View Full Version
Senin, 06 Aug 2012

Indonesia : Dari Jenderal ke Jenderal Lagi?

Pendulun seperti tak bergeser jauh? Sekalipun pemilihan presiden masih dua tahun lagi, tetapi banyak yang sudah tidak dapat menahan syahwat kekuasaan, yang begitu menggelegak. Mereka yang ingin menjadi RI-1, mula sekarang sudah berlomba-lomba (prepare) melakukan akrobat politik. Bahkan, sudah ada yang melakukan pendekatan ke Amerika dan Singapura.

Benarkah pendulun kekuasaan di tahun 2014, hanya akan bergeser dari jenderal ke jenderal? Dari SBY kepada Prabowo Subianto? Rumor sudah beredar begitu keras, mulai dari rumor yang mengatakan Presiden SBY melakukan pertemuan dengan Ketua Dewan Partai Gerindra Prabowo Subianto di Istana Tampak Siring, Bali. Kemudian, diikuti rumor seakan-akan, sudah ada "deal" antara SBY dan Prabowo, bagi pemilihan presiden di tahun 2014 nanti.

Sekarang, menurut berbagai sumber yang ada, dua negara yang mempunyai kepentingan strategis terhadap Indonesia, yaitu Singapura dan Amerika Serikat, sedang menggalang opini internasional bahwa sosok yang paling tepat untuk menjadi pemimpin Indonesia adalah bekas menantu Soeharto, Presiden ke-2 RI itu. Mengapa Prabowo Subianto?

Belum lama ini, sebuah liputan tentang Prabowo Subianto oleh The Wall Street Journal yang berpusat di New York Amerika Serikat. Kemudian, sebelumnya, fihak Singapura, mengundang bekas Pangkostrad itu sebagai pembicara tunggal di Rajaratnam School of Strategic Studies, Singapura. Singapura ingin mendapatkan informasi dari "first hand", atau memastikan tentang kebijakan luar negeri, yang akan dijalankan oleh Prabowo Subianto, jika terpilih menjadi presiden Indonesia mendatang. Bagaimana sikapnnya terhadap Singapura?

Anak Prof. Sumitro Djojohadikusumo, yang pernah menjadi Menristek di awal Orde Baru, yang merupakan tokoh Partai Sosialis, dan ikut dalam PRRI, itu selalu dikaitkan sebagai sosok "nasionalis", yang menakutkan negara tetangganya, seperti Singapura. Prabowo yang menjadi Ketua HKTI, itu sering berbicara tentang petani, dan kehidupan petani. Karena itu, sosoknya yang belakangn ini, selalu menjadi sorotan, karena merupakan salah tokoh, yang sudah mendeklarasikan sebagai calon presiden Indonesia.

Kemudian, Singapura dan Amerika Serikat keduanya memiliki kepentingan yang sama, kepentingan strategis mereka, bagaimana mendapatkan pemimpin baru Indonesia, yang memiliki komitmen yang kuat, dan tidak mengganggu, dan bisa menjadi penjaga kepentingan kedua negara itu. Kepentingan kedua negara itu, Singapura dan Amerika Serikat, bukan hanya masalah politik, tetapi masalah ekonomi, dan Indonesia memiliki posisi yang sangat strategis di mata kedua negara itu.Tentu, Singapura dan Amerika Serikat menginginkan pemimpin yang dapat menjamin kepentingan mereka di masa depan.

Liputan tentang Prabowo oleh media Amerika Serikat maupun ceramahnya di Rajaratnam School, terjadi pada hari yang sama, pekan lalu. Seorang pengamat dan konsultan strategi bisnis di Jakarta, wawancara media Amerika itu dan peristiwa ceramah Prabowo, di Singapura dapat dikatakan  tidak berdiri sendiri.

The Wall Street Journal yang dikenal sebagai media rujukan para investor raksasa dunia dan pedagang pasar modal, juga menyiarkan wawancara Prabowo di jaringan TV-nya. Liputan itu lebih banyak mengklarifikasi atau membantah tudingan negatif tentang Prabowo.

