View Full Version
Kamis, 02 Aug 2012

Ratusan Ribu Muslim Dibantai & Diperkosa, PBNU Kecam Jihad ke Myanmar

JAKARTA (voa-islam.com) – Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj mengecam jihad ke Myanmar sebagai tindakan yang keliru, meski ribuan Muslim di sana dipaksa murtad, dibantai, dipaksa makan babi, diperkosa dan dibakar hidup-hidup.

Ratusan ribu Muslim Rohingya di Arakan, Myanmar diperlakukan secara keji seperti binatang oleh makhluk kafir terkutuk. Mereka dipaksa murtad berpindah agama ke Budha, jika menolak maka mereka akan mendapat tindakan brutal: dibunuh, disiksa, dipaksa makan babi, diperkosa hingga dibakar hidup-hidup.

Umat Islam sedunia mengutuk pemerintah Myanmar yang faktanya ingin membersihkan Myanmar dari populasi Muslim. Mereka mengekspresikan keprihatinannya dengan berbagai macam cara, hingga resolusi jihad.

Menanggapi adanya gejala mobilisasi warga Indonesia ke Myanmar untuk berjihad, Said Aqil mengecam jihad ke Myanmar sebagai tindakan yang keliru. Menurutnya, umat Islam tak perlu jihad ke Myanmar, cukup mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk melindungi korban-korban kekerasan.

“Saya dengar ada saudara kita Muslim yang berangkat ke sana dengan jihad, menurut saya itu tidak tepat,” ujar Said di Kantor PBNU Jakarta, Rabu (1/8/2012).

Sikap kiyai yang dalam bukunya mati-matian menyamakan Tauhid Islam dengan Trinitas Kristen itu, bertolak belakang dengan ketegasan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir.

Dari balik sel Bareskrim Mabes Polri, amir Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) itu mengirimkan protes kepada Presiden Myanmar, Thein Sein. Dalam surat yang ditulis dalam tiga bahasa tertanggal 22 Juli 2012 itu, Ustadz Abu mengancam akan memerangi kafir Myanmar bila umat Islam Rohingnya diperangi.

“Kami tak ingin mendengar tangisan saudara-saudara muslim kami di buminya Alloh negeri kalian. Kami tidak ridha setetes darah pun tertumpah dari kaum muslimin. Bagi kami memerangi orang musyrik yang memerangi kami adalah amal mulia,” ancam Ustadz Abu sembari mengutip Al-Qur'an surat At-Taubah 36 dan 52. [taz/dbs]


latestnews

View Full Version