View Full Version
Selasa, 12 Feb 2013

Syarifin Maloko: 2014 Nanti, Kemana FPI Akan Gunakan Hak Pilihnya?

JAKARTA (voa-islam.com) -  Ketika Muhammad  Natsir tidak lagi di Partai Masyumi, lalu mendirikan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), namun menjelakan Pemilu 1977, beliau menggunakan hak pilihnya untuk memilih Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Alhasil, PPP menang di Jakarta.

“Namun, DDII sekarang berbeda dengan yang dulu, ketika M. Natsir memimpin. DDII yang sekarang, ada partai PKS, PBB, PAN, PPP, partainya gado-gado alias tidak satu suara,” demikian dicemaskan tokoh Partai Bulan Bintang Syarifin Maloko dalam bedah buku “Wawasan Kebangsaan Menuju NKRI Bersyariah” (karya Ketua Umum FPI Habib Rizie Syihab) di Masjid Baiturrahman, Jl. Saharjo, Menteng Atas, Jakarta, Ahad (10/2) lalu.

Syarifin Maloko pernah bertanya pada Ketua Umum DDII Ustadz Syuhada Bahri agar meniru apa yang pernah diucapkan Muhammad Natsir ketika itu, yakni seruan untuk memilih partai Islam. Syuhada Bahri lalu menjawab, tidak bisa. DDII sekarang berbeda dengan yang dulu.

Masih terkait hal itu, Syarifin Maloko juga mempertanyakan Habib Rizieq Syihab, bisa kah berkata seperti yang diucapkan Muhammad Nasir pada tahun 1977?

Lantas, 2014 nanti, kemana FPI akan menggunakan hak pilihnya? Tanya Syarifin Maloko.  “FPI tentu akan memilih partai Islam. Tapi partai Islam yang mana? Partai seperti PAN, PKB, PKS, dan PPP disebut sebagai partai Islam. Tapi, hendaknya perlu didefinisikan kembali apa itu partai Islam? Jika sudah didefiniskan, selanjutnya adalah partai apa umat Islam akan didorong untuk menggunakan hak politiknya dalam pemilu 2014. Inilah yang belum terjawab,” ujar Syarifin.

Dalam Munas FPI ke-II 2 tahun  2008, FPI sempat menggulirkan wacana, soal kemungkinan FPI boleh mendirikan partai politik, mengingat jamaahnya cukup banyak.

“Sangat disayangkan, jika menjadi golput, sehingga suara umat Islam menjadi stag. Menjadi golput , itulah sebenarnya yang diinginkan orang sekuler dan non muslim. Ketika suara umat Islam terpecah dan golput, maka dimanfaatkan oleh mereka untuk meraih kemenangan. Sebagai contoh, dengan kemenangan Jokowi sebagai Gubernur DKI, dimana suara umat Islam terpecah dan golput,” jelas Syarifin.

Syarifin Maloko teringat ketika ia dipenjara di Cipinang. Selama di penjara ia sekamar dengan orang PKI. Selama bergaul dengan orang PKI, ia mendapat kesan, bahwa mereka memang cerdas, militansinya luar biasa.

“Tapi banyak orang Islam yang berpolitik, namun awam dengan politik. Bila orang PKI bangga dirinya sebagai PKI, bahkan ingin matinya sebagai atheis, sedangkan orang Islam suka gonta-ganti partai.  Yang saya kenal, tidak ada orang PKI yang kapok dalam memperjuangkan ideology komunisnya, apalagi yang menjadi kutu loncat,” ungkap Syarifin.

Syarifin mengingatkan, berpolitik itu harus menjadi nilai ibadah. Berpolitik lalu sampai meninggalkan ibadah dan agama, maka sama dengan paham kebangsaan. Ia setuju dengan ungkapan Habib Rizieqw Syihab, sebelum melakukan revolusi angkat senkata, maka harus dimulai dengan revolusi pemikiran,  silaturahim, dakwah dan pendidikan.

Hadir sebagai pembicara dalam bedah buku tersebut, yakni: Habib Muhsin Alatas, KH. Muhammad al-Khaththath, dan Syarifin Maloko. Habib Rizie Syihab hadir untuk memberi kata sambutan. [desastian]


latestnews

View Full Version