View Full Version
Sabtu, 28 Jul 2012

Inilah Pesan Ustadz Abu Bakar Ba'asyir untuk Putri Munawaroh

JAKARTA (voa-islam.com) - Para aktivis, khususnya para akhwat pasti mengenal sosok mujahidah Putri Munawaroh. Putri -sapaan akrabnya- yang masih muda belia itu menjadi saksi hidup detik-detik terakhir gugurnya para mujahid; Noordin M Top, Urwah, Aryo Sudarso  dan Adib (suami Putri Munawaroh), saat penyerangan Densus 88 pada hari Rabu (16/9/2009) dini hari di Kampung Kepohsari, Jebres, Mojosongo, Solo, Jawa Tengah.

Putri yang saat itu tengah hamil menderita luka-luka karena tembakan Densus 88 yang mengenai paha kirinya. Penderitaan Putri tak sampai disitu. Ia harus menjalani persidangan lantaran dituduh terlibat kasus terorisme membantu menyembunyikan Noordin M Top. Padahal saat itu ia sama sekali mengenalnya. Tugasnya sehari-sama seperti ibu rumah tangga lainnya seperti menyiapkan makanan untuk sang suami termasuk para tamu yang berkunjung ke rumahnya.

Kamis (29/7/2010) Pengadilan Negeri Jakarta Selatan menjatuhkan vonis zalim 3 tahun penjara untuk Putri Munawaroh. Menjalani masa tahanan, Putri Munawaroh harus melahirkan sang bayi di penjara yang diberi nama Muhammad Ahsanu Syuhada.

Akhirnya, hari Ahad (22/7/2012) menjadi hari yang istimewa bagi mujahidah asal Solo ini. Putri Munawaroh bisa menghirup udara bebas setelah menjalani vonis zalim 3 tahun penjara. Para ummahat yang sejak persidangan menemani Putri, turut menjemputnya di LP Wanita Kelas IIA Tangerang.

Usai dibebaskan Putri sempat menyampaikan testimoni di masjid Munawaroh, Perumahan Witanaharja, Pamulang. Lalu pada hari Selasa (24/7/2012) bersama para ummahat ia menyempatkan diri untuk bersilaturahmi ke sel Bareskrim Mabes Polri menemui ustadz Abu Bakar Ba’asyir.

Seperti biasa, ustadz Abu selalu menyampaikan taushiyah kepada para pembesuk. Namun, saat mengetahui jika ada Putri Munawaroh yang telah bebas dan membesuknya, ustadz Abu Bakar Ba’asyir kemudian menyampaikan pesan kepadanya.

Ia berpesan kepada Putri Munawaroh agar tetap istiqomah menegakkan tauhid sambil menyitir sebuah ayat Al Qur’an.   

“Supaya istiqamah dalam menegakkan tauhid, sebab ada ayat Allah:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu". (Q.S. Fushilat : 30). Orang yang istiqamah itu saat mati ia diberikan kabar gembira,” jelas ulama sepuh tersebut.

Ustadz Abu Bakar Ba’asyir sepertinya juga telah mengetahui jika Putri Munawaroh telah menikah kembali dengan seorang mujahid yang kini masih menjalani masa tahanan di sebuah LP di Jawa Timur. Ustadz Abu kemudian menanyakan apakah Putri sudah membesuknya? Putri pun menjawab belum.

Sambil berseloroh ustadz Abu berkata; “Mestinya sana dulu,” ujarnya disambut tawa para ummahat. Ia juga menitipkan salam kepada Putri Munawoh untuk suaminya. “Titip salam untuk suaminya,” kata ustadz Abu.

Waktu besuk pun usai, Putri bersama para ummahat lalu berpamitan. Keesokan harinya, Rabu (25/7/2012) Putri Munawaroh berangkat menuju Bandung untuk bersilaturahmi dengan mertuanya. [El Raid]


latestnews

View Full Version