Media itu mengawali laporannya dengan mengatakan, Prabowo di era pemerintahan Soeharto, merupakan seorang jenderal yang ditakuti. "Tapi sekarang Prabowo merupakan calon presiden Indonesia yang selalu berada di urutan terdepan," kata Eric Bellman wartawan The Wall Street Journal yang mewawancara Prabowo di rumah pribadi di kawasan Hambalang, Bogor.

Dengan perubahan ini, seorang konsultan di Harsono Consulting, yang tidak bersedia dikutip namanya, mencatat, peluang Prabowo menjadi Presiden RI pada Oktober 2014 sudah sangat besar. "Kalau media Amerika sudah mendukung seseorang, biasanya barang itu akan jadi", kelakarnya.

Disukai atau tidak, pengaruh Amerika Serikat berikut Singapura di Indonesia, diyakini relatif besar. Oleh sebab itu, Amerika dan Singapura sangat berkepentingan, sosok yang menjadi pemimpin di Indonesia harus seorang sahabat.

Amerika Serikat berkepentingan, karena Indonesia terletak di jalur strategis dunia. Itu sebabnya negara itu, tidak menghendaki pengaruhnya di Indonesia direbut atau digantikan kekuatan lain.

Sementara Singapura yang menjadi negara makmur, karena kepandaiannya memanfaatkan semua potensi di Indonesia, juga kurang lebih sama. Singapura ingin mendapat jaminan, pemimpin di Indonesia haruslah seorang yang tidak anti Singapura dan etnis Chinese. Mungkin Sipangura masih belum lupa, huru-hara Mei l998?

Memang, bagi Singapura hanya dapat eksis dengan jaminan pemimpin, yang benar-benar sangat dekat "friendly", dan tidak memusuhinya. Sampai sekarang perjanjian ekstradisi antara Singapura dan Indonesia belum terwujud, sejak tahun l974. Banyak maling dan penjahat serta koruptor yang lari ke Singapura, dan kemudian seperti ditelan bumi. Hilang.

Tetapi, sekarang sepertinya segalanya telah berubah, dan nampaknya Singapura ikut membantu persiapan seorang calon presiden yang diyakini memiliki visi dan dapat diajak berdiskusi. Dan syarat itu terdapat pada diri Prabowo Subianto. Maka forum di Rajaratnam School itu merupakan bagian dari persiapan ataupun agenda Singapura.

Persoalan yang cukup menarik adalah apa yang menyebabkan Amerika Serikat dan Singapura secara tiba-tiba mengubah sikap dan penilaian mereka kepada Prabowo. Sebellumnyai, Amerika Serikat tidak lagi memandang Prabowo sebagai jenderal yang telah  melakukan pelanggaran berat atas HAM. Atau Singapura tidak lagi menempatkan Prabowo sebagai sosok yang anti Chinese ?

Jawabannya dikembalikan kepada adigium yang menyebutkan bahwa dalam politik tidak ada lawan dan kawan yang abadi. Yang abadi hanyalah kepentingan. Selain itu, mesin pelobi Prabowo diyakini bekerja secara efektif belakangan ini.

Lobi dengan Amerika Serikat bisa jadi dilakukan lewat sekutunya di Timur Tengah, yakni Jordania. Raja Jordania Abdullah yang sama-sama pernah satu sekolah Akademi Militer di "Westh Point" Amerika Serikat, merupakan sahabat kental Prabowo. Pasca-kerusuhan Mei 1998 termasuk kejatuhan Presiden Soeharto, Prabowo kerap diberitakan lebih banyak tinggal di Aman, ibukota Jordania.

Jordania, sejak zaman Raja Husien, ayah Raja Abdullah merupakan sekutu dekat Israel dan Amerika Serikat. Raja Husien dan sekarang Raja Abdullah dikenal sebagai salah satu negara Arab yang punya hubungan diplomatik, dengan Israel. Sehingga,  Prabowo bisa mendapatkan dukungan pebisnis internasional dari komunitas Yahudi, melalui jalur Jordania.

