu tidak dibongkar dan dipindahkan.

“FPI tetap bersikap tegas seraya saya sampaikan: sudahlah anda jangan mengadu domba antara dayak dengan melayu. Camkan, jika saudara kami, masyarakat melayu kalian ganggu, satu melayu mati, maka Cina di Jakarta yang harus bertanggungjawab. Tapi, kalau kalian mau aman untuk usaha dagang di Jakarta, kita nggak ngangu kalian. Singkat cerita, dialog pun deadlock alias buntu,” kata Habib bersemangat.

Sebut Melayu Keturunan Rampok

Yang sangat disesalkan lagi, pernah dalam sebuah seminar, Walikota Singakwang membuat makalah seputar asal-asal masyarakat dayak dan melayu. Dalam makalahnya, walikota itu menulis, bahwa penduduk asli Kaltim atau seluruh Kalimantan itu adalah etnis dayak, adapun melayu itu keturunan bangsa perampok, karena tinggal di pesisir, bukan di pedalaman.

Menurut Walikota, bangsa melayu merampok kapal-kapal yang datang dari berbagai negeri, kemudian jadi orang kaya dan  menjadikan dayak sebagai budaknya. Lalu datanglah Saudagar Cina yang katanya telah menyelamatkan dayak  dengan membebaskan masyaraat dayak dari  perbudakan.

Dasar sial, makalah itu akhirnya bocor dan dibaca oleh Sultan Sambas. Lalu ngamuklah masyarakat Melayu.  Terbetik kabar, Sultan Sambas mengancam akan menyerbu Singkawang. Lagi-lagi, ketika itu FPI  kembali menjadi tertuduh. Yang jelas, soal patung naga, Sultan Sambas tidak ikut campur . Menurutnya, itu permasalahan masyarakat Singkawang. Ketersinggungaan Sultan Sambas adalah ketika walikota Singkawang itu menyebut  bangsa melayu berasal keturunan rampok, seperti ditulis dalam makalah seminar.

Tidak terima penghinaan itu, Sultan Sambas turun tangan menuntut walikota minta maaf dalam waktu 2x24 jam. Akhirnya, walikota minta maaf dan menarik makalahnya. Kemudian, kasus ini dimanfaatkan oleh orang-orang Melayu Singkawang untuk memprotes patung naga. Sampai sekarang, tidak ada kejelasan perihal patung naga, apakah sudah dipindahkan ke Klenteng atau belum, seperti permintaan masyarakat melayu Singkawang.

Menanggapi isu, FPI dianggap menjadi pemicu penolakan FPI di Kaleng, yang bermula dari kasus Singkawang, Habib menengarai, boleh bisa ada pihak-pihak yang mengarang cerita untuk memprovokasi masyarakat dayak. Yang pasti, tidak ada patung yang dihancurkan di Kalimantan. “Andai saja yang memprotes itu masyarakat Madura di Kalimantan, dayak akan menyerang etnis Madura. Tapi karena masyarakat Melayu yang protes, maka orang dayak harus berpikir seribu kali, mengingat etnis Melayu juga merupaka suku asli Kalimantan,” tukas Habib. 

Bukan rahasia lagi, biasanya etnis dayak yang sudah memeluk agama Islam,  jarang yang mau menyebut dirinya sebagai orang dayak, meski suku aslinya dari  dayak. Tak berbeda dengan Sumatera Utara, bagi yang beragama muslim, jarang yang mau disebut sebagai orang Batak, mereka lebih suka disebut sebagai orang Medan atau Mandailing. Desastian


latestnews

View Full Version