View Full Version
Kamis, 26 Jul 2012

KAMMI: Tolak Pembangunan "Markas Militer" AS di Indonesia

JAKARTA (voa-islam.com) - Pengurus Pusat KAMMI  yang bertempat di Jl. Penggalang Raya No. 3 Matraman Jaktim mengadakan konferensi pers terkait rencana Amerika Serikat untuk membangun gedung kedubesnya yang menelan biaya 450 juta Dollar atau setara dengan 4,2 triliun Rupiah dan menghabiskan waktu sekitar lima tahun dalam proses pembangunannya.

Menurut siaran pers yang diwakili oleh humas PP KAMMI, Eric Setiawan, Selasa (24/07/2012), AS dikhawatirkan akan menancapkan hegemoninya dan pengaruhnya dalam mencampuri urusan dalam negeri Indonesia dengan membangun kedubes terbesar ketiga setelah di Iraq dan Pakistan.

Karena seperti yang diketahui bahwa dua kedubes terbesar AS di Iraq dan pakistan menjadi pangkalan militer dan intelejen di dua negara tersebut.

Maka PP KAMMI  menghimbau kepada pemerintah Amerika Serikat dengan gedung barunya untuk tidak melakukan :

Pertama,  melakukan aktivitas mata-mata terhadap pemerintah Indonesia yang berdaulat yang menjalankan roda pemerintahannya dan warga negara Indonesia dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kedua,  menolak dengan keras intervensi pemerintah Amerika Serikat terhadap segala kebijakan yang diambil oleh pemerintah Indonesia dan menolak keras tekanan pemerintah Amerika Serikat terhadap pemerintah Indonesia.

Ketiga,  menolak dengan keras kehadiran militer pemerintah Amerika Serikat di kedubes tersebut karena Indonesia adalah negara damai dan tidak membutuhkan kehadiran kekuatan militer asing dalam wilayah kekuasaan pemerintah Indonesia.

Setelah membacakan pernyataan sikap dari PP KAMMI  Eric Setiawan selaku humas sangat menyayangkan sikap pemerintah Indonesia yang seolah-olah tutup mata terhadap pembangunan kedubes Amerika Serikat

"Ini masalah serius pemerintah Indonesia yang berdaulat, seharusnya pemerintah memberikan sikapnya terhadap upaya pembangunan kedubes Amerika Serikat yang lebih mirip barak militer daripada gedung untuk bekerja", tandasnya mengakhiri pembicaraan. [Zahra]


latestnews

View Full Version