Itu sebabnya keputusan editor The Wall Street Journal, media Amerika yang dikontrol masyarakat Yahudi untuk memprofilkan Prabowo menambah kuat spekulasi bahwa bekas Danjen Kopassus ini juga sudah lolos fit and proper test oleh kekuatan yang mendominasi dunia.

Lobi lainnya oleh Hasyim Djojohadikusumo, adik kandung Prabowo. Hasyim, pengusaha sukses yang berdomisili di London, Inggris diperkirakan memakskimalkan jaringan bisnisnya untuk kepentingan Prabowo.

Selain Hasyim dan Raja Jordania, sumber lain menyebutkan seorang pelobi dari Capitol Hill, Washington yang baru-baru ini berada di Jakarta menegaskan, sosok Prabowo sudah diterima oleh pelobi di Amerika Serikat.

Sementara lobi dengan Singapura boleh jadi dilakukan oleh ipar kandungnya, Dr. Sudradjad Djiwandono. Bekas Gubernur Bank Indonesia itu sudah hampir 10 tahun menjadi pengajar di universitas bergengsi di Singapura. Dengan status itu, Sudradjad dengan mudah bisa masuk ke lingkar terdalam dalam pemerintahan Singapura.

Spekulasi ini diyakini tidak meleset banyak, jika melihat forum akademi yang menampilkan Prabowo di Rajaratnam School. Dekan institut itu adalah Barry Desker, bekas Dubes Singapura untuk Indonesia awal 1990-an dan juga sahabat Sudradjad.

Dengan Pilkada DKI, dimana Prabowo sebagai pendiri Partai Gerindra mencalonkan Ahok selaku cawagub, langkah itu menjernihkan persoalan bahwa Prabowo bukanlah sosok yang anti Chinese, hal yang membuat Prabowo semakin disukai Singapura. Artinya, Prabowo bukan lagi sosok yang anti Cina.

Barry Desker pejabat Singapura yang mengundang Prabowo tampil di Rajaratnam School adalah tokoh spesialis negara tetangga itu tentang Indonesia. Dia ingin melihat Prabowo menjadi presiden di masa mendatang, dan bisa memberi jaminan kepada kepentingan Singapura.

Peserta ceramah Prabowo di Rajaratnam School, dinilai sebagai orang-orang yang menentukan kemana arah negara di Asia Tenggara. Sebagai investor saat ini mereka sedang risau dengan nasib investasi mereka di Indonesia. Menjelang Pilpres mereka harus memutuskan apakah akan tetap atau hengkang dari Indonesia.

Pernyataan Prabowo di forum itu kelihatannya cukup meyakinkan. Bahwa di bawah Prabowo, iklim investasi di Indonesia lebih baik. Dan hanya dalam waktu tiga hari setelah ceramahnya, Prabowo telah menjadi semacam magnit.

Dalam sebuah acara buka puasa yang digelar di Jagorawi, Sabtu malam 4 Agustus dalam rangka kejuaraan Polo antara Indonesia dan Argentina, Prabowo yang hadir di acara itu, langsung dikelilingi oleh para pebisnis.

Namun, semuanya masih akan ditentukan oleh hasil pemilu Legislatif 9 April 2014. Apakah Prabowo bisa langsung menjadi capres atau masih harus berkoalisi? Nampaknya, baru Prabowo satu-satunya kandidat yang sudah memperoleh dukungan internasional sebagai Presiden mendatang RI. Prabowo juga memiliki jaringan di lintas etnis dan agama.

Namun, Indonesia dibawah SBY, jenderal yang paling "top", dinilai pandai dan bergelar doktor, kenyataannya tidak dapat mewujudkan semua janjinya di masa kampanye. Dan sekarang  Indonesia terseok-seok. Sehingga,  bangsa Indonesia berada ditubir jurang, bahkan dikatakan sebagai negara gagal. Apalagi, Prabowo yang belum dikenal kemampuan dan reputasinya dalam mengelola negara, kecuali menjadi Danjen Kopassus dan Panglima Konstrad. af.


latestnews

View Full Version