View Full Version
Rabu, 17 Oct 2012

Sarana Kristenisasi dari Mulai Pemberian Air Bersih hingga Sendal

WONOGIRI (voa-islam.com) - Kontrobutor voa-islam.com bersama rombongan DDII Jawa Tengah berkesempatan berbincang-bincang bersama Arif dari UMS GB, Ashari Lurah Desa Pucung dan Hidayatno seputar pembuatan bendungan air Gua Suruh dan upaya kristenisasi oleh missionaris.

Dalam perbincangan itu, pak Arif mengungkapkan bahwa pada hari Sabtu pagi (6/10/2012) pada saat tim KMPA Fakultas Geografi UMS GB yang dibantu warga mengecor bendungan air didalam gua, Pak Polo yang waktu itu juga hadir didepan mulut gua ditelepon istrinya kalau ada tamu orang-orang Kristen dari Gereja Bethel Indonesia (GBI) kecamatan Grogol kabupaten Sukaharjo. Maka, Pak Polo pun pamit kepada Pak Arif untuk pulang sejenak.

Inti dari pertemuan itu kata Pak Arif sebagaimana penuturan Pak Polo adalah, pihak GBI Grogol hendak menawari bantuan air yang dikirim setiap sehari sekali yakni satu tangki kepada warga desa Pucung sebagaimana desa-desa lain yang sudah dibantu oleh GBI Grogol, tapi dengan syarat-syarat yang kata Pak Arif sudah menyangkut masalah keyakinan (agama). 

Kemudian temuan kami yang kedua dalam upaya kristenisasi missionaris yang didukung oleh GBI Grogol kecamatan Eromoko adalah diajaknya sekitar 120 orang warga Eromoko oleh Ipon (missionaris yang ada di Eromoko) ke gereja di Eromoko yang bersebelahan dengan pasar Eromoko tersebut.

“Kurang lebih 3 hari yang lalu (sebelum tanggal 14/10/2012-red) saya mendengar kabar bahwa ada 3 bis yang mengangkut warga Eromoko dan dibawa digereja sebelah pasar (Eromoko-red). Disitu, warga diberi supermi dan air. Rencanya, 3 bis yang mengangkut warga itu akan diajak ke Jogja, tapi saat itu kemudian pengurus Muhammadiyah sini (Eromoko-red) ada yang mengetahuinya kemudian mereka tidak jadi dibawa ke Jogja”, beber Mas Dana.

Mas Dana yang juga masih kuliah disalah satu Universitas di Solo ini lalu melanjutkan ceritanya bahwa setelah peristiwa itu, pada pagi harinya Pengurus Cabang Muhammadiyah (PCM) Eromoko bertemu dengan Pak Polo mengabarkan kejadian tersebut. Dalam rapat tersebut disepakati PCM Muhammadiyah dan pihak dsea Pucung akan mengusir Ipon dari desa Pucung. Tapi sebelum PCM Muhammadiyah beserta pihak desa Pucung mengusir Ipon sang missionaris, dia sudah hilang tak tau kemana. Bahkan sampai hari Minggu (14/10/2012) dia juga tidak diketahui keberadaannya.

Dan temuan terakhir adalah adanya pembagian sandal bermotif salib kepada warga desa Pucung oleh pihak gereja. Bahkan yang sangat ironi, pembagian sandal tersebut dan kami temui juga ada dilingkungan masjid di desa Pucung. Hal ini tidaklah mengherankan karena menurut Mas Dana, warga disini memang kurang sekali pemahaman agamanya.

Temuan itu bermula ketika kami hendak melaksanakan sholat magrib. Karena kami dari rumah memakai sepatu olahraga, maka kami pergi kemasjid dengan berjalan kaki bersama dengan Mas Dana. Sesampainya dimasjid kami mau pinjam sandal warga, tapi kami terkejut karena warga menyodorkan sandal jepit yang ada motif salibnya.

Setelah kami tanya, “ibu-ibu yang ada depan masjid dapat sandal itu dari mana?” dia lalu menjawab, “ini dapat dari pak pengurus masjid mas”, kata ibu tadi. Terus kami tanya kembali, “Lha bapak takmi masjid itu dapat dari mana bu?” ibu itu menjawab lagi, “ini dapat dari bapak-bapak yang tadi malam ngirim air pakai tangki itu mas”. Lalu kami tanya kembali, “berarti sandal yang seperti ini tidak ibu saja yang memiliki?” ibu itu pun menjawab, “ya ndak lah mas, warga disini juga banyak yang punya sandal kayak gini”.

Setelah selesai sholat, kami pun berkeliling desa sebentar, dan ternyata memang benar apa yang disampaikan oleh ibu yang rumahnya depan masjid itu. Sandal bermotif salib itu bisa kami temui didepan rumah-rumah warga. Jadi kami waktu itu bisa simpulkan bahwa modus yang dipakai missionaris utnuk melancarkan aksinya yaitu membagikan air plus sandal bermotif salib. [Bekti/VOA]


latestnews

View Full